Skandinavia Memikat Investor dengan Buyback & Rental Guarantee

Norman Eka Saputra, Vice President Director Skandinavia Apartment (Foto: Ist)

Resesi ekonomi adalah periode saat terjadi penurunan roda perekonomian yang menjadi penanda lemahnya produk domestik bruto (PDB) selama dua kuartal berturut-turut. Resesi juga ditandai dengan kenaikan tingkat pengangguran, penurunan penjualan ritel dan terjadinya kontraksi di pendapatan manufaktur untuk periode yang panjang. Dengan kata lain, resesi adalah pelambatan dalam kegiatan ekonomi.

Sebentara lagi, kita memasuki tahun 2023. Perekonomian dunia tahun depan dibayangi oleh ketidakpastian dan diprediksi akan memasuki jurang resesi. Resesi dipengaruhi oleh beragam faktor, antara lain pandemi Covid-19 di mana banyak negara yang memberlakukan lock down sehingga berpengaruh langsung dalam berhentinya perputaran uang dan roda perekonomian, inflasi yang tinggi akibat peredaran uang yang terlalu banyak hasil kebijakan ‘uang gratis’ membuat naiknya harga barang.

Hadirnya kebijakan ‘Tight Money Policy’ dalam rangka mengurangi jumlah uang yang beredar dengan menaikkan suku bunga bank, membuat bunga pinjaman dan suku bunga naik dan high risk asset tidak lagi menarik, membuat dunia usaha menempatkan uangnya pada instrument low risk asset yang menyebabkan banyaknya PHK dan pengurangan karyawan secara massal.

Tak hanya itu, Perang Russia – Ukraina juga menjadi dampak utama resesi, ini dikarenakan Rusia yang merupakan pom bensin dunia, sumber minyak dan gas, akibat perang yang terjadi maka pasokan energi ke seluruh dunia menjadi terganggu. Selain krisis energi, krisis pangan juga terjadi akibat Ukraina yang merupakan negara penghasil gandum terbesar di dunia, tidak dapat lagi mengirimkan produk gandumnya.

Kendati demikian, Menteri Keuangan RI Sri Mulyani Indrawati mengungkapkan ada negara-negara yang terbilang cukup baik ekonominya dan kuat dari guncangan resesi mendatang. Indonesia, menurutnya, merupakan salah satunya. Pasalnya, Indonesia sendiri telah berdamai dengan Covid-19 dan kembali bertumbuh perekonomiannya sejak Kuartal II 2020. Pertumbuhan ekomoni Indonesia tercatat di angka 5,44% dan tingkat inflasi masih terkendali di 5,9%. Selain itu suku bunga bank di Indonesia relatif terjaga baik. Bank Indonesia (BI) kembali menaikkan suku bunga acuan pada Oktober 2022 menjadi 4,75% yang turut berpengaruh pada bunga Kredit Pemilikan Rumah (KPR) perbankan.

Pada sektor properti sendiri, setiap terjadinya siklus energi booming, maka akan diikuti oleh properti booming. Misalnya pada 2003, pasar properti terus melonjak sejak krisis ekonomi 1998. Begitu juga pada 2012, properti malah melonjak setelah krisis dunia pada 2008 dikarenakan harga komoditas yang naik 2x lipat, diikuti harga properti yang semakin meroket dikarenakan permintaan pasar tinggi dengan supply yang rendah serta tingginya likuiditas masyarakat.

Pada 2023, properti booming dapat kembali terjadi dikarenakan harga komoditas bisa naik hingga 4x lipat yang disertai melonjaknya harga konstruksi yang menyebabkan supply properti menurun, namun demand akan tetap tinggi akibat suku bunga bank yang rendah.  Belum lagi dengan kepemilikan properti bagi WNA semakin dimudahkan dan harga tanah yang cenderung stabil, properti akan makin jadi incaran bagi mereka yang ingin berinvestasi secara aman.

Pada apartemen, meningkatnya permintaan terhadap hunian bertingkat ini juga meningkat didasari dengan motivasi investasi, harga yang stagnan dan cenderung turun dalam 1 tahun terakhir justru menjadikannya menarik untuk instrument investasi, terutama pada pasar sewa harian dan bulanan. “Kami melihat ini merupakan momentum yang tepat untuk menggaet pasar yang tertarik untuk aman berinvestasi dengan memberikan promo menarik yakni buyback & rental guarantee”, jelas Norman Eka Saputra, Vice President Director Skandinavia Apartment  pada Open House  di Tangerang, pekan ini.

Eka mengklaim, investasi properti di Skandinavia merupakan solusi cerdas untuk berinvestasi aman dan mensiasati resesi tahun 2023 mendatang. Buyback guarantee akan meminimalisir risiko kerugian pembeli karena pengembang memberikan jaminan investasi dengan pengembalian uang dan jaminan nilai sewa 5% per tahun.

Pages: 1 2

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)