Hobi Mahal Para Eksekutif
Bagi sejumlah eksekutif Indonesia yang punya duit berlimpah, mobil bukanlah sekadar alat transportasi. Mobil, terutama yang mewah, adalah lambang prestise dan gaya hidup. Memodifikasinya sendiri seunik, semewah dan seelegan mungkin adalah bagian dari gaya hidup itu. Tak peduli, untuk itu mereka harus mengeluarkan ratusan juta rupiah lagi. Akibat perhatian dan perlakuan mereka yang begitu halus dan apik terhadap mobil dambaan itu, ada yang mengibaratkannya sebagai istri kedua. Masuk dalam deretan orang-orang yang punya hobi mahal ini, antara lain, pengusaha Erwin Talumewo, pengacara Seno Sukmono Adji, Presiden Direktur PT Swarna Baja Pacific Pandu Lokiswara Salam dan Manajer Pemasaran PT Artha Pamelar Putra Edward Tan.
Edward Tan merasa mendapatkan kepuasan tersendiri bila bisa mewujudkan mobil yang diimpikannya lewat modifikasi, tak peduli berapa pun biayanya. “Kenikmatannya nggak bisa digambarin, karena ini menyangkut hobi,” kata Edward bersemangat. Ia memang tidak sedang membual. Toyota Supra miliknya telah ia modifikasi secara ekstrem, mulai dari bodi, eksterior, interior sampai sound system dan mesinnya. Untuk itu, ia mengeluarkan biaya sampai Rp 200 juta, suatu jumlah yang tak bisa dianggap kecil. Mobil itu, dikatakannya, keluaran 1998 dan merupakan edisi terakhir. Harga barunya sekitar Rp 700 juta. Mobil second yang ia sukai karena bentuknya cute itu ia beli beberapa tahun lalu seharga Rp 400 juta. Pengerjaan modifikasinya memakan waktu 6 bulan.
Hasilnya memang luar biasa. Tongkrongan Toyota Supranya kini sangat sporty dan mewah. Maklum, sedan bermesin 3000 cc Twin Turbo 6 silinder ini memang dimodifikasi secara ekstrem. Cat yang awalnya hitam biasa, kini hitam berkilau. Lalu, untuk mempercantik penampilan, diberi tambahan body kit. Buat kenyamanan di jalan, jok dan sound system-nya diganti dengan yang mewah dan branded. Untuk segala keperluan itu, Edward berburu suku cadang dan aksesori yang dibutuhkannya sampai ke luar negeri.
Meski modifikasi tersebut memakan waktu begitu lama dan menelan biaya besar, Edward tampaknya belum puas dengan Toyota Supranya. Dia tetap menyimpan ambisi mengubahnya lagi. “Saya ingin selalu mengubah modifikasinya setiap ada kontes, agar yang melihat tidak bosan,” katanya terus terang. Apalagi yang mau diubah? “Ya semua, kecuali mesin. Bodi, eksterior, interior dan sound system akan dirombak lagi,” jawab lulusan salah satu Universitas di Australia ini.
Toyota Supra itu, menurutnya, bukanlah satu-satunya mobil modifikasi yang dimilikinya. Ia masih memiliki Mercy ML320 dan Honda Terio. Hanya, modifikasinya tidak seekstrem Toyota Supra. Mercynya dimodifikasi bodinya saja, sedangkan Honda Terio dimodifikasi bagian mesinnya untuk dipakai balapan. Toh, keduanya juga menelan biaya yang tidak sedikit. Anehnya, kendati berani jorjoran untuk memodifikasi, Manajer Pemasaran perusahaan distributor kamera ini tak memakai mobil-mobil itu buat kegiatan sehari-hari. “Mobil-mobil modifikasi itu cuma sekali-sekali dipakai buat pameran atau kontes,” ungkapnya datar. Sehari-hari, Edward lebih banyak menggunakan Honda Stream.
Edward mengaku tidak mengerjakan modifikasi sendiri. Karena, di samping makan waktu, pekerjaan itu juga menuntut keahlian khusus yang tidak dimilikinya. Ia cuma membawa konsep modifikasinya ke F1, rumah modifikasi langganannya di Jl. Panjang. F1 kemudian mewujudkan impiannya. Kadang-kadang buat keperluan modifikasi, dia perlu berdiskusi dulu dengan kelompoknya, geng pencinta mobil modifikasi bernama Klub Option. Menurut penggila modifikasi itu, Klub Option memiliki jaringan dari Jakarta, Bandung, Yogya sampai Surabaya, Pekanbaru dan Lampung.
Penggila modifikasi mobil mewah yang lain adalah Erwin Talumewo. Jam terbangnya di hobi mahal ini lumayan panjang. Bahkan, pengusaha ini dua kali menyabet juara pertama dalam event kontes mobil modifikasi yang diikutinya. Saat itu, dijelaskan Erwin, yang dipakainya adalah KIA Karnival. Kini mobil yang telah dirombak habis itu telah dijualnya. Soalnya, saking ekstremnya dimodifikasi, KIA Karnival itu rusak berat.
