Alex Kumara, Direktur Program TVRI: ?Tidak Ada Deal Khusus?
Ketika awal kiprahnya di TransTV, kepada SWA, Alex mengaku tertarik bergabung karena adanya kesamaan pemikiran, cita-cita dan idealisme. ?Saya tidak melihat siapa pemiliknya. Saya melihat kelanggengannya. Ketika memutuskan bergabung dengan TransTV, saya ingin melihat hasil jerih payah saya. Saya ingin yang saya bangun itu bisa menjadi besar dan membuat saya bangga,? tutur pria kalem ini. Boleh jadi karena melihat pertumbuhan TransTV yang pesat, bahkan bisa sejajar dengan TV swasta yang sudah lama bercokol, Alex lantas memutuskan meninggalkan singgasana Direktur Operasional TransTV. Ia lantas melirik SCTV masih dengan posisi Direktur Operasional.
Manakala pemerintah mengumumkan pergantian jajaran Direksi TVRI pada Februari lalu, nama Alex Kumara terselip di antara deretan nama direksi baru. Di stasiun TV pelat merah ini, ayah dua putra ini didapuk menjadi Direktur Program, menggantikan Enny Hardjanto. Terlepas dari gonjang-ganjing ihwal pergantian direksi TVRI yang ditengarai banyak pihak bernuansa politis itu, masuknya Alex juga tak kalah membuat banyak kalangan terperangah. Apa sih yang dicari Alex? Tidak puaskah ia dengan posisinya yang cukup bagus di stasiun TV swasta? Atau sekadar mencari tantangan? Ataukah ada deal khusus dengan pemilik saham TVRI yang notabene milik pemerintah? Apa yang akan dilakukan Alex untuk membenahi kekisruhan di TVRI yang tak kunjung usai sejak TVRI berubah menjadi Perjan dan kini Perseroan Terbatas?
Berikut petikan perbincangan wartawan SWA, S. Ruslina, dengan Alex Kumara.
SWA: Apa yang membuat Anda tertarik menerima pinangan TVRI?
Alex Kumara: Waktu saya diminta membawa TVRI menjadi televisi publik oleh pemerintah, saya pikir tidak ada salahnya saya terima dengan segala kemampuan sebagai sumbangsih kepada Republik ini.
Sekadar menyalurkan idealisme? Atau adakah deal khusus sehingga Anda bersedia bergabung?
Hahaha. Tidak ada deal. Saya mencari tantangan. Saya sudah berusia 54 tahun, setahun lagi saya masuk masa pensiun. Di akhir karier ini saya mau berbakti untuk negara.
Apa saja tantangan yang Anda lihat?
Buat saya TVRI menarik sekali. Banyak sekali tantangannya di sini. Banyak persoalan yang membelit perusahaan ini. Dari sisi sumber daya manusia, pendanaan, juga infrastruktur, yang akhirnya terkait kembali dengan masalah pendanaan. Mungkin selama ini pemerintah kurang memperhatikan kepentingan TVRI. Pada masa pemilu seperti sekarang baru terasa, betapa jangkauan TVRI sangat diperhitungkan. TVRI memiliki jangkauan lebih luas daripada stasiun TV lain. Potensi ini tidak dimiliki stasiun-stasiun TV lainnya. Berkaitan dengan Pemilu Pemilihan Presiden yang baru saja berlangsung, misalnya, ketika ada sistem pencoblosan yang salah yakni ada dua sisi lembaran pilpres yang tertembus, tentunya KPU memerlukan satu jangkauan media yang luas untuk memberitahukan kepada TPS-TPS di seluruh Indonesia.
Dengan banyaknya tantangan ini, apa yang akan Anda lakukan untuk membenahi TVRI?
Pertama, saya akan memperbaiki programnya. Sejak diberlakukan Undang-Undang No. 32/2002 tentang Penyiaran, TVRI sampai dengan Desember 2005 betul-betul menjadi televisi publik. Artinya, TVRI diperbolehkan menerima iklan. Berarti nantinya akan ada program-program yang bersifat komersial. Sebenarnya program komersial itu sudah berjalan, hanya saja memang belum maksimal digarap.
Kabarnya TVRI mematok harga iklan jauh lebih mahal ketimbang TV swasta, sehingga target pendapatan iklan malah jeblok?
Justru itu. Meski pemain lama, TVRI kurang berpengalaman dalam berjualan. Dulu memang TVRI pernah menayangkan program komersial tapi monopoli karena ketika itu belum ada stasiun TV swasta. Setelah lebih dari 20 tahun kemudian baru beriklan lagi, sementara TV swasta sudah jauh lebih matang. Persoalan yang paling parah di perusahaan ini adalah pendanaan. TVRI sudah terbengkalai sekian belas tahun tanpa ada satu pendanaan yang sangat serius dari pemerintah untuk memperbaiki infrastrukturnya. Yang kedua, masalah biaya program. Selama tahun 2002?03, pemerintah sama sekali tidak mengalokasikan biaya program bagi TVRI kecuali alokasi gaji karyawan. Sekarang, bila ingin menjadi perseroan, TVRI menanggung utang yang amat besar.
