Terobosan Ferry Lukas dan Charles Kwok Orbitkan Co-Living

Ferry Lukas, founder dan Chief Operating Officer HI
Ferry Lukas, founder dan Chief Operating Officer PT Hoppor International (HI)

Ajis (28 tahun), pegawai swasta di bidang garmen, mengaku nyaman tinggal di Kamar Keluarga, di kawasan Tangerang, Banten. Bagi pria ini, kos-kosan yang sudah ditempati lebih dari satu tahun itu selain menawarkan lokasi strategis (dekat dengan stasiun kereta), bersih, Wi-Fi-nya bagus, ada fasilitas air hangat, dan airnya dari sumur langsung sehingga tidak asin, juga memiliki admin yang kooperatif. Ketika penghuni kos mempunyai keluhan, admin langsung menangani masalahnya.

Tak hanya itu, sesama penghuni Kamar Keluarga juga bisa saling kenal karena pengelolanya selalu mengadakan gathering. “Kami bisa berinteraksi dengan semua penghuni kos. Di acara gathering tersebut, bisa saling ngobrol, ada games, dan kuis. Biasanya dilakukan setiap satu bulan sekali,” kata Ajis menceritakan.

Kamar Kaluarga dengan konsep co-living ini dibangun dan dikelola oleh PT Hoppor International (HI). Saat ini, HI memiliki sekitar 1.400 kamar yang sudah beroperasi di Jakarta, Bogor, Bandung, dan Tangerang. “Kami memiliki jaringan ribuan kamar dan tidak banyak pemain yang mengusung konsep co-living,” kata Ferry Lukas, founder dan Chief Operating Officer HI.

Kamar Keluarga juga mengusung konsep yang memungkinkan konsumen dapat berpindah kamar ke daerah lain di semua properti Kamar Keluarga milik HI, dengan tetap membayar pada harga yang sama dan mereka tidak kehilangan suasana lingkungan itu. Penghuni pun jadi lebih mudah beradaptasi. “Satu Indonesia kami ikat dengan satu harga. Itulah salah satu keunikan kami dibandingkan pemain lain,” kata Ferry.

HI juga memiliki tim yang solid. Hampir setiap hari ada anggota timnya yang berkeliling ke semua lokasi untuk mengurusi properti, seperti mengurus cat dan air. “Itu tim yang sangat penting untuk kami. Kalau kami bisa bangun, namun tidak bisa merawatnya, akan useless juga,” kata Ferry. Pasalnya, banyak sekali properti lain yang sudah rusak karena tidak dijaga dan dirawat. “Di Kamar Keluarga, kami berusaha merawat itu,” ia menegaskan.

Penghuni Kamar Keluarga rata-rata orang yang memiliki mobilitas tinggi dengan rentang usia 18-35 tahun atau usia produktif, seperti karyawan dan anak kampus. Ada pula penghuni yang mendapat tugas training di banyak tempat. Kadang juga ada penghuni yang menggunakan Kamar Keluarga sebagai tempat singgah liburan.

Sistem sewanya paling banyak sistem bulanan dibandingkan harian. Sebanyak 70% bulanan dan 30-40% harian. Adapun tingkat okupansinya rata-rata 60-70%, tergantung pada season-nya. Namun kalau sedang ramai seperti masa liburan, tingkat okupansinya bisa mencapai 80%.

Menurut Ferry, konsep co-living akan selalu ada dan saat ini sedang tren. Permintaannya tidak akan pernah habis. Apalagi, ditambah industri pariwisata yang lagi ramai. Kadang yang menggunakan Kamar Keluarga adalah mereka yang sedang berlibur, karena lebih murah dibandingkan penginapan lain. “Di Jakarta, ketersediaan tempat hunian yang luas itu jarang karena kami membutuhkan lahan yang luas untuk tempat berkumpul. Selain itu, untuk menciptakan hunian yang bisa membuat enjoy itu tidak mudah, harus ada investasi yang besar,” katanya.

Berapa modal yang diinvestasikan dan dari mana? “Tidak bisa kami share (nilainya). Tapi, ada dana dari hasil patungan dengan mitra atau dari tabungan yang kami investasikan menjadi kos-kosan,” kata Ferry. Kemudian, ada juga beberapa porperti milik teman atau mitranya. “Jadi, ada beberapa properti yang milik saya sendiri dan ada beberapa yang milik orang lain, namun kami kelola dengan sistem bagi hasil,” katanya menjelaskan sistem bisnisnya.

