Wired, Romansa yang Berakhir Lara
Wired adalah sebuah romansa. Dan seperti banyak kisah cinta yang kemudian mendunia, cerita tentang media yang sekarang telah jadi simbol gaya hidup cyber ini berawal dari Paris, lalu bersemi dan berkembang di San Francisco dan New York.
Momen yang paling menentukan nasib Wired terjadi pada musim panas 1992. Siang itu, tokoh kita, Louis Rossetto, sedang berdiri di tepi sebuah jalan sibuk di New York City, memperhatikan truk yang lalu lalang menyemburkan gulungan asap yang kehitaman ke jas satu-satunya yang dia miliki. ?Anda ingin menarik uang Anda?? suara pacar dan mitra bisnisnya, Jane Metcalfe, terdengar di antara deru berbagai kendaraan.
Metcalfe sedang bicara dengan Nicholas Negroponte. Sejoli ini menerima US$ 75 ribu dari Negroponte — satu-satunya investasi yang berhasil mereka pikat sejauh itu — untuk mewujudkan majalah teknologi yang sama sekali beda, yang akan mereka luncurkan. Sang Direktur MIT Media Lab juga telah memperkenalkan mereka dengan John Suhler. Ketiganya bahkan baru saja bertemu bankir New York spesialis investasi media ini di ruang kantornya yang megah. Pertemuan yang membuat sejoli itu merasa terpuruk.
Bagaimana tidak. Rossetto telah dengan menggebu melontarkan ide besarnya: komputer akan membuat otoritas yang ada kedaluwarsa. Arus informasi akan mengalir bebas. Pendek kata, gaya hidup masyarakat akan berubah total. Rossetto ingin menunggang gelombang revolusi sosial kali ini seperti Jann Wenner melakukannya dulu dengan medianya yang langsung berkibar, Rolling Stone. Dan dia meyakinkan, Wired yang akan diterbitkannya suatu hari akan sama suksesnya. ?Teknologi,? ujar lelaki yang fasih berbahasa Belanda, Itali dan Portugis ini, ?adalah the rock ?n? roll of the ?90s.?
Gaya Rossetto yang karismatik membuat banyak pendengarnya terpesona. Namun, Suhler yang terbiasa dengan metode yang rasional bergeming. Sang bankir tak yakin dengan model sirkulasi Wired yang disampaikan Rossetto dengan menggebu-gebu itu. Apalagi, lelaki tinggi langsing ini tak bisa memberi jawaban ketika ditanya soal tingkat pelanggan yang memperbarui langganannya dan formula berlangganan Wired.
?Waktu itu, rasanya saya ingin menghilang dari hadapannya,? tutur Rossetto yang mengaku saat itu belum paham betul soal strategi penjualan dan sirkulasi. Untungnya, Negroponte tak menarik uangnya sehingga sejoli itu tak kehilangan harapan untuk menghidupkan impian mereka.
Beberapa bulan sebelumnya, Rossetto dan Metcalfe tinggal di flat sempit, di Amsterdam. Mereka pertama bertemu di Paris ketika Rossetto yang berasal dari Long Island bergabung dengan The International Herald Tribune sebagai penulis. Waktu itu, 1985, Metcalfe yang masih belia, 23 tahun, dan berasal dari Kentucky, beberapa tahun lebih dulu bergabung sebagai tenaga ahli dalam proyek pengembangan word processing (yang masih merupakan teknologi baru) untuk sistem akunting multi-currency yang terhubung ke kantor-kantor Herald di seluruh dunia, selulus dari Universitas Colorado.
Cantik dan semampai seperti Sigourney Weaver, Metcalfe yang dari keluarga kaya dan tampak lebih cocok berlenggok di atas catwalk ketimbang jungkir balik di dunia teknologi informasi yang didominasi kaum lelaki, punya jiwa petualang seperti Rossetto. Tak heran, ketika sang cowok hijrah ke Belanda, dia yang telah merasa sehati dan selepas dari Herald mendapat pekerjaan menarik di bidang desain dan pemasaran pada rumah mode Valentine Palomba, Paris, lalu menyusul dan membantu kekasihnya yang 13 tahun lebih tua itu mengembangkan majalah tentang peranti lunak alih bahasa yang kemudian menjadi Electric World.
