Aspira Berlari Tanpa Honda?
Ini memang konsekuensi bisnis yang harus diterima Aspira. Selama ini pengguna motor Honda adalah captive market-nya, sedangkan sekarang tidak. Aspira harus berjalan mencari pelanggan sendiri. Kebetulan, saham Astra di AHM kini hanya minoritas setelah prinsipalnya menambah kepemilikannya beberapa waktu lalu.
Dari perspektif manajemen Honda, strategi ini bisa dimengerti. Honda motor tentu tak ingin kehilangan kue pasarnya yang memang menjanjikan. Betapa tidak? Pasar sepeda motor tumbuh bagus setiap tahun. Dua tahun lalu penjualan sepeda motor mencapai 2,5 juta unit, sedangkan tahun ini diperkirakan menembus 2,8 juta unit. Sementara itu, dari total populasi sepeda motor yang saat ini mencapai 18 juta unit, sekitar 55%-nya bermerek Honda. Maka, potensi pasar inilah yang ingin dinikmati oleh Honda Motor dengan menyediakan suku cadang sendiri.
Hanya, agaknya Honda Motor lupa bahwa, jika suku cadang hanya dilayani oleh agen tunggal, biasanya agen tersebut sulit maju. Pasalnya, Honda juga harus menjual dan menyediakan semua jenis suku cadang, baik yang berkategori slow moving maupun fast moving. Artinya, Honda harus siap menyediakan biaya gudang dan biaya pembiakan skala organisasi yang tidak terbayangkan sebelumnya.
Bagi AKI, ?perceraian? ini bisa menjadi ancaman tapi sekaligus cambuk. Nugroho Suhendro, Presiden Direktur AKI, mengakui kenyataan ini sebagai pergeseran besar. Hanya, pihaknya tetap berbesar hati sekaligus menguatkan dorongan untuk menjadikan Aspira sebagai merek suku cadang nasional yang independen dan memasok semua jenis motor sebagaimana dicanangkan awal tahun 2000. “Sejak dulu Astra ingin independen, tidak tergantung satu perusahaan saja,” katanya.
Nugroho juga optimistis melihat potensi pasar ke depan. Menurutnya, bisnis suku cadang di Indonesia akan lebih menarik dibanding bisnis motornya sendiri. Pada waktu resesi, konsumen tak membeli unit motor tapi malah mengganti suku cadang motor yang telah dimiliki. Selain itu, dari sisi karakter konsumennya, juga sangat mendukung. Di luar negeri orang mengganti motor rata-rata tiap lima tahun, sedangkan di Indonesia lebih dari 10 tahun. “Ini market opportunity bagi kami,” katanya.
Nugroho melihat, realitas pasar suku cadang menyerupai kerucut. Selama ini porsi pemakaian suku cadang asli lebih kecil, hanya 30%. Sebagian besar justru produk suku cadang tak resmi yang banyak dipasarkan pabrikan independen seperti Aspira. Berarti terbuka peluang besar bagi pemain lain dari nonprinsipal yang bisa menyediakan suku cadang alternatif. “Apalagi, kami punya positioning kualitas setara produk genuine. Pasar kami jelas lebih luas,? lanjutnya.
Nugroho tak menampik bila selama ini penjualan Aspira untuk motor Honda memang cukup dominan, sekitar 60%. Ia mengakui, di tahun pertama ketika ?diceraikan?, omsetnya langsung menurun, karena pasarnya terbelah dua. “Tapi kondisinya mulai membaik sejak tahun ini,? ujar dia tentang Aspira yang omsetnya mencapai Rp 400 miliar/tahun.
Kini, dalam rangka menghadapi Honda, manajemen Aspira mengaku tak ingin bertarung langsung. Aspira cuma bertekad menggenjot aspek pelayanannya agar lebih maksimal. Misalnya, dengan membentuk dan memperbanyak jumlah Aspira Care Service — mobil keliling yang memberikan layanan di tempat pemilik motor. Aspira juga secara proaktif mendatangi konsumen.
Lebaran nanti, armada ini juga nongkrong di jalur-jalur penting, seperti Jakarta, Surabaya, serta menyusul Semarang dan Bandung. Tak hanya itu, jumlah dealer utama Aspira yang sekarang berjumlah 40 juga akan diperbanyak. “Aspira berkomitmen melayani sampai pelosok,? tandas Nugroho yang bertekad akan terus mempromosikan Aspira melalui media above the line dan below the line.
Dilarang keras mengambil konten (tulisan, foto, infografis, video, dan sebagainya) yang dimuat di situs web ini, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk platform AI (artificial intelligence) dan platform digital lainnya, tanpa izin tertulis dari direksi yang berwenang di situs web ini.