Kini Erwin lebih mengandalkan Mercedes-Benz New Eyes E230, yang dia beli second seharga Rp 400 juta. Bodinya yang bongsor dan panjang dicat hitam mengilap tanpa cacat, disangga pelek 20 inci yang kokoh berlapis ban pipih nan menawan. Tampak dari luar saja telah memberi kesan elegan, mewah dan berwibawa, sehingga mobil itu sepintas mirip tunggangan kepala negara. Apalagi, bila kita melongok interior dan audio system-nya, kesan wah tak lagi bisa ditepis. Erwin menghabiskan biaya Rp 200 juta untuk memodifikasinya luar-dalam. Proses modifikasi Mercedes itu sampai ke bentuknya yang sekarang memakan waktu dua bulan.
Toh, sama dengan Edward, Erwin merasa belum selesai memodifikasi Mercedes kesayangannya itu. Mobil modifikasi yang baru sekali diikutkan kontes itu, menurutnya, akan didandani lagi. Ia telah memesan lampu kristal seharga Rp 50 juta dari Jerman buat mengganti lampu depannya. “Nanti kalau ada kontes lagi, akan saya ubah lagi modifikasinya,” ungkapnya. Sebagaimana Edward, ia juga tidak menangani sendiri modifikasi mobilnya. Ayah dua anak ini memercayakan urusan itu kepada dua rumah modifikasi: SBM dan Concept Motor Sport (CMS). Keduanya dia pilih karena punya kelebihan. “SBM adalah ahli fiber yang sudah terkenal di Jakarta. Demikian juga CMS. Apalagi yang belakangan itu dekat pula lokasinya dari rumah saya di kawasan Kelapa Gading,” jelas pengusaha jual-beli mobil second yang tak segan mengendarai mobil modifikasinya buat kegiatan sehari-hari itu sambil tersenyum.
Lewat modifikasi, dijelaskan pria berusia 37 tahun itu, dia bisa menuangkan seluruh ide dan kreativitasnya. “Saya bisa mendesain mobil seperti yang saya bayangkan,” jawabnya bersemangat ketika ditanya kenikmatan apa yang dia rasakan dalam hobi mahal itu. Erwin mengaku sering tidak puas ketika membeli mobil dari pabrik atau hasil modifikasi orang lain. Ia baru mendapatkan kepuasan pada modifikasi yang digagasnya sendiri, walaupun untuk itu dia harus memereteli, atau membiarkan mobil mewahnya yang tak rusak dipereteli. “Hobi ini bisa menghilangkan kepenatan akibat kesibukan di tempat kerja,” ujarnya pendek. Selain Mercy kebanggaannya itu, Erwin juga memodifikasi BMW seri 3 miliknya. “Yang ini biayanya cuma Rp 50 juta, karena nggak seluruhnya dimodifikasi,” jawabnya enteng ketika ditanyakan biayanya.
Berbeda dari Edward dan Erwin yang tampak dewasa dan mapan, Seno Sukmono Aji justru di usia belia sudah menggeluti hobi ini. Toh, pengacara kelahiran 30 Agustus 1981 ini tak ambil pusing. Berbagai tipe mobil telah didandaninya, sekadar untuk memuaskan dahaga. Dalam usia yang masih muda, ia pernah memodifikasi mobil Starlet. Lalu, Kijang, Toyota Great Corolla dan Cherokee. Memang tidak semua mobil itu dapat dimasukkan ke dalam golongan mobil mewah. Toh, hobinya membuat banyak orang berdecak atau menggelengkan kepala.
Bagi Seno, memodifikasi mobil adalah seni, selain hobi. Itu sebabnya, ia tak merasa ragu memeretelinya. Mendandani mobil, dikatakannya, adalah cermin rasa sayang. Ia merancang sendiri konsep modifikasinya. Lalu, konsep itu diserahkan ke New Face di Bintaro. Rumah modifikasi ini dikenal Seno dari teman-teman satu tongkrongan. New Facelah yang memodifikasi mobil-mobilnya selama ini, termasuk Cherokeenya yang menelan biaya sampai Rp 150 juta. Rinciannya, modifikasi bagian kaki-kaki mobil, pelek dan ban mencapai Rp 55 juta. Lalu, cat untuk bodi kit Rp 19 juta, interior seperti jok kulit Rp 10 juta, sound system Rp 45 juta, plus berbagai aksesori lainnya.
Meski Cherokee modifikasinya menyabet gelar The Best Jeep pada 2001, nampaknya Seno belum puas. Ia berencana mengubah bagian mesinnya dari 2000 cc menjadi 6000 cc 8 silinder. Ini, menurut Seno, akan menelan biaya sekitar Rp 40 juta. Mobilnya sendiri dibelinya tahun 1998 seharga Rp 180 juta. Harga Cherokee baru saat ini mencapai Rp 400 jutaan. Bagi dia, tujuannya memodifikasi mobil adalah untuk dipakai dan dinikmati. Toh, ia tak memakainya tiap hari. Cherokee yang didandani habis-habisan itu dipakai setiap Sabtu dan Minggu saat kumpul dengan teman-teman. Sehari-hari lulusan Universitas Muhammadiyah ini mengendarai Subaru Impressa WRX yang baru dibelinya seharga Rp 440 juta, atau Toyota Camry seharga Rp 400 juta. Perawatan mobil modifikasinya kerap diserahkan Seno pada bengkel. Kadang-kadang ia merawatnya sendiri saat akhir pekan. ?Kalau sudah asyik merawat, saya benar-benar bisa lupa waktu. Pacar saya sering marah-marah,” tuturnya sembari tersenyum.
