Temma Prasetio, Desainer Busana Tenun Pria
Berbeda dengan pria tahun 90-an, lelaki masa kini sangat berani untuk mengeksplorasi gaya mereka. Tak heran bila banyak bermunculan brand-brand pakaian pria yang sangat variatif. Salah satunya adalah Dat Men. Brand asal Jakarta ini, lahir dari tangan Temma Prasetio yang menggunakan tenun sebagai ciri khas pakaiannya.
Brand yang muncul di pertengahan 2014 ini terinspirasi dari film superhero seperti X-men dengan teknik cutting yang lebih sharp. “Saya inginnya orang yang menggunakan pakaian ini bisa merasa keren dan merasa seperti aktor,” ujarnya sambil tertawa.

Temma Prasetio founder Dat Men
Menurutnya, hingga saat ini masih banyak orang yang kesulitan membedakan antara tenun dan batik. Selain itu masih banyak pula orang yang malu menggunakan pakaian tradisional. Ia pun menyiasatinya dengan mendesain pakaian agar terlihat lebih modern, sehingga cocok untuk kaum muda yang menjadi target pasarnya.
Menurut pria kelahiran 13 September 1981 ini, tenun lebih dikenal sebagai pakaian untuk acara formal seperti pernikahan. Kebanyakan penggunanya adalah pria dewasa. Ia sendiri mengaku kesulitan memasarkan produknya pada awal brand ini muncul. Tanpa latar belakang desain, ia mengaku cukup nekat saat masuk ke pasar ini.
Meskipun begitu, kini ia mulai merasakan hasil dari perjuangan tersebut. Kini, ia mampu menjual 20 potong baju dalam sehari dan telah memiliki regular customer. Ia juga sudah memiiki 3 orang penjahit dan 4 orang pengrajin tenun di daerah Bali. Keempat pengrajin tersebut memiliki spesialisasi warna masing-masing.
Baginya, tenun Bali ikat Sidemen ini memiliki keunikan baik warna dan motif. Mereka juga lebih berani, sehingga cocok untuk anak muda masa kini sebagai target pasarnya. Sebelumnya ia mengaku melakukan berbagai survei untuk menemukan kain tenun yang pas. Ia rela mengeluarkan uang hingga Rp 38 juta sebagai modal awal bisnisnya.
Peraih gelar Sarjana Ekonomi dari Universitas Trisakti Jakarta tahun 2000, ini rela membeli berbagai kain tenun dari seluruh daerah di Indonesia. Sayangnya tidak semua kain tenun cocok dengan target pasar atau harga.”Dulu waktu awal saya semangat sekali membeli kain tenun. Pernah saya membeli dengan kualitas terbaik, lalu bingung bagaimana menentukan harga pakaian. Karena harga kain tenunya saja sudah mahal,” ujarnya sambil mengenang.
Kini brand Dat Men semakin dikenal dengan kekhasan kain tenunnya. Dalam memasarkan produknya, anak bungsu dari keempat bersaudara ini mengaku lebih suka mengikut event-event khusus dan mengandalkan toko online miliknya. Baginya strategi ini lebih menguntungkan bila dibandingkan membuka toko secara offline. Meskipun ia mengakui, di awal penjualan, masih banyak orang yang takut berbelanja online.
Kini, dengan kemajuan teknologi, konsumen justru lebih suka berbelanja online. Ia bahkan rela untuk datang langsung ke konsumen membawakan produknya agar mereka bisa mencoba langsung. Namun keuntungan tersebut hanya bisa diperoleh oleh para konsumen yang tinggal di Jakarta.
Hingga tahun 2015 ini ia masih melakukan rebanding untuk produk baru dan tahun depan bakal mengumumkan bahwa Dat Men adalah satu-satunya brand pakaian pria yang menggunakan tenun. Kemeja Dat Men lengan pendek dibanderol dengan harga Rp550 ribu. Sedangkan.kemeja lengan panjang Rp 890 ribu.Meskipun terhitung baru, pria berusia 34 tahun ini mengakui bisnisnya sudah balik modal.
Dengan konsep ready to wear, brand ini mulai dikenal banyak orang, namun hingga saat ini Temma hanya memiliki dua orang kru. Ia sendiri masih bekerja di L’oreal Profesionnel di bagian supply chain, sehingga ia masih kesulitan membagi waktu. Ia mengaku sering melewatkan kesempatan emas karena tidak memiliki banyak waktu.
Kelak, Temma masih memiliki banyak ambisi untuk pengembangan Dat Men. Ia ingin mengembangkan brand ini tidak hanya di pakaian saja, melainkan juga celana dan jas. Hingga saat ini brand ini hanya memproduksi kemeja karena menjadi dominan pasar. Masih banyak riset yang dilakukan Temma untuk mewujudkan mimpinya. (EVA).
Dilarang keras mengambil konten (tulisan, foto, infografis, video, dan sebagainya) yang dimuat di situs web ini, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk platform AI (artificial intelligence) dan platform digital lainnya, tanpa izin tertulis dari direksi yang berwenang di situs web ini.