Berapa besar utangnya dan sejak periode kapan?
Sekarang ini utang TVRI sekitar Rp 300 milliar lebih. Angka tersebut akumulasi dari utang yang menumpuk terus sejak tiga tahun lalu.
Dengan kondisi seperti ini, apa yang bisa Anda perbuat? Oke dengan mendongkrak iklan, tapi bagaimana caranya?
Ini yang sedang kami bicarakan dengan pihak pemerintah, DPR, BUMN, Menko dan yang terkait lainnya, bahwa pemerintah kekurangan dana untuk menjalankan TVRI. Untuk bisa mendapatkan dana dari periklanan, itu juga tidak bisa sedemikian cepat. Perlu ada masa transisi untuk membenahi kembali TVRI yang banyak kalangan menilai sebagai barang rongsokan. Bagaimana membuat barang rongsokan ini menjadi bercahaya kembali kan butuh kerja keras. Di masa transisi ini kami masih terus perlu subsidi dari pemerintah.
Bagaimana hasil meeting dengan Departemen Keuangan? Berapa sih anggaran dana yang diajukan?
Belum tuntas. Kami masih harus ke DPR. Lagi pula, karena keterbatasan dana pemerintah, kami harus juga sportif dong. Kami tidak bisa mengharapkan dari jumlah anggaran yang kami butuhkan bisa direalisasi. Pemerintah tidak hanya menganggarkan dana untuk TVRI, masih banyak lagi yang harus dibiayai oleh pemerintah. Paling tidak, harus bisa memaksimalkan dengan dana yang ada. Kami menganggarkan hampir Rp 800 milliar untuk tahun 2005.
Hal lain yang bisa Anda perbuat untuk mengangkat citra TVRI, sehingga TV publik ini bisa bersaing secara komersial dengan TV swasta? Tahapan apa saja yang bisa Anda lakukan untuk membenahi TVRI?
Pembenahan yang akan dilakukan mungkin lebih mencakup internal. Sekarang, dengan dana yang ada, bagaimana kami bisa menghasilkan program-program yang menarik, secara terstruktur dan bertahap. Kami tidak bisa mengharapkan perubahan dalam waktu cepat. Mengenai status karyawannya saja masih perlu toleransi. Jadi, untuk saat ini, TVRI sudah persero tapi status pegawainya Pegawai Negeri Sipil. Saat ini tidak ada kesanggupan dari TVRI sebagai persero untuk menggaji karyawannya yang berjumlah 7 ribu orang. Tapi kami coba proyeksikan pemasukan dari berbagai sumber dana yang diperkenankan oleh undang-undang seperti APBN, APBD dan iklan. Nah, untuk mendapatkan iklan ini kami harus membuat program yang baik. Juga, harus punya persyaratan infrastruktur yang memadai untuk bisa komersial.
Bisa dijamin bila infrastrukturnya baik akan dapat membangun image yang baik?
Image ini bisa dibentuk dengan membuat beberapa program dan usaha yang lain seperti memperbaiki infrastruktur dan kinerja para karyawan. Ini yang butuh waktu.
Infrastruktur seperti apa yang ingin dibenahi?
Pemancar-pemancarnya sudah uzur. Ada yang sudah 15 tahun bahkan 20 tahun, dan spare part-nya juga banyak yang sudah perlu diganti. Untuk memperbaiki dan menggantinya, bisa menghabiskan dana sampai triliunan rupiah..
Soal SDM-nya? Sebab, sempat muncul resistensi dari orang dalam karena tidak percaya kepada orang luar yang dipercaya untuk membenahi TV ini. Bagaimana Anda mengatasinya?
Perlu banyak dialog dengan para karyawan. Kemudian perlu dipertimbangkan juga masalah peremajaan. Banyak karyawan yang sudah mendekati masa pensiun, cukup banyak, mungkin sampai 100 orang. Tapi, kebetulan sejak zaman di RCTI dulu saya banyak bergaul dengan orang-orang TVRI dan sampai sekarang masih terjalin baik. Yang jelas, tahapan pertama yang akan saya benahi adalah memperbaiki programnya dulu sambil memperbaiki kinerja bagian penjualan dari SDM yang ada. Program-program acara seperti Dansa Yo Dansa yang terbilang baik pun sebenarnya saat ini belum bisa jadi andalan. Tetapi orang membeli TVRI karena jangkauannya yang luas. Selain jangkauan, kualitas dan jumlah penontonnya juga akan kami tingkatkan. Sebagai perbandingan, bila TV swasta hanya memiliki 54 pemancar, TVRI mengoperasionalkan 376 pemancar. Suatu saat, bila kami ingin berjualan dengan baik, kami harus bisa membuktikan secara ilmiah bahwa tingkat penontonnya besar sekali. Artinya, masih banyak daerah yang belum diinjak TV swasta.
Kalau kinerjanya belum baik, bagaimana Anda dapat mendongkrak penjualan?