?Kami berhasil mengibarkan media tersebut jadi majalah yang sangat berpengaruh,? tutur Metcalfe. ?Dan ini mempertemukan kami dengan orang-orang dari MIT, IBM, dan membuat kami punya jaringan luas.? Maklum, waktu itu Electric World telah berkembang jadi majalah konsumen yang memikat para techies yang, seperti sejoli itu, merasakan bahwa dunia sedang di ambang revolusi digital.
Kendati demikian, di sisi bisnis, Electric World terseok-seok. Majalah ini harus ganti penerbit dan bentrok di meja hijau dengan penerbit kedua sehingga uang Rossetto terkuras, bahkan honor para kontributor untuk edisi terakhir pun tak terbayar. Maka pada 1991, ketika Perang Teluk mencapai puncaknya dan perekonomian dunia terjun bebas, Rossetto dan Metcalfe balik ke AS. Mereka mendarat di San Francisco ? pusat revolusi digital global.
Di kota yang pernah jadi pusat revolusi rock ?n? roll ini, keduanya menyewa kantor kecil di kawasan yang sama dengan Wenner ketika beberapa dasawarsa sebelumnya meluncurkan Rolling Stone. Mereka tak punya cukup uang, tetapi Rossetto mendengar bahwa sebuah toko di Berkeley punya mesin fotokopi Canon yang bisa mencetak langsung dari file digital. Sebagai upah membantu mengeset mesin canggih itu, dia mendapat akses menggunakannya pada malam hari.
Maka, pada Oktober dan November 1991, dibantu Eugene Mossier yang jago dalam produksi digital, Rossetto dan Metcalfe berhasil membuat edisi prototipe Wired. Mereka menyebut majalah yang tampak mahal dan hanya mencomot artikel dari sana-sini itu sebagai ?Edisi Nol.? Hebatnya, dibalut desain yang berani, artikel comotan tersebut justru tampil lebih menarik ketimbang aslinya di The Wall Street Journal, Scientific American, MacWeek, The New York Times, Sport Illustrated, dan sebangsanya. Tak heran, Negroponte tertarik untuk ikut andil dan membantu sang sejoli mendapatkan US$ 150 ribu lagi dari Charlie Jackson, wirausahawan peranti lunak.
Rossetto dan Metcalfe segera menggunakan uang dari Negroponte dan Jackson untuk pindah ke kantor yang lebih besar. Namun, mereka sadar bahwa dana yang tak seberapa itu akan kering sebelum edisi pertama sempat diluncurkan. Kalau ini terjadi, hancurlah impian yang mereka bangun sejak dari Eropa. Itu sebabnya, mereka lalu menemui Suhler.
Penolakan Suhler memaksa Rossetto dan Metcalfe ngebut. Rossetto menelepon John Plunkett dan Barbara Kuhr, pasangan suami-istri yang memiliki perusahaan desain grafis kecil di Park City, Utah. Dia menawari mereka gaji US$ 4 ribu/bulan untuk mengerjakan Wired. Mereka saling kenal sejak Rossetto dan Plunkett kerja bareng di perusahaan investasi di Paris. Yakin sobatnya bakal kehabisan fulus sebelum akhir tahun, walau ogah-ogahan, Plunkett dan Kuhr setuju untuk ke San Francisco.
Tenggat yang mepet untuk meluncurkan majalah, cuma tiga bulan, memberikan keuntungan tersendiri. Wired jadi punya semacam indikator untuk mencari redaktur yang cocok. Pernah, seorang kandidat redaktur pelaksana yang sebetulnya qualified hanya bertahan tiga hari setelah tahu bahwa awal 1992 majalah harus sudah terbit. ?Nggak mungkinlah itu?,? ujarnya menertawakan.
