Tips Rusmin Lawin Bila Ingin Investasi Properti di Jepang

Beberapa kota yang menarik sebagai tujuan berinvestasi properti di Jepang menurut Rusmin, diantaranya yakni Tokyo, Osaka, Kyoto, dan juga Hokkaido.

Menurut Rusmin Lawin, Board Director World FIABCI, dalam lima tahun terakhir ini dan hampir di seluruh wilayah di dunia, sektor properti sedang lesu. “Sekarang benar-benar at the bottom. Kalau berbicara Singapura, maka lebih parah lagi. Malaysia juga parah, namun agak terbantu pada 3 bulan terakhir dengan mendapatkan eksodus dari Hongkong,” ujarnya.

Ia juga mengatakan, properti merupakan pasar yang menarik, terutama di wilayah Asia Pasifik. Asia Pasifik berkontribusi sekitar 1/3 dari total investasi properti global dan masih akan terus bertumbuh, contohnya di Indonesia, Kamboja, Vietnam, hingga Jepang.

Dalam seminar Menyingkap Peluang Besar Investasi di Negeri Sakura (11/12/2019) di Jakarta, Rusmin memberikan tips beberapa kota yang menarik sebagai tujuan berinvestasi di sana, diantaranya yakni Tokyo, Osaka, Kyoto, dan Hokkaido.

Dengan meningkatnya pelancong Indonesia ke Jepang, Rusmin pun melihat adanya wisata halal yang maih menjadi peluang. “Karena orang Indonesia yang bepergian ke Jepang itu sebanyak 500 ribu dan diprediksikan beberapa tahun ke depan akan mencapai 1 juta orang, satu yang kurang sebenarnya, belum ada yang garap halal place untuk liburan,” imbuhnya.

Berbicara mengenai animo masyarakat Indonesia yang berinvestasi, maka akan bergantung pada kota dan budget yang mereka miliki. “Di Tokyo sudah sulit cari landed houses, mahal sekali, 1 unitnya saja bisa mencapai harga Rp50 miliar atau berkisar Rp700 juta per meternya. Landed houses juga jarang ada orang asing yang mau beli dan tidak begitu privacy,” paparnya.

Rusmin menyarankan, selain investasi di landed house dan apartemen, investor juga bisa membeli rumah tua untuk dijadikan hostel dan disewakan setiap kamarnya dengan ketentuan syariah atau halal. Tidak perlu di tempat yang strategis, namun bisa juga yang terletak di belakang gedung-gedung atau bukan jalan utama.

“Investasi di Jepang itu masih berada dalam tahapan sosialisasi dan pembelajaran. Persepsi orang Indonesia bahwa properti di Jepang itu mahal. Malah sebenarnya lebih murah daripada properti yang ada di Singapura. Kendala lainnya adalah dari bahasa. Jadi banyak orang Indonesia yang malas bertanya karena tidak menguasai bahasa Jepang,” kata Rusmin.

Properti di Jepang itu pasarnya tidak fluktuatif dan relatif stabil. Rusmin mengatakan, kalau berinvestasi di Jepang itu akan terasa pertumbuhan atau return-nya jika sudah mencapai lima tahun. “Return-nya akan mencapai 4% hingga 6%. Angka ini sudah lumayan tinggi. Malah di Eropa ada yang hanya mencapai 2% hingga 3% saja,” ujarnya.

Editor : Eva Martha Rahayu

www.swa.co.id

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)