Tiga Langkah Crown Hadapi Krisis Pandemi COVID-19

Iwan Sunito CEO Crown Group saat virtual konferensi pers (21/04/2020) menjelaskan strateginya menghadapi krisis akibat COVID-19

Iwan Sunito, CEO dan Pendiri Grup Crown, mengaku, bisnisnya mengalami dampak krisis akibat pandemi COVID-19. Dalam sebuah virtual konferensi pers hari ini, pria yang berhasil membangun kerajaan bisnis properti di Australia tersebut mengambil tiga langkah penting agar bisnisnya selamat melawati masa sulit ini.

“Accept, adjust and accelerate harus kami lakukan, karena kondisi bisnis berubah akibat pandemi ini. Di Australia pun dampaknya sama dengan Indonesia, perusahaan banyak yang ditutup, masa berat, tapi industri konstruksi atau kantor kami masih buka, hanya saja diatur jadwal kerjanya bergantian yang work from home dan di kantor. Kami pun melakukan banyak adjustment di proses dan sistem, agar kerja lebih cepat,” terang pria yang lahir di Pangkalan Bun Kalimantan ini.

Ia menyebut penjualan properti Crown bulan Februari-Maret justru tinggi sekali. Menurutnya ada beberapa faktor yang memengaruhi, pertama karena dolar Australia melemah, sehingga banyak yang mau membeli properti. Selain itu ternyata banyak warga negara asing di Australia, terjebak di sana, tidak bisa pulang ke negaranya, sekalian membeli properti di sana.

“Kalau tidak salah kami menjual senilai 20 juta dolar Australia di bulan Februari dan 23 juta dolar di bulan Maret,” ungkapnya. Jadi walau trafik orang datang ke display propertinya berkurang drastis, justru penjualannya mencatat record. Terutama properti yang mahal-mahal harganya 4-7 juta dolar Australia. Iwan melihat pembeli properti Crown secara finansial belakangan sangat kuat.

Untuk bisnis hotelnya, Iwan tidak berdiam dia, strategi baru pun digarap menjawab kondisi saat ini. Crown menawarkan program long term stay di hotel hingga 3 bulan ke atas bagi tamu-tamunya. Apa alasannya? “Kami menangkap peluang yang lelah bekerja di rumah, karena konsep hotel-hotel kami seperti apartemen, ada fresh air dan dapur lengkap, mereka bisa nyaman bekerja di hotel kami,” imbuhnya.

Itulah mengapa dalam salah satu langkah strateginya, Crown adalah akselerasi, ketika hotel-hotel lain tutup, justru dia membuka hotel barunya yang ketiga Skye Suites di Green Square. “Banyak yang bertanya-tanya langkah kami ini, saat yang lain tutup, karena kami pikir, Crown ingin sustain dalam jangka panjang. Ada waktu bagus dan tidak bagus. Staf kami kan tetap butuh pekerjaan, ada keluarga juga yang harus tetap dibiayai,” tuturnya.

Ia mengenang proyek properti pertamanya bersama Paul Sathio, partnernya dalam mendirikan Crown itu dibangun saat krisis juga pada 1998, saat krisis moneter Asia. “Nyatanya kami do well saat itu. Kami pun yakin saat krisis ini masih ada peluang, nyatanya benar, banyak sekali warga luar Australia yang merasa lebih nyaman di sini melihat fasilitas kesehatan lebih baik dibanding negaranya di tengah pandemi ini. Inilah target pasar kami,” tuturnya.

Lalu target pasar lain untuk hotel-hotelnya adalah keluarga paramedis atau dokter, misal satu keluarga dokter, mereka saling menularkan. Akhirnya satu tinggal di rumah, satu lagi tinggal di hotel.

Dan saat ini, Crown juga sedang mempersiapkan proyek baru di Los Angeles (LA.) Amerika yang sudah dibeli lahannya dan rencananya diluncurkan pada pertengahan 2021 sebagai langkah akselerasi tersebut. Mengapa di sana? Alasan Iwan, LA ini memiliki potensi besar sebagai kota metropolitan, apalagi jelang Olimpiade 2028 sedang membangun besar-besaran infrastrukturnya. Ini menjadi peluang besar untuk propertinya bisa diserap dengan kondisi bisnis dan fasilitas memadai. “Marketnya juga mirip dengan Australia, multikultural, banyak orang Cina, Korea bahkan Indonesia di sana. Di sana ada Korean Town, the biggest population orang Korea di luar negaranya itu di LA.,” terangnya.

Dalam kondisi pandemi seperti ini, seperti disampaikan bahwa accepted menjadi langkah yang dilakukan. Menerima yang tidak bisa kita ubah. “Kalau kita terus menerus takut dengan COVID-19, memikirkannya, tidak akan bergerak dan menghasilkan ide dan strategi baru,” tuturnya.