Kevin Kelly yang diangkat sebagai redaktur eksekutif tak paham dengan alasan keterbatasan waktu tersebut. ?Apanya yang nggak mungkin?? tanya Kelly yang belum pernah bekerja di penerbitan mainstream itu. Apalagi, sebelumnya hanya menangani majalah kecil, dia merasakan bahwa apa yang ingin dikembangkan Rossetto adalah sesuatu yang besar. Wired memperlakukan revolusi digital seolah-olah itu peristiwa akbar buat semua orang ? tak seperti media tempat dia bekerja, Whole Earth Review, yang cuma memuat pernak-pernik mistik untuk selapis tipis masyarakat konsumen.
Untuk posisi redaktur pelaksana, Wired mengambil John Battelle, mantan reporter MacWorld. Melengkapi barisan pertama awak majalahnya, Rossetto dan Metcalfe merekrut sejumlah karyawan magang dengan bayaran US$ 100/minggu untuk mengerjakan berbagai pekerjaan, seperti menangani database.
Memasuki musim gugur, optimisme Rossetto melambung. Dia bertemu Bill Jesse. ?Jadi, cuma butuh US$ 1 juta?? ujar bankir pada Sterling Payot, butik investasi kecil di San Francisco, yang menjanjikan dana untuk penerbitan Wired itu.
Di sisi produksi, dengan jaringan pertemanannya yang luas di dunia percetakan komersial, Plunkett mendapatkan akses murah untuk pencetakan 6 warna ? waktu itu merupakan teknologi baru ? yang mampu menampilkan warna-warni fluoresensi dan metalik yang cerah. Nuansa Day-Glo yang digunakan ini merupakan simbol optimisme Wired terhadap era yang sedang mereka masuki. Dengan warna-warni ekstrem, ukuran besar yang tak lazim buat majalah, dan desain yang berani, Plunkett yakin bahwa Wired akan mengubah ekspektasi terhadap apa yang bisa dilakukan oleh media massa cetak.
Masalahnya, untuk mencetak 125 ribu kopi diperlukan biaya sekitar US$ 130 ribu. Padahal, US$ 1 juta yang dijanjikan belum juga diperoleh. Yakin pada masa depan Wired, pada Desember Jesse memberikan garansi pribadi sehingga Edisi Perdana majalah tersebut dapat diluncurkan sesuai rencana: Awal 1992.
Dalam kolom Catatan Redaksi, Rossetto mengupas misinya. ?Why Wired?? tulis sang Pemimpin Redaksi. ?Sebab, Revolusi Digital tengah menerpa kita bak topan Bengali ? sementara media mainstream masih saja tertidur. Juga, karena media cetak komputer masih kelewat sibuk menelurkan PCInfoComputingCorporateWorld teranyar dengan formula iklan plus sebagian katalog buat mendiskusikan arti atau konteks perubahan sosial yang begitu besar sehingga satu-satunya yang menyamai mungkin cuma penemuan api.?
Menyertakan alamat e-mail-nya di akhir manifesto tersebut, segera saja Rossetto dibanjiri respons. Memadukan optimisme radikal dan iconoclasm, Wired membuat khalayak ? orang-orang yang paling akrab dengan dunia komputer ? merasa buta informasi. ?Aku seperti tertidur selama ini,? ujar Nathan Myhrvold ketika pertama melihat Wired. Dapat dibayangkan, kalau seorang Myhrvold yang Chief Technology Officer Microsoft saja merasa seperti ini, bagaimana pula para penggemar komputer biasa?
Kendati demikian, opini kalangan penerbit dan pakar media tetap saja dingin. ?Menurut saya, masyarakat butuh service dan info ? mereka tak tertarik pada gaya hidup para penggila komputer,? ujar Peter Craig, bos Magazine Consulting Group yang berbasis di Los Angeles. Di New York, Dan Orlow memberi komentar serupa. ?Saya tidak melihat masa depan mereka,? ujar petinggi Periodical Studies Service ini. ?Yang mereka lakukan cuma semacam uji coba. Jujur saja, saya tidak melihat mereka bakal punya pembaca.?
