Upaya Unilever Meningkatkan Penjualan di Bulan Puasa

Hemant Bakshi (tengah) pada saat acara RUPS Unilver 14 Juni 2016

Hemant Bakshi (tengah) pada saat acara RUPS Unilver 14 Juni 2016

Pada tahun 2015 kontribusi penjualan di bulan Ramadhan dalam waktu tiga bulan mencapai 26-27% dari total penjualan PT Unilever Indonesia Tbk. Melihat hal ini, di tahun 2016 Unilever pun melakukan berbagai upaya untuk semakin meningkatkan penjualan.

Salah satunya dengan kampanye “1001 inspirasi Ramadhan”, yang mulai diperkenalkan beberapa waktu lalu. Selain meluncurkan website khusus, Unilever juga melakukan berbagai promosi di 400.000 toko. Promosi dilakukan secara online dan offline dengan menggandeng beberapa partner toko online seperti Lazada, Blibli.com, dan lainnya.

Menurut Hemant Bakshi, Presiden Direktur PT Unilever Indonesia Tbk, pihaknya mengeluarkan berbagai produk khusus yang ditujukan bagi kaum muslimin dan muslimah. Salah satu contohnya dengan meluncurkan shampoo Sunsilk Hijab. Pengguna hijab yang jumlahnya naik dari tahun ke tahun  menjadi pasar yang menggiurkan bagi Unilever.

Kebutuhan berbagai muslimin dan muslimah membuka celah pasar baru yang kini mulai serius digarap oleh perusahaan dengan 9 pabrik di Indonesia ini. Berbagai upaya di bulan Ramadhan ini diharapkan mampu menaikan penjualan unilever di tahun 2016, meskipun Bakshi menolak menyebutkan target penjualan.

Pada tahun 2015 penjualan Unilever meningkat sebesar 5,7% menjadi Rp 36,5 triliun dengan pertumbuhan laba sebesar 2% menjadi Rp 5,85 triliun. Kategori foods and refreshment mengalami pertumbuhan yang cukup kuat dengan total penjualan Rp 11,1 triliun. Kategori home and personal care mencatat penjualan sebesar Rp 25,4 triliun.

Di tahun 2016 Unilever telah mengalokasikan belanja modal yang mendekati Rp 2 triliun dan telah dipakai Rp  450 miliar, sementara Rp 1, 4 triliun akan dipakai untuk kapasitas produksi.

Upaya mengatrol penjualan tidak melulu melalui bulan Ramadhan misalnya dengan penggunaan tren bumbu masak, produk-produk premium, serta pemasaran melalui digital. “Saat ini penggunaan bumbu masak instan sudah mulai populer di masyarakat. Taraf hidup yang membaik juga membuat mereka ingin mencoba produk baru dengan kelas yang lebih tinggi. Oleh karena itu di semua kategori kami upayakan untuk memiliki premium produk,” jelasnya.

Ia mencotohkan untuk kategori  shampoo yang sudah tersedia untuk kelas menengah ke bawah dan premium. Untuk kategori menengah ke bawah didominasi dengan shampoo Sunsilk sementara untuk kategori premium dihadirkan produk Tresemme.

Upaya lain yang dilakukan adalah pemasaran dan digital marketing yang dimulai sejak 3 tahun lalu. Bagi Baksin pemasaran memalui iklan media televsisi sudah mulai berkurang. Sebab, pihaknya mulai fokus untuk melakukan kampanye dan pemasaran melalui digital. Keseriusan ini dibuktikan dengan meningkatnya bujet biaya promosi dan pemasaran di bidang digital.

Namun ia sendiri mengaku masih menggunakan digital di tahap tertentu dan belum tertarik untuk memasuki pasar e-commerce. Pihaknya masih mencari model bisnis yang tepat, mengingat tidak semua produk Unilever bisa dijual melalui online.

Produk untuk menengah ke bawah seperti shampoo sachet misalnya, masih dijual secara konvensional. Menjual produk ini secara online tidak dirasa tepat oleh Bakshin, namun ia mengaku telah menggandeng beberapa e-commerce untuk memasarkan produk-produk tertentu Unilever. (EVA)

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

five + sixteen =