Sementara itu, Pandu Lokiswara punya cara lebih smart dalam menyalurkan hobinya. Pandu menggabungkan hobi ini dengan bisnisnya. Ia memang memiliki fasilitas dan kemampuan memodifikasi mobil di pabriknya. Karena itu, biaya dalam penyaluran hobinya bisa ditekan seminimal mungkin. Bila sudah jadi, ia nikmati sendiri. Bila ada yang berminat membelinya, ia lepas dengan margin lumayan gede. Pria berumur 40 tahun ini tak tahu lagi berapa mobil yang telah dimodifikasinya. Yang jelas, kini ia sibuk dengan Mercedes-Benz SL 500 keluaran 1995. Mobil ini dilengkapi ban big foot berukuran raksasa setinggi 1,15 m. Tak heran, ke mana pun mobil itu dibawanya, selalu menjadi pusat perhatian orang.
Menurut Pandu, sebenarnya mobil itu merupakan gabungan antara sedan dan jip CJ-7. Sedan dipakai bagian bodinya saja, jip dipakai mesinnya. Lalu, mesin jip itu dimodifikasi lagi dari 4200 cc menjadi 5700 cc, untuk membuat yahud tarikannya. Spat board sedan itu juga dicoakin lebih besar agar bisa menampung ban berukuran raksasa. Interiornya pun tak luput dari tangan gatal Pandu. Jok kulitnya yang hitam diganti krem, dan audio system-nya diganti dengan yang lebih wah dan nyaring. Agar seimbang, knalpot pun ia ganti. Juga, diberi tambahan berbagai aksesori lain. Dua yang belakangan itu ia buat sendiri di pabriknya. Kini Mercy yang dibelinya tahun 1995 seharga Rp 150 juta itu telah menjelma menjadi mobil mewah unik yang sama sekali lain. Bukan tidak mungkin pabriknya sendiri tak bisa mengenalnya lagi. Meski semuanya dikerjakan di pabriknya sendiri — dibantu beberapa tukang, Pandu harus rela merogoh sakunya sampai Rp 250 juta buat modifikasi super-ekstrem itu.
Selain Mercy big foot, ayah tiga anak ini juga memodifikasi Mercy New Eyes E Class miliknya yang diubah menjadi pickup. Jenis ini memang lagi ngetren di Jakarta. Saya suka Mercy karena lebih gampang dimodifikasi dibanding BMW,” katanya datar. “Sebelum mobil-mobil mewah masuk ke sini, saya telah memodifikasi berbagai tipe mobil mewah, termasuk membuat limosin,” imbuhnya bangga. Sehari-hari Pandu mengendarai Mercy S320, yang juga telah sedikit dimodifikasi.
Paparan di atas tidak saja menunjukkan kegilaan para pehobi modifikasi mobil mewah, tapi sekaligus mengindikasikan adanya peluang bisnis dan gelimang duit di balik hobi mahal itu. Peluang inilah yang kemudian ditangkap oleh rumah-rumah modifikasi mobil semacam F1, SBM, New Face dan CMS. Sebagai contoh, CMS. Meski baru setahun berdiri, CMS telah memiliki banyak pelanggan. Salon mobilnya di bilangan Kelapa Gading, dikatakan pemiliknya, Ferry, mengkhususkan diri pada modifikasi aksesori, tryes & rims, muffer, coil springs, spooring, balancing dan finish balancing. CMS juga menjual berbagai pelek, suku cadang dan aksesori lain yang diimpor dari Eropa, Jepang dan Taiwan.
Investasinya, menurut Ferry, juga tak kecil: di atas Rp 1 miliar. Sebab, peralatan yang dibutuhkan seperti perangkat spooring dan balancing umumnya barang impor. Pria berumur 21 tahun itu menolak menyebutkan pelanggannya selama ini. “Pokoknya, banyak deh. Mereka datang dari berbagai profesi dan kota-kota besar. Bahkan, ada yang dari Australia,” ujarnya menghindar. Ferry juga tak bersedia menyebutkan omsetnya per bulan. “Saya nggak tahu. Itu urusan staf keuangan,” katanya. Mobilnya sendiri, Toyota Celica, yang dibelinya seharga Rp 400 juta (second), telah ia modifikasi habis-habisan hingga menyedot Rp 200 juta. Penampilan mobil itu kini bak mobil-mobil balap di film-film Hollywood.
Reportase: Dede Suryadi
Dilarang keras mengambil konten (tulisan, foto, infografis, video, dan sebagainya) yang dimuat di situs web ini, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk platform AI (artificial intelligence) dan platform digital lainnya, tanpa izin tertulis dari direksi yang berwenang di situs web ini.