Sejarah membuktikan ramalan Craig, Orlow, dan para pakar media salah. Hanya beberapa minggu setelah peluncurannya, kopi majalah Wired di New York dan Los Angeles ludes. Lalu, memasuki Maret, Wired Edisi Perdana sudah jadi barang langka di banyak kota AS. Kalau ada berita di local bulletin board system — betapa kecil pun para penggila teknologi yang jadi anggotanya ? bahwa masih tersisa beberapa kopi majalah ini di sebuah toko buku gurem, 10 mil arah luar kota, dalam tempo tak lebih dari satu jam kopi tersebut langsung disambar orang. Harga yang cukup tinggi, US$ 4,95, rupanya tak membuat konsumen mundur. Banyaknya orang yang kecewa karena tak kebagian ini membuat Wired kebanjiran permintaan langganan untuk Edisi 2.
Setelah peluncuran yang sukses itu, Jesse berhasil menyelesaikan putaran investasi pertama. Namun, target US$ 1 juta tak terpenuhi. Sang bankir cuma berhasil meraup US$ 650 ribu yang segera ludes untuk biaya pemasaran melalui pos, promosi, perjalanan sehingga untuk membayar gaji yang kecil pun agak kesulitan.
Edisi berikutnya, yang biaya cetaknya tak bisa dibayar penuh, membuat kantor kecil Wired semakin sesak oleh surat yang berkantong-kantong dari pembaca dan calon pelanggan. Ini membuat awak Wired kian frustrasi, karena uang yang masuk tak bisa menutup biaya. Maka, pada Agustus, percetakan menolak mencetak Edisi 4.
Wired tinggal menunggu hari. Namun, muncul keajaiban ? justru dari cara kerja yang masih amburadul. Ceritanya, kewalahan oleh surat yang menumpuk, seorang staf sirkulasi lupa ada setumpuk cek dari pelanggan yang selama berminggu-minggu tersimpan di lacinya dan belum diuangkan. Ketika menemukan harta karun itu, Metcalfe marah sekaligus lega.
Setelah membayar sebagian ongkos cetak, Wired dapat dilempar ke pasar lagi. Rossetto dan Metcalfe pun punya tambahan waktu untuk mencari investor yang tak menginginkan kendali perusahaan. Popularitas Wired yang telah melambung membukakan lebih banyak pintu buat mereka.
Pada suatu Sabtu pagi, tak lama setelah peluncuran Edisi 4, Metcalfe menerima telepon dari John Veronis. Mitra John Suhler, bankir yang pernah menolak Rossetto dan Metcalfe setahun sebelumnya ini ingin bertemu untuk membicarakan kemungkinan investasi di Wired.
Rossetto dan Metcalfe sebenarnya telah menetapkan harga US$ 3,5 juta untuk 15% saham perusahaan. Artinya, sejoli ini pasang angka selangit: US$ 23 juta untuk majalah yang baru saja diluncurkan. Ini masih dengan satu syarat: kendali bisnis tetap di tangan mereka. Setelah pontang-panting tak membawa hasil, tawaran yang datang jelas membawa angin segar. Masalahnya, itu tadi, tawaran ini datang dari orang yang membuat keduanya terhina pada saat sangat membutuhkan.
Metcalfe menutup receiver teleponnya dengan tangan dan berbisik kepada Rossetto, ?Ini John Veronis.?
?Tell him to go fuck himself,? jawab Rossetto.
Metcalfe tak menyampaikan jawaban sang pacar. Dia mendengarkan lagi apa yang diinginkan Veronis lalu menutup receiver dan berbisik lagi, ?Mereka punya apa yang mereka gambarkan sebagai pemain besar bisnis media yang ingin tanam uang ke majalah kita.?