Artinya, pengetahuan menjual harus ditingkatkan. Caranya dengan melakukan pelatihan, karena TVRI belum punya pengetahuan menjual sebaik 10 TV swasta di Indonesia yang jangkauannya nasional. Jangankan TVRI yang jangkauannya luas tapi belum berpengalaman menjual, 10 TV swasta yang ada pun mempunyai tantangan berat untuk menjual karena persaingannya demikian ketat.
Bukankah cukup berat juga membenahi SDM di TVRI? Pendekatan seperti apa yang Anda lakukan?
Banyaklah caranya, hahaha? Nantilah kita lihat, jangan bicara sekarang.
Ada yang bilang, masuknya Anda ke TVRI ada nuansa politis karena Anda dekat dengan salah satu partai politik?
Hahaha? Alasan saya mau bergabung ya saya mau berbakti saja untuk negeri ini. Sama sekali tidak ada kaitannya dengan politik, hahaha? Kebetulan saya punya pengalaman di RCTI, TransTV, dan selama setahun di SCTV. Jadi tidak ada salahnya saya terima tawaran TVRI, karena kadang-kadang menarik juga lho mendapat tantangan seperti sekarang.
Tapi TVRI kan bukan barang bagus, pasti banyak hal yang bersinggungan dengan masalah yang tidak mengenakkan? Atau mungkin Anda menganggap, tidak jadi soal image TVRI buruk, yang penting digaji cukup besar?
Ya? jangan begitulah kita berpikir. Kalau semua berpikir begitu, siapa lagi yang mau memikirkan aset negara ini. Kalau semua bilang, di swasta lebih enak, matilah negara ini. Kalau gaji, haha? gaji saya ya normal-normal saja. Ini semata-mata idealisme. Jika fondasi ini sudah cukup kuat, kita lihat nanti. Kalau masih mungkin, saya pindah lagi.
Jadi, TVRI ini bukan pelabuhan terakhir menjelang pensiun? Masih terpikirkan untuk pindah?
Hahaha, ya terpikir. Tapi, membangun fondasi di TV publik ini terbilang susah. Kita lihat nanti. Kalau waktunya memungkinkan, ya pindah, kalau tidak ya tetap di sini.
Program-program seperti apa yang hendak Anda tampilkan untuk mendongkrak image TVRI?
Bukan hanya program. TV-TV swasta sudah mulai menjangkau nasional sejak 1993. Berarti, di kepala para remaja yang lahir tahun 1990-an dan sekarang berusia 13-14 tahun, TVRI tuh tidak ada. Itu yang mau kami jangkau. Masih ada puluhan juta orang lagi yang bisa dijangkau. Dulu ada Asia Bagus yang sukses. Belum lama ini ada EGP (Ekspresi Gaya Pelajar ? Red.), tetapi terhenti. Acara-acara seperti itu akan kami launch kembali. Tapi acara ini dianggap tidak berhasil di kota-kota besar karena kalah suara dengan TV-TV swasta.
Kalau sudah seperti ini, bagaimana? Untuk memilih channel TVRI orang masih malas, mau nonton apa sih di TVRI?
Sebentar lagi akan ada perubahan. Pemancarnya sekarang sedang diperbaiki, mungkin awal tahun depan sudah selesai perbaikannya. Kualitas gambarnya tidak ada semut-semut lagi. Ini salah satu tugas bagian promosi untuk bekerja keras. Banyak yang bisa saya lakukan di sini, nantilah. Kembali kepada UU No. 32, yang memosisikan TVRI sebagai TV publik. TV publik itu apa sih? Dia harus banyak menyuarakan suara rakyat, dari dan untuk masyarakat. Itu yang akan saya giatkan. Sekarang kan kondisi TV swasta, menyuarakan suara rakyat ya, tapi program-programnya banyak yang menyajikan mistik, pornografi, kekerasan dan semacamnya.
Bukankah mereka mengikuti selera pasar?
Betul! Tapi tidak baik dong. Bolak-bolik program seperti ini dibahas di DPR, di LSM-LSM. Seperti narkoba, misalnya, kalau mau dilepas kan besar pasarnya. Tapi tidak perlu dibesar-besarkan. Coba lihat AFI (Akademi Fantasi Indosiar), itu tak hanya anak-anak remaja yang suka, ibu-ibu juga suka.
Akankah TVRI membuat program acara seperti AFI? Atau, mungkin sudah menyiapkan satu program yang agak berbeda?
Ya? ngapain niru. Mungkin ada hal lain yang bisa kami kembangkan. Tahun 2005 TVRI akan membuat terobosan, nanti saja deh lihat.
Realitas penonton TVRI itu siapa?
Penonton TVRI, mereka yang jauh di pedesaan dan masyarakat perkotaan yang berusia 40 tahun ke atas. Seperti Dunia Dalam Berita jam 9 malam.Ternyata program ini masih banyak digemari karena persentase berita asingnya tinggi. Bahkan mengalahkan acara di MetroTV pada jam itu. Rating-nya sekitar satu koma sekian persen, sedangkan acara di MetroTV rating-nya hanya nol koma sekian persen. Mungkin kami harapkan sekitar Maret tahun depan rating-rating program di TVRI akan membaik. Kami harus bersaing dengan TV-TV swasta.