Meneer

Meneer

Meski banyak tirakat, yang Meneer perlukan hanyalah ini,” ucapnya seraya menunjuk ke arah saku bajunya. Berusia sekitar 60 tahunan, lelaki yang mengaku jatuh cinta pada kekuatan magis Dunia Timur itu pernah bertugas sebagai tentara Kerajaan Belanda yang ?beroperasi? di Indonesia awal 1940-an.

Saya merasa kikuk berkali-kali disapa dengan kata meneer yang berarti tuan itu. Ketika saya meminta agar ia memanggil saya dengan nama depan saya, laki-laki kelahiran Maastricht itu malah menggeleng. Kata meneer yang ditujukan kepada saya, ia menerangkan, bukan merujuk ke sosok fisik saya, melainkan lantunan ke arah batin saya. “Semakin tua, kita semakin dituntut untuk lebih santun dalam hidup yang tak terlalu lama kita jalani ini,” tutur Jan. Apalagi, ia menambahkan, tata dan sopan santun ketimuran telah mengendap agak dalam di sanubarinya.

Ketika pertama kali bertemu di depan pintu utama hotel, Jan menyapa saya dalam bahasa Belanda: “Holland spreken, Meneer?” tanyanya. “Ya, maar alleen een, twee, drie,” jawab saya. Ia terkekeh-kekeh, lalu ucapnya setengah berbisik, “Sebaiknya selama di sini, gunakan saja bahasa Inggris.” Kenapa? Agar saya tidak mengalami semacam diskriminasi budaya hanya karena kulit saya yang sawo matang. Belum lagi logat, intonasi dan ucapan saya masih berbau Jawa. Saya lalu teringat cerita teman saya yang sempat tak digubris, ketika di Paris ia menanyakan sesuatu kepada seorang Prancis dalam bahasa Prancis pula. “Boro-boro dijawab, dilirik pun tidak!” ujar teman saya mengenang. Jadi, kalau masuk resto cepat saji dan pesan makanan, “Sprek maar Engels, ya?” pesan Jan wanti-wanti.

Paman saya mempunyai seorang adik perempuan. Nah, si adik perempuan ini menikah dengan seorang Belanda totok. Papa Van der Leij inilah yang mengajar saya ber-Holland spreken, setiap saya berkunjung ke rumahnya. “Kalau di sekolah selalu nomor een, kamu mesti sekolah di Holland, ya seperti Gusti Dorodjatun itu,” ujarnya sekali waktu. (Gusti Dorodjatun adalah putra mahkota Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat yang kemudian dinobatkan sebagai Sultan Hamengku Buwono IX).

Ketika “rahasia” ini saya ungkap, Jan tertegun. “Ya, saya pernah bertemu dia, waktu saya bertugas di Yogya, awal 1949,” tuturnya seraya menghela napas dalam-dalam. “Saya pernah stelling di halaman belakang keraton, ketika Overste van Langen menemui Sultan,” tuturnya dengan mata menerawang ke masa silam.

Dilarang keras mengambil konten (tulisan, foto, infografis, video, dan sebagainya) yang dimuat di situs web ini, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk platform AI (artificial intelligence) dan platform digital lainnya, tanpa izin tertulis dari direksi yang berwenang di situs web ini.

# Tag