Ketika Rossetto mengulangi jawabannya, Metcalfe memberikan jawaban menolak kepada Veronis. Lalu, dia membisikkan lagi jawaban sang bankir, ?Pemain besar itu adalah Si Newhouse dari Cond? Nast.? Semakin meradang, Rossetto teriak, ?Tell John Veronis to go fuck himself!?
Metcalfe mengatakan sesuatu yang lebih berbudaya, lalu berbisik lagi kepada Rossetto untuk keempat kalinya. ?John Veronis bilang, kalau kamu nggak butuh uang mereka setidaknya kamu ketemu Si,? katanya. ?Dia ingin ketemu kamu. Dia itu orang penting di dunia majalah, kamu pasti akan butuh dia suatu hari.?
Rossetto akhirnya luluh. Namun, Si Newhouse yang ditemuinya tak seperti taipan media yang dia harapkan. Lelaki kecil itu memiliki sekumpulan majalah paling glamor, termasuk The New Yorker, Vanity Fair dan Vogue. Duduk di kantornya yang mewah di New York City, Newhouse yang memakai sepatu tanpa kaus kaki tampak malu-malu tetapi senang bisa jumpa dengan sang sejoli. Penampilan sang konglomerat mengingatkan Rossetto pada seekor kura-kura. Dengan Veronis dan Metcalfe yang duduk berdiam diri, mereka mendiskusikan majalah lain selama satu jam lebih. Setelah atmosfer yang melingkupi terasa menyenangkan, barulah masuk ke masalah bisnis.
?Kamu tahu kenapa kita ketemu sekarang?? tanya Newhouse. ?Kami ingin tanam investasi di majalahmu.? Sebelumnya, Rosetto dan Metcalfe sudah kirim faks kepada Veronis tawaran selangit mereka, US$ 3,5 juta ?Saya tahu kalian sudah kasih tawaran,? sang taipan melanjutkan, ?dan kami menerimanya.?
Rossetto menatap Metcalfe, dan Metcalfe menatap Newhouse. ?Anda paham syarat-syaratnya?? suara Metcalfe memecahkan keheningan yang mengambang. ?Ya, saya paham dan kami menerima persyaratan itu.?
Pada musim semi 1993, The American Society of Magazine Editors mengundang Wired membeli meja pada pesta pemberian award tahunan yang diadakan di Hotel Waldorf-Astoria, New York. Rossetto dan Metcalfe menganggap undangan itu cuma basa-basi, tetapi mau hadir juga setelah didorong oleh teman-teman lain. Di antara hadirin, ada para redaktur dan publisher top AS. Dan malam itu, sejoli yang kehadirannya tak diakui komunitas bisnisnya sehingga harus pakai jalan memutar itu menyabet hadiah paling bergengsi: National Magazine Award untuk general excellence.
Usai acara makan malam, Rossetto mendapat ucapan selamat dari Wenner. Lelaki yang sukses menunggang gelombang pasang budaya rock ?n? roll ini masih jadi Pemred Rolling Stone ? majalah yang membuatnya mampu bertahan sebagai publisher independen walau telah 30 tahun lebih. Sang legenda dari San Francisco itu mengakui bahwa jejak suksesnya telah ada yang menapaki.
Ya, dengan Wired yang telah mendapat pengakuan sebagai pengusung bendera milenium baru, Rossetto dan Metcalfe telah berkibar sebagai publisher sukses. Kalau sejoli ini mau berhenti sampai di sini, kisah sukses mereka yang romantis tentu akan terpampang di berbagai media massa seluruh dunia.
Namun, Rossetto dan Metcalfe tak ingin jadi sekadar seorang Wenner yang lain. Euforia TI yang tak cuma melahirkan dunia khayali seperti hura-hura rock ?n? roll dengan anthem-nya, Lucy in the Sky with Diamond yang memuja LSD itu, membuat keduanya ingin berjaya sebagai pasangan raja dan ratu bisnis: ingin mendirikan imperium multimedia yang membentang sampai ke jagat cyber.
