Jurus Andreas Audyanto Pasarkan ‘Hunian Premium’ The Sanctuary Collection

Andreas Audyanto Chief Operating Officer (COO) PT Cipta Harmoni Lestari (foto: dok.RealEstatID)

Jam terbang Andreas Audyanto di bisnis properti tidak diragukan lagi. Audy begitu sapaannya, mantan eksekutif Sinarmas Land, kini dipercaya mengembangkan proyek properti Harita Group, perusahaan konglomerasi yang dimiliki dan dikendalikan oleh keluarga Taipan Lim Hariyanto Wijaya Sarwono.

Melalui salah satu anak usaha Harita Group, yaitu PT Cipta Harmoni Lestari, bersama mitranya asal Singapura (Perennial Real Estate Holdings Limited dan CNQC) sedang mempersiapkan proyek properti bergengsi yaitu The Sanctuary Collection, di Sentul Selatan Bogor. Rencananya, The Sanctuary Collection dibangun di atas lahan seluas 25 hektar. Selain rumah tapak juga akan dibangun hunian vertical. 

Tugas Audy dalam situasi pandemi Covid-19 tidaklah ringan. Apalagi dengan jabatan sebagai Chief Operating Officer (COO) The Sanctuary Collection, ia harus berpikir keras untuk memasarkan hunian premium ini. Mengingat harga rumah tapak dua lantai ditawarkan mulai Rp1,9 miliar (luas tanah 91 m2 dan luas bangunan 125 m2) dan harga Rp 3,8 miliar (luas tanah 150 m2dan luas bangunan 225 m2).

Untuk menyikapi kondisi seperti sekarang diakui Audy, calon pembeli saat ini hanya membeli rumah dengan progres yang jelas. Sebagai pengembang, ia harus bisa memberikan kepastian jadwal penyelesaian dan serah terima kepada konsumen. 

Selain itu, kerja sama dengan bank dalam menyalurkan kredit pemilikan rumah (KPR) juga sangat menentukan, bank tidak akan sembarangan memilih pengembang yang memiliki proyek prospektif dan dinilai layak saja yang akan digandeng. Diakuinya, kerja sama dengan perbankan mutlak dilaksanakan selama pandemi untuk meringankan beban masyarakat yang akan membeli rumah dengan menggunakan fasilitas KPR dan biasanya di dalamnya ada keringanan-keringanan yang diberikan pihak bank.

Lebih lanjut, menurut Audy, dari lokasi dan konsep yang ditawarkan yaitu, hunian tanpa renovasi. Artinya, konsumen tinggal menempati saja setelah bangunan selesai nantinya. mengingat mayoritas konsumen kalau membeli rumah pasti masih mengalokasikan dana tambahan untuk renovasi. “Apalagi dalam kondisi sulit seperti sekarang ini, sebaiknya konsumen jangan dibebankan dengan biaya-biaya lagi,” tegasnya.

Hal inilah yang membuat The Sanctuary Collection fase 1 sebanyak 74 unit ludes terjual, meskipun harganya cukup fantastis, mulai dari Rp 1,9 miliar-Rp 3,9 miliar akhirJuli lalu. Melihat animo konsumen  terhadap The Sanctuary Collection begitu besar, awal Oktober ini, ia mulai memasarkan The Sanctuary Collection, Sentul fase 2 yang hanya berjumlah 90 unit. Harganya,   mulai dari Rp 2 miliar-Rp 4,8 miliar. 

Audy optimis The Sanctuary Collection fase 2 semakin diminati konsumen, mengingat memiliki unique value dan propositionnya jelas. Pemilihan lokasi dan penetapan konsep yang matang serta target market yang jelas.

Diakui Audy untuk memasarkan The Sanctuary Collection, timnya mempersiapkan dengan sangat hati-hati bersama international konsultan, karena targetnya ingin memberikan sebuah hi value product yang untuk niche audienceyang punya duit dan mau spend terutama end user yg butuh atau end user investor yang ingin investasi nya dapat dinikmati bersama disaat kondisi new normal ini. “Kami targetkan akhir tahun ini fase 2 akan ludes terjual, dan serah terima fase 1 dan 2 ditargetkan 2 tahun mendatang,” pungkas Audy.

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)