Lalu kita harus melakukan langkah adjusment atau penyesuaian, terutama dalam cara, sistem dan proses bekerja. Misalnya, Iwan menyebut dengan kondisi orang berkurang geraknya di luar rumah, mereka belajar membuat video dan konferensi untuk memasarkan proyek-proyeknya. “Malah dengan adanya COVID-19 ini kita bisa lakukan conference lintas negara hingga 1000 orang pun melalui dukungan teknologi,” tuturnya. Sistem dan proses yang diperbaharui ini membuat Crown Group, lanjut Iwan jadi bergerak lebih cepat lagi.

Iwan bahkan melihat peluang lebih baik saat krisis, dalam pandangan dan pengalamannya membangun bisnis yang melewati beberapa kali krisis moneter, justru ini pembuktian pemain bisnis yang original, yang ikut-ikutan akan mundur. “Kami melihat banyak peluang saat krisis. Tahun 1997-1998 krisis Asia, kami justru bagus, menangkap pasar China yang pindah ke Australia. Tahun 2004, kami mendapat indentitas Crown Group, menunjukkan kami berbeda sekali dengan pemain properti lain di sini dengan urban resort design. Dan kami bisa membeli tanah orang-orang yang saat itu susah. Bahkan kami tumbuh sangat cepat saat krisis itu, di saat bersamaan suplai tidak ada,” jelasnya.

Walau krisis saat itu berbeda karena murni moneter, sedang saat ini dipicu oleh pandemi virus yang mematikan, Iwan tetap melihat peluang besar ada jika digarap serius. Menurutnya, saat ini suplai properti pun rendah saat pandemi, pemain lain tidak mau meluncurkan produknya khawatir tidak laku. “Justru saya melihat peluang, tetap saja ada 500 ribu pelajar asing masuk ke Indonesia, 10 ribu dari Indonesia, sekitar 50% dari 500 ribu itu dari China. Karena China sudah mengalami COVID-19 di awal, mereka sudah mulai bergerak, ini ada peluang kami garap pasar ini,” tambahnya. Ia meyakini, peluang di Indonesia bisa digarap sama.

Iwan mengamini bahwa krisis akibat pandemi ini mengakibatkan kapasitas untuk bisnis di industri properti pasti turun dalam jangka waktu bisa hingga 1 tahun ke depan. Proyeksi ke depan jadinya tidak bisa sama dengan yang dia produksi sekarang. “Crown pun melakukan adjusting, mengurangi tenaga kerja, terutama yang berkaitan dengan display unit, karena kami tidak bisa buka, tim marketing tidak bisa bergerak. Tapi saya yakin bahwa COVID-19 akan membuat kita beradaptasi, menjadi bagian hidup kita,” tuturnya.

Akibat pandemi ini memang perusahaannya melakukan penyesuaian dalam banyak hal terutama di pos-pos biaya, melakukan negosiasi lagi dengan para vendor dan memperbaiki proses pembeliannya. Akibatnya, Crown memotong pos biaya sekitar 30-40%. “Jadi cost dijaga, proyeksinya konservatif, tapi tidak menutup kemungkinan sesuatu yang jauh lebih besar dari yang kita pikirkan. Maka itu kami tetap harus menyiapkan diri untuk panen selepas pandemi ini,” katanya.

Hingga akhir tahun Iwan memperkirakan penjualannya akan mencapai Rp 2 triliun. Sayangnya, dengan kondisi pasar properti Indonesia masih lambat, ia masih belum tahu apakah akan melanjutkan proyeknya di sini. Di saat bersamaan Iwan memperkenalkan putranya, Samuel Sunito yang mulai dilibatkan di proyek barunya di LA. “Saya pikir dalam kondisi pandemi ini, saatnya adaptasi teknologi harus mulai didorong untuk menghadirkan pengalaman baru. Teknologi bukan jadi sesuatu yang terpisah atau suplemen, tapi bisa scale up bisnis,” ujar Sam.

Tentang proyek di LA., ini merupakan proyek mixed-use kondominium dan hotel senilai tinggi Rp 8 triliun , yang akan membawa sentuhan gaya hidup Australia ke distrik pusat kota LA yang sedang berkembang. Menara setinggi 43 lantai dengan 319 kamar ini didesain oleh Koichi Takada Architects. Rencananya akan diberi nama The Sky Trees dengan harga jual US$ 13 ribu/m2. Dengan luas kamar mulai dari 45 m2 hingga 150 m2.

Editor : Eva Martha Rahayu

www.swa.co.id

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)