Rumah Kecil di Cipulir Harumkan Nama Delution

Total dana yang dibutuhkan dalam pembangunan rumah ini sebesar Rp400 juta

Delution kembali mengharumkan dunia arsitektur Indonesia di kancah global dengan menembus nominasi penghargaan arsitektur internasional, Architizer Awards. Acara ini diselenggarakan oleh media arsitektur berbasis di New York, Amerika Serikat, Architizer. Salah satu karya kantor arsitektur berbasis di Jakarta ini, berhasil masuk menjadi finalis lima besar bersama dengan karya arsitek dunia lainnya dalam kategori Architecture + Living Small.

Karya Delution yang meraih penghargaan ini adalah The Twins, rumah yang memiliki luas lahan 70 meter persegi dan luas bangunan 73 meter persegi. Muhammad Egha, CEO Delution menjelaskan, The Twins merupakan contoh nyata dari penerapan konsep rumah sehat, efisien dan realistis di salah satu kota terpadat di dunia yaitu Jakarta. “Lokasinya yang berada di gang sempit, area perkampungan kota yang cenderung terabaikan dan tersisihkan dari modernisasi Ibu Kota, The Twins menerapkan konsep yang realistis untuk membangun sebuah rumah impian berskala kecil-padat di lingkungan ekonomi bawah,” ujar Egha.

Untuk memenangkan penghargaan dunia ini, The Twins membutuhkan dukungan masyarakat dengan voting melalui website hingga 31 Juli 2020. “Melalui akun Instagram Delution Architecture juga menjelaskan mengenai cara mendukung The Twins,” papar Egha. The Twins yang berlokasi di Cipulir, Jakarta Selatan itu sendiri didesain Delution pada 2018. Walaupun memiliki luas tanah yang compact, rumah ini didesain dengan menyeimbangkan elemen fungsi dan estetikanya. Gaya arsitektur dengan dua massa bangunan yang terpisah untuk menjawab kebutuhan penghuni rumah yang merupakan dua keluarga dari sepasang kakak beradik. Rumah yang selesai dibangun pada tahun 2019 ini merupakan salah satu karya Delution yang menjawab permasalahan luas tanah kecil. Sejak diperkenalkan di sosial media, The Twins mendapatkan perhatian yang tinggi dan menjadi inspirasi warganet. Karya ini memang dirancang dengan skema rumah tumbuh yang selesai dalam tiga tahapan. Tahapan pembangunan dilakukan menyesuaikan ketersediaan dana dari sang pemilik rumah.

Total dana yang dibutuhkan dalam pembangunan rumah ini sebesar Rp400 juta, setiap tahapnya memakan biaya antara Rp50-200 juta. Rumah ini juga didesain dengan metode konstruksi konvensional yang dapat dibangun secara mandiri dengan material lokal yang sangat mudah ditemukan. “Kami berharap rumah ini dapat menjadi sebuah percontohan yang akan menjadi stimulus bagi kemajuan wajah serta kualitas hidup perkampungan kota yang semula terabaikan,” jelas Egha.

Architizer memiliki misi untuk lebih memberdayakan arsitek melalui media yang secara konsisten menginspirasi dan menghadirkan program awards untuk arsitektur dunia. Tahun ini terdapat 430 karya finalis dari lebih dari 100 kategori.

www.swa.co.id

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)