“Mainan” Baru Annie Savitri

“Mainan” Baru Annie Savitri

Sosok Annie Savitri bisa dibilang identik dengan Taman Sari Heritage Spa (TSHS). Setiap TSHS tampil, wanita ayu itu selalu mendampingi. Maklumlah, Annie memang salah satu bidan yang melahirkan gerai Spa Mustika Ratu milik keluarga Moeryati Soedibyo itu.

Kini, setelah lebih dari 10 tahun intens bergulat dengan TSHS, Annie memutuskan meninggalkannya dan memulai bisnis baru di bidang yang sama: industri spa, yaitu Tirta Ayu Spa. TAS dikembangkan dengan spesialisasi di bidang V-spa. “Nuansanya memang berbeda dengan TSHS. Tapi saya yakin ini akan menjadi besar karena demand-nya besar, ditambah sinergi kemampuan kami masing-masing,” kata wanita 41 tahun ini menegaskan. Menurutnya, sudah cukup baginya mengambil peran di perusahaan yang telah solid sistem kerjanya seperti Grup Mustika Ratu.

TAS pertama kali dikembangkan oleh Lenywati. Awalnya, Leny ikut terlibat dalam misi kemanusiaan ke Afrika Tengah kala wabah kelamedia – bakteri kelamin wanita — menjangkiti warga di wilayah tersebut dua tahun lalu. Leny memberikan kontribusinya dengan membawa formula produk herbal hasil racikannya yang terbukti manjur. Produk hasil racikannya cukup ngetop di kalangan penggunanya.

Sesungguhnya, bukan yang pertama ini Leny membuat formula obat herbal. Sarjana teknik arsitektur ini memang gemar membuat ramuan obat herbal. Ia belajar dari para ahli herbal di Keraton Yogyakarta. Tidak berhenti sampai di situ, ia lantas menyinergikan keahliannya meracik ramuan herbal dengan ilmu yang diperolehnya dari sekolah di bidang akupresur organ reproduksi di Cina. “Kalau produk racikan kami ini bisa dikemas dengan teknologi modern dan steril yang bagus, ini bisa jadi produk unggulan Indonesia,” ujar Leny tentang ramuan obat herbalnya.

Berangkat dari kepercayaan diri dan bekal ilmu yang dimiliki, Leny pun mengembangkan produk perawatan vagina meski dengan skala industri rumahan dengan menggunakan merek V-Spa Tirta Ayu. Tahun 2008 ia membangun CV Tirta Ayu Spa. Ia melakukan penetrasi pasar dengan memberikan sampel dan berbicara di seminar-seminar yang terkait dengan perawatan tubuh wanita. Ia mengajarkan kepada kaum wanita dengan cara-cara tradisional melalui resep-resep yang dimiliki. Ia pun membuka layanan untuk berinteraksi dengan pelanggan secara intens baik langsung maupun lewat surat elektronik perihal bagaimana merawat vagina. “Kami punya lab sendiri untuk uji klinisnya,” ujarnya.

Dengan modal awal sekitar Rp 50 juta, Leny pertama kali mengekspor sekitar 500 pieces produk perawatan wanita seperti sabun dan masker. Namun setelah dievaluasi, ternyata perawatan vagina dan sekar malam paling laris saat itu.

Tahun 2010 ini, Leny pun akhirnya memberanikan diri membuka spa dengan menggandeng Annie dan Indah Puspitarini sebagai mitranya. Keberadaan mitra kerja ini membuat keyakinannya bertambah bahwa kelak ia bisa membawa nama Indonesia ke mancanegara melalui produk-produk V-Spa dan layanan spa-nya. ”Bu Annie expert di bidang spa dan link-nya cukup besar,” ungkap wanita 45 tahun ini.

Annie mengatakan, tingkat keingintahuan kaum wanita akan V-spa sebenarnya sangat tinggi. “Mereka sebenarnya butuh, tapi malu-malu. Kebetulan saya ketemu Mbak Leny, gayung bersambut. Demand V-spa akan tinggi dan peminat dari perempuan Indonesia sudah mulai banyak,” cerita ibu satu anak ini. Karena alasan itu, ia sangat tertarik ketika ditawari untuk bekerja sama dengan Leny.

TAS membuka gerai pertama di Bojonegoro. Sejak awal Spa ini memang dipersiapkan menjadi besar. Buktinya, spa ini sudah mempunyai standardisasi, baik sistem maupun standard operating procedure-nya. Tak hanya itu, mereka juga membangun training center. Di tempat ini mereka melatih anak-anak putus sekolah atas pembiayaan sendiri agar terampil melakukan treatment spa. Beberapa bulan kemudian, dibukalah cabang di Jakarta, tepatnya di gedung Bidakara.

“Responsnya luar biasa. Banyak kasus yang terselesaikan. Tadinya mereka malu dan ada sesuatu yang tidak terjangkau oleh dunia kedokteran justru terjangkau oleh herbal. Makanya kami fokus di bidang perawatan kewanitaan ini. Mulai dari menstruasi pertama sampai mereka yang menopause,” Leny menjelaskan.

Keberhasilan TAS di Bojonegoro juga telah menarik minat beberapa pemerintah daerah untuk membangun bisnis sejenis di wilayahnya. Untuk itu, tiga serangkai ini meminta pemda setempat

memberi kemudahan bagi usaha ini, mulai dari membangun kemitraan dengan para petani sebagai penyedia bahan baku sampai membuka prototipe gerai TAS dan pusat pelatihannya di Bojonegoro.

Sekarang, Annie sedang mematangkan pola pengembangan usaha TAS lewat jalur waralaba. Ia menjelaskan, dengan modal Rp 550 juta, mitranya (franchisee) sudah bisa membuka gerai TAS. Nilai tersebut sudah termasuk franchise fee untuk kontrak 10 tahun, equipment untuk treatment, pelatihan dan stok produk untuk tiga bulan, desain interior plus IT software. Adapun royalty fee dari revenue sebesar 5% dan technical fee 5%.

Rencananya, Annie dan Leny akan mengembangkan waralaba TAS ini ke negara-negara di Asia seperti Malaysia, Filipina dan Singapura. Sukses di Afrika Tengah dan Afrika Selatan membuat keduanya yakin bisnis ini dapat berkembang di luar negeri. “Mungkin semester kedua tahun depan kami sudah ke Malaysia,” ungkap Annie.

Reportase: Taufik Hidayat

# Tag