Stock Split di Starbucks
TREN, 24/2003 Fiat: KMD/Ira (12/11)
Starbucks adalah fenomena baru, berawal dari kafe kopi kecil di Seattle, kedai kopi yang dimiliki Howard Schultz ini telah menggurita ke seluruh Amerika Serikat. Setelah pasar AS dianggap memasuki densitas yang semakin tinggi dan dikhawatirkan bakal jenuh — sekaligus bermodal kepercayaan bahwa ngopi bukan sekadar tradisi AS tetapi juga bagian yang tak terpisahkan dari penduduk belahan mana pun di dunia — Starbuck mengembangkan sayapnya lebar-lebar ke berbagai negara, dari Eropa yang tidak gampang dimasuki, Afrika hingga Asia. Beberapa bulan terakhir, iklan reklame Starbucks mulai bertebaran di berbagai pusat perbelanjaan besar di Jakarta. Dari hanya 17 kedai kopi 15 tahun yang lalu, sekarang Starbucks memiliki 5.689 kedai.
Di Indonesia, dalam sekejap gerainya bertebaran di Jakarta, dan entah berapa lagi dalam waktu dekat ke seluruh Indonesia. Pemilihan Indonesia sebagai pasar baru pun cukup beralasan. Bayangkan, sebuah negara yang dijuluki consumer heaven, biar pun krisis terus menerpa, konsumen tetap harus melakukan kegiatan konsumsi. Buat banyak perusahaan multinasional yang membidangi consumer goods, Indonesia bahkan menjadi contoh kesuksesan pertumbuhan. Kebiasaan ngopi — meski mahal (Rp 50-100 ribu sekali datang buat ngopi)– terus dilakukan penduduk kota yang disebut mindless consumer oleh Bre Redana, melengkapi gaya hidup Louis Vuitton di kota besar Indonesia. Perkembangan usaha dan operasional yang mengagumkan itu tergambar dari peningkatan nilai perusahaan Starbucks di pasar modal. Meskipun di awal pencatatan sahamnya ke bursa, keputusan manajemen Starbucks menomorsatukan SDM terutama karyawan ketimbang customer, sedikit-banyak telah mengecewakan pihak investor. Namun, di kemudian hari terbukti, dengan ujung tombak SDM terampil, telah memberikan customer satisfaction tertinggi bagi pelanggannya. Perusahaan yang go public di tahun 1992 ini, harga sahamnya terus naik secara signifikan. Dengan kata lain shareholder value-nya sudah meningkat berkali-kali lipat, sehingga harganya di bursa saham terus terkerek. Dan secara relatif, menaikkan P/E ratio, padahal P/E rasio tinggi secara psikologis tidak teralu populer bagi investor, karena dianggap terlalu mahal.
Karena itu, satu sahamnya dipecah (stock split) menjadi 2,3,4 dan seterusnya, tergantung kebijakan manajemen perusahaan. Ini penting untuk meningkatkan likuiditas saham. Nilai secara keseluruhan tidak berubah. Stock split tidak meningkatkan cash flow perusahaan, tetapi harga sahamnya per lembar menjadi lebih murah. Starbucks telah empat kali melakukan pemecahan saham, masing-masing pada September 1993, Desember 1995, Maret 1999 dan yang terakhir April 2001. Saat ini, kapitalisasi pasar saham Starbucks mencapai US$ 10 miliar.
Perkembangan nilai saham memang terkait sekali dengan perkembangan usaha/operasional perusahaan, bukan karena aksi tipu-tipuan atau goreng-menggoreng saham sebagaimana sering terjadi di Indonesia. Saya teringat pada perusahaan komputer raksasa, IBM (International Business Machine) di saat bisnis hardware-nya masih berjaya, akselerasi kenaikan harga sahamnya terus menggila dan membuat para petinggi IBM perlu melakukan stock split. Dimulai pada 1979 dengan melakukan stock split 4:1, kemudian tahun 1997 dan 1999 masing-masing 2:1. Di Indonesia, perusahaan yang kerap melakukan pemecahan saham adalah HM Sampoerna, Indofood dan PT Astra International. Nama-nama perusahaan ini memang sering kita lihat menjadi emiten terbaik di bursa. Namun, akankah langkah itu serta-merta meningkatkan likuiditas sahamnya di pasar?
Dalam penelitian bertajuk The Effect of Stock Split on the Ownership of Firms, yang dilakukan Sandip Mukherji, Yong H. Kim dan Michael Walket, dipubliksikan dalam Journal of Corporate Finance, Vol. 3, No. 2 (April 1997), ternyata ditemukan bahwa perusahaan yang melakukan stock split (diistilahkan dengan split firms) ternyata berhasil menaikkan jumlah shareholder. Premis awal yang menyebutkan bahwa stock split akan secara psikologis mengusik minat investor karena dana yang dibutuhkan relatif lebih kecil untuk transaksi, ternyata cukup terbukti.
Memang ada beberapa pengecualian yang coba menekankan kalau stock split bukan patokan mati yang menunjukkan perusahaan sedang tumbuh dan berkembang. Atau sebaliknya, perusahaan yang sedang gilang-gemilang perkembangannya dan kebetulan listed di bursa tidak harus melakukan stock split untuk masuk klasifikasi berhasil. Barkshire Hathaway adalah salah satu contoh legenda hidup perusahaan yang terus-menerus memberikan extraordinary shareholder value ke investornya. Harga sahamnya yang terus meningkat tidak membuat Warren Buffett harus men-stock split sahamnya di bursa. ?Kami ingin para investor tahu betapa berharganya perusahaan ini dengan melihat bagaimana harga sahamnya bergerak sekarang dibanding di awal listing,? ungkap Buffett penuh keyakinan.
Dilarang keras mengambil konten (tulisan, foto, infografis, video, dan sebagainya) yang dimuat di situs web ini, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk platform AI (artificial intelligence) dan platform digital lainnya, tanpa izin tertulis dari direksi yang berwenang di situs web ini.