Dalam hal ini, HI menggandeng investor, yaitu pemilik lahan yang sulit dijual atau rumah warisan/rumah tua, yang bisa diubah oleh Kamar Keluarga dengan skema kerjasama yang baik agar menghasilkan passive income. Sistem kerjasamanya dengan pola BOT (build operate transfer) atau sistem bagi hasil bagi pemilik lahan atau bangunan. Nantinya, mereka akan mendapat uang sewa jangka panjang, selama 10-25 tahun, tergantung pada besarnya dana yang dikeluarkan HI, seperti untuk renovasi bangunan. Setelah masa akhir kerjasama, bangunan akan menjadi milik mitra, terserah mereka mau perpanjang atau tidak.

Ferry menerangkan awal membangun bisnis Kamar Keluarga ini. Ia merasa orang-orang yang merantau dari daerah lain ke kota besar seperti Jakarta kebingungan ketika harus mencari tempat tinggal, komunitas, dan lingkungan baru. “Itu yang menjadi acuan kami untuk membuat co-living ini. Akhirnya, kami mulai dari bisnis kos-kosan,” ungkapnya.

Secara perusahaan, Ferry mulai berbisnis co-living ini pada 2018, tetapi sebenarnya ia bermain properti sejak 2011. “Saya dan Charles Kwok (Dirut HI) berbisnis properti ketika properti sedang slow down di 2016. Kami menyulap properti tersebut menjadi kos-kosan,” katanya. Pihaknya mulai membuat konsep co-living Kamar Keluarga ini, yaitu “Bring Your Home”, dengan harapan penghuninya bisa enjoy seperti tinggal di rumah, karena dekorasinya yang friendly dan menggunakan konsep minimalis tetapi efisien.

Selain itu, pihaknya sering mengadakan pertemuan sesama penghuni. Bahkan, pihaknya juga sering mengadakan kuis, undian, dll. “Itulah konsep co-living kami yang membangun satu komunitas agar penghuni saling kenal,” katanya.

Untuk pemasaran Kamar Keluarga, pihaknya menggunakan media sosial, endorsement, dan kadang memakai platfrom pemasaran kamar, seperti Agoda, Traveloka, dan Airy.

Mengenai rencana pengembangan bisnis ke depan, HI akan mulai menjangkau kota-kota besar lainnya: Yogyakarta, Solo, dll. “Saya rasa market Jakarta sudah cukup banyak, harga tanahnya juga sudah cukup tinggi sehingga harus bersaing dengan beberapa developer. Tapi kalau di Yogyakarta, Solo, kami masih bisa dengan kapasitas kami. Makanya, inginnya ekspansi ke sana,” ungkap Ferry.

Pihaknya juga ingin membangun Kamar Keluarga di daerah wisata seperti Makassar, Labuan Bajo, dan Bali. “Target kami, lima tahun ke depan, akan menjangkau sembilan kota besar, antara lain Makassar, Solo, Yogyakarta, dan Surabaya,” katanya.

Pengembangan lainnya, pihaknya akan membuat aplikasi (apps) untuk membangun ekosistem para penghuni Kamar Keluarga, sehingga nantinya di antara mereka bisa saling terkoneksi dan berinteraksi. Ke depan, pihaknya juga berencana membuat pertemuan seluruh penghuni Kamar Keluarga. Pasalnya, di setiap daerah penghuninya memiliki perilaku yang berbeda-beda. Misalnya, di Tangerang, penghuni Kamar Keluarga pulang kerjanya lebih sore. Namun di Jakarta, banyak yang lembur kerja dan pulangnya malam.

Kamar Keluarga pun memiliki maskot bernama Minka, sebagai adminnya. “Maskot ini yang menjembatani antara penghuni kos. Biasanya maskot ini yang akan menginfokan waktu gathering dan memberikan informasi di media sosial,” kata Ferry. (*)

Dede Suryadi dan Anastasia A.S.; Riset: Armiadi Murdiansah

www.swa.co.id

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)