Pada 1994, Wired Ventures Inc., perusahaan induk Wired, meluncurkan Hotwired.com. Rossetto dan Metcalfe yang dijuluki ?Adam dan Hawa dunia digital? segera menjadi magnet yang menarik banyak bakat muda yang ambisius dan cemerlang. Beberapa awak Hotwired.com mulai menerbitkan komentar satir yang menggelitik di Web. Tak sampai tiga bulan kemudian, sejoli ini sadar bahwa tulisan yang mulai membentuk komunitas tersendiri itu adalah kerja orang dalam. Untuk mempertahankan ide yang mulai diterima pasar itu, mereka menyediakan fasilitas kantor tersendiri dan Suck.com pun resmi jadi bagian Wired Ventures.
Cikal bakal imperium multimedia Rossetto dan Metcalfe dengan cepat melahirkan Wired Digital (menangani bisnis peranti lunak, berita online, dan dotcom lainnya), HardWired (divisi buku), WiredTV (antara lain memproduksi acara TV mingguan buat jaringan kabel MNBC), Wired UK, Wired Japan, dan lain-lain. Pertumbuhan luar biasa dalam waktu singkat ini menggembirakan sekaligus menimbulkan beban keuangan yang tak tertahankan sehingga Wired yang telah jadi idola para pemasang iklan ? karena pembacanya adalah orang-orang berusia 30?40 tahun dengan penghasilan rata-rata US$ 120 ribu/tahun, walau jumlah pelanggan tetapnya baru beberapa ratus ribu ? tak kuat menanggungnya. Keadaan ini memaksa mereka mencari dana di lantai bursa.
Hasilnya? Penawaran perdana, IPO, yang diluncurkan tak mendapat sambutan pasar. Padahal, prospektus yang diterbitkan sangat bagus ? desainnya berani, penuh warna-warni metalik seperti Wired, dan sama sekali tidak kering. Selain itu, valuasi yang disodorkan cuma US$ 500 juta, alias jauh di bawah nilai multimiliar dolar yang dipatok Yahoo, Amazon dan eBay yang justru laku bak kacang goreng itu.
Pada akhir 1996, dengan 360 karyawan dan tingkat pembakaran kapital US$ 3 juta/bulan, Wired Ventures harus melakukan restrukturisasi besar kalau tak mau ambruk. Proyek yang kelewat banyak menyedot dana dan eksekutif yang kelewat tinggi gajinya harus dilepas. Maka, pada Januari 1997, Wired UK ditutup. Kemudian, HardWired dibonsai menjadi hanya wahana pemasaran untuk pengembangan ide Wired dan produksi acara TV untuk MSNBC dibekukan setelah hanya menghasilkan empat episode. Bisnis online Wired Ventures pun dirampingkan sehingga pada 1997 hanya mengelola empat brand dari sebelumnya yang sampai 11 brand. Perampingan yang dilakukan membuat daftar karyawan terpangkas jadi 285 orang.
Sementara itu, tiras dan iklan Wired yang merupakan cash-cow perusahaan didongkrak. Proyek yang prospektif juga terus digenjot, tetapi melalui kemitraan strategis. Salah satunya dengan memuat konten ke situs Web milik perusahaan lain, seperti PointCast Inc. Konten Wired yang menjadi fitur terpopuler di kanal Internet milik PointCast mendatangkan fee lumayan, US$ 1 juta/tahun, sehingga dijadikan model kerja sama selanjutnya oleh Rossetto dan Metcalfe.
Rapor Wired Ventures pun pelan-pelan membaik. Turunnya Rossetto dari jabatan yang terkait dengan manajemen sehari-hari mendapat sambutan baik dari kalangan pengamat yang menilai campur tangan sang pendiri yang kelewat jauh telah membelenggu kemajuan bisnis. Dengan demikian, dalam keadaan terdesak Wired Ventures bisa memperoleh suntikan dana melalui private financing, walau nilainya, US$ 21,5 juta, membuat perusahaan itu hanya dihargai US$ 125 juta ? jauh di bawah valuasi yang diharapkan, US$ 450 juta.
