Ambisi Besar Jagonya ?Tambang Rendah?

Ambisi Besar Jagonya ?Tambang Rendah?

Ambisi besar AirAsia. Diam tapi pasti, dari markasnya di Kuala Lumpur, maskapai yang dibesut Tony Fernandez ini benar-benar sedang menggulirkan bola salju untuk terus merangsek dunia penerbangan regional, termasuk Indonesia. Bayangkan saja, bila dirata-ratakan, dalam lima bulan terakhir maskapai ini membuka satu rute per bulan ke Indonesia. Bahkan, bila tak ada aral melintang, rute Kuala Lumpur-Padang akan segera dibuka menjadi rute ke-6 di bulan Oktober setelah Bandung, Surabaya, Jakarta, Bali dan Medan.

Tentu saja, langkah maskapai jiran ini dipastikan akan membuat penerbangan lokal mesti berhati-hati mengingat tarif murah menjadi salah satu keunggulan kompetitif yang ampuh belakangan. Dan, mereka juga patut kian mencermati maskapai ?bau kencur? ini (mengudara pertama kali di akhir 2001) karena masih ada ambisi besar lain yang siap dibentangkan. Apa itu?

?Kami akan bekerja sama dengan pengusaha lokal untuk membuat joint venture,? ujar Pahamin. ?Nama (pengusahanya), nanti dikabarkan,? sambungnya sambil tersenyum ketika didesak menjelaskan lebih rinci. Ia juga enggan merinci berapa besar investasi yang akan digelontorkan sekaligus komposisi sahamnya.

Memang, ini belum terealisasi. Namun jelas, rencana ini patut dicermati semua pemain lokal karena merupakan sinyal yang amat terang: AirAsia yang dinobatkan sebagai Asia Pacific Airlines of the Year 2003 akan mengais penumpang dari penerbangan domestik. Kota-kota di Tanah Air akan direngkuh maskapai yang kini diperkuat 16 Boeing 737-300 itu. Dan ini bukan tanpa preseden sama sekali. Sebelumnya di Thailand, sudah ada Thai AirAsia yang mengoperasionalkan empat Boeing 737-300, dengan hub berada di bandara internasional Bangkok. Menilik hal itu, tampaknya bukan perkara sulit Pahamin dan Fernandez melakukan hal serupa di sini. Mereka punya pengalaman dan penopang dana yang siap membantu. Juga, keseriusan internal.

Untuk merealisasi impiannya menjadi maskapai regional yang disegani, manajemen AirAsia terus berbenah, salah satunya dalam hal distribusi. Di Indonesia, saluran distribusi dan reservasi ditempuh seperti yang dipraktikkan di Malaysia dan Thailand: tiket dijual melalui call centre, online booking, sales office, agen perjalanan, serta kerja sama dengan bank dan kantor pos setempat. Untuk bank, maskapai yang bermoto Now everyone can fly ini telah mengaet Bank Tabungan Negara, sementara untuk kantor pos telah 116 cabang PT Pos di Bandung dan Surabaya menjadi tempat reservasi tiketnya. Lewat jalur-jalur ini, diharapkan banyak saluran yang bisa diakses penumpang

Pemerintah Malaysia sendiri tampaknya cukup senang dengan agresivitas perusahaan yang satu ini (sekalipun tak menyatakan terang-terangan mendukungnya 100%). Mereka senang dengan AirAsia terutama bila menyangkut kedatangan turis ke negeri itu dari Indonesia. Maklum, seperti diungkap Ahmad Zahid Hamidi, Deputi Menteri Pariwisata Malaysia, sejak AirAsia membuka rute ke kota-kota Indonesia dengan sistem tambang rendah (tarif murah), kedatangan orang Indonesia ke Malaysia turut terkatrol. Kurun Januari-Juli 2004, peningkatannya mencapai 52% dari 289 ribu menjadi 480 ribu orang. ?Langkah AirAsia ini sejajar dengan pihak Kerajaan menggalakkan pelancongan antarnegara ASEAN,? kata lelaki yang neneknya berasal dari Yogyakarta ini bernada senang.

Kalau pun ada yang masih mengganjal upaya Pemerintah Malaysia dan maskapai lokalnya (AirAsia dan Malaysian Airlines), lanjut Hamidi, adalah masih diberlakukannya fiskal di beberapa bandara, terutama Soekarno-Hatta. ?Bila ini (penghapusan fiskal) bisa dilakukan, dapat membantu industri pelancongan Indonesia dan Malaysia kerana kedua-dua rakyat negara akan lebih mudah melancong,? katanya.

Pahamin tentu saja mendukung pernyataan Hamidi, yang juga sering diulang-ulang Fernandez dalam berbagai kesempatan. Maklum, besarnya fiskal 4-5 kali lipat tarif AirAsia dari kota-kota Indonesia ke Kuala Lumpur. Khusus Medan, Pahamin sendiri mengaku gembira karena di kota berpopulasi 1,8 juta itu, fiskal sudah ditiadakan. Dan tentu ia lebih gembira lagi bila di tahun 2005, rencana penghapusan fiskal benar-benar bisa direalisasi oleh Pemerintah Indonesia yang baru. Untuk saat sekarang, AirAsia akan berkonsentrasi lebih dahulu menggarap habis-habisan kota-kota yang sudah diterbangi. Tentunya dengan senjatanya yang khas: tambang rendah.

Akhirnya, pesan dari Pahamin singkat saja: siaplah bertarung wahai maskapai lokal!

Dilarang keras mengambil konten (tulisan, foto, infografis, video, dan sebagainya) yang dimuat di situs web ini, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk platform AI (artificial intelligence) dan platform digital lainnya, tanpa izin tertulis dari direksi yang berwenang di situs web ini.

# Tag