Rahasia Sukses Triniti Dinamik, Kembangkan The Springwood Residence dan The Smith Office SOHO Residence

Samuel Stephanus Huang Direktur Utama PT Triniti Dinamik (kanan)

Di tengah melambatnya bisnis properti di Indonesia belakanfan ini, PT Triniti Dinamik dapat eksis di tengah situasi bisnis properti yang kurang baik, pasalnya kedua proyek besutannya yaitu The Springwood Residence dan The Smith Office SOHO Residence
dapat terbangun dan terjual.

Direktur Utama PT Triniti Dinamik, Samuel Stephanus Huang, mengungkapkan, ada tiga rahasia sukses Triniti Dinamik dalam pengembangan proyek residensialnya yaitu konsep pengembangan yang tepat dan jelas, lokasi yang strategis dan harga terjangkau.

Ia mencontohkan, The Springwood Residence dari awal dirancang sebagai residensial yang membidik segmen mid-end. Harga jual yang ditawarkan mulai Rp 300 jutaan per unit di awal pemasaran, namun dibangun dengan nuansa kemewahan. "Di Springwood itu lobinya tidak kalah mewah dengan hotel bintang lima. Itu sejalan dengan konsep awalnya yaitu affordable luxury atau kemewahan yang terjangkau,” kata Samuel disela-sela meraih tiga penghargaan sekaligus pada Indonesia Property Awards 2019 dari PropertyGuru Indonesia di Ballroom The Ritz-Carlton Pacific Place.

Apalagi lobi utama Springwood menggunakan marmer dari Fagetti, lift apartemen dari Mitsubishi, semua peralatan gym menggunakan merk Fitness First, frame jendela dan kaca menggunakan YKK AP dari Jepang dan seluruh kaca di unit apartemen menggunakan kaca eurogray sehingga lebih teduh. Sementara pengelola gedung diserahkan kepada Jones Lang LaSalle (JLL).
 
Total unit di Springwood sebanyak 1.400 unit dalam enam bulan, sudah terjual habis. Springwood berada di lokasi strategis, yakni hanya berjarak 1,3 kilometer dari Kampus Binus di Alam Sutera.

Selain itu, The Smith yang berlokasi di CBD Alam Sutera, disebutkan mengusung tiga faktor utama yang mendorong sukses pengembangannya yaitu konsep jelas, lokasi strategis serta harga yang terjangkau dan kompetitif.
 

Menanggapi situasi pasar residensial terutama di segmen menengah atas (medium-up), menurut Samuel, saat ini pasokan di segmen tersebut lebih besar dibandingkan permintaan. Di sisi lain, konsumen memilih wait and see dulu atau bagi yang masih berminat investasi cenderung lebih berhati-hati dan selektif dalam memilih properti yang akan dibeli.
 
“Sebenarnya bukan tidak terserap atau daya beli yang menurun, tetapi kecenderungan konsumen di segmen medium-up itu sekarang wait and see. Jadi bukan karena masyarakat tidak ada uang, tapi mereka lebih selektif. Oleh sebab itu, sebagai developer kita mesti kembangkan konsep yang kreatif, inovatif dan kompetitif,” tegasnya.
 
Samuel berharap pasca Pilpres Indonesia akan memasuki babak baru dimana politik dan ekonomi lebih stabil, sehingga di akhir tahun ini atau awal tahun depan pasar properti akan kembali naik. Apalagi situasi slow down sudah berlangsung cukup lama sejak 2014.

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)