?Kami masuk ke bursa ketika pasar hi-tech lagi jelek,? Rossetto berkilah. Seperti bapak muda yang membela bayinya, dia tak mau mengakui bahwa perusahaan yang didirikannya kelewat ekspansif dan pasar tak mau menerima ekstensi merek yang kelewat membebani usaha. Dana segar yang masuk bisa membuat Wired Ventures tak sampai tersuruk. Akan tetapi, agaknya, apa yang dilakukan sudah terlambat sehingga kelebihan beban yang kronis membuat sulit tinggal landas. Tak mungkin bagi Wired, sebagai satu-satunya mesin uang, menghela seluruh perusahaan. Maklum, satu divisi seperti Wired Digital saja, yang membawahkan search engine HotBot, Wired News, HotWired dan suck.com, merugi US$ 10 juta pada 1997.
Itu sebabnya, memasuki 1998, tak ada jalan lain bagi Rossetto untuk bertahan kecuali memereteli anak-anak perusahaannya. Pada akhir tahun itu, Wired Ventures melepas Wired Digital ke tangan Terra Lycos. Di sini, Wired Ventures menerima US$ 95 juta dalam bentuk saham Lycos plus dana tunai US$ 1,5 juta untuk Rossetto dan Metcalfe. Sebelumnya, Juni, Wired Ventures melego sebagian saham di divisi majalah, buku dan bisnis TV kepada Advance Magazine Publisher senilai US$ 90 juta.
Pada 1999, Wired jatuh ke pelukan Cond? Nast, kampiun industri media yang sejak awal mendukung pertumbuhan majalah itu. Harga yang dibayar Newhouse tak kelewat mahal: US$ 90 juta. Sisa saham Wired Digital, bisa ditebak, jatuh ke tangan Lycos yang pada deal awal telah mengikat Rossetto dengan perjanjian untuk tidak berhubungan dengan penawar lain. Tak heran, tidak seperti Excite yang harganya premium karena diperebutkan oleh Yahoo dan @Home, fulus yang diperoleh dari penjualan divisi peranti lunak dan dotcom Wired Ventures ini tak sampai US$ 400 juta.
?Bagi Rossetto,? ujar penulis Wired: A Roman yang juga mantan orang dalam, Gary Wolf, ?ini adalah kekalahan yang tersamar bak kemenangan.?
Rossetto dan Metcalfe lalu jadi kaya walau tak sampai jadi mahajutawan seperti pendiri Yahoo (Jerry Yang dan David Filo), Amazon (Jeff Bezos) dan eBay (Piere Omidyar). Namun, mereka kehilangan Wired Ventures yang digadang-gadang sejak bayi. Terlebih lagi, mereka kehilangan api semangat jagat cyber yang membuat keduanya dulu begitu hidup. Adam dan Hawa dunia digital itu bahkan telah kehilangan surganya ? tempat terhormat ? walau nama Rossetto masih tercantum di masthead Majalah Wired dan Metcalfe berhasil memosisikan diri sebagai juru bicara bagi mereka yang tersisihkan di dunia yang ikut dia besarkan itu.
Romansa yang awalnya begitu indah ternyata bisa berakhir lara.
The Wired Way
Seperti bisnis baru lainnya, Wired tak pernah tahu pasti di mana bisa menemukan sumber dana. Sebab itu, Rossetto dan Metcalfe harus gesit dan inovatif. Inilah kiat mereka mengapungkan bisnisnya di tengah impitan kesulitan keuangan:
Sumber: Business 2.0.
Riset: Atang Windarto.
Dilarang keras mengambil konten (tulisan, foto, infografis, video, dan sebagainya) yang dimuat di situs web ini, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk platform AI (artificial intelligence) dan platform digital lainnya, tanpa izin tertulis dari direksi yang berwenang di situs web ini.