Trends Economic Issues zkumparan

Sarang Walet Bicara Sejarah Hubungan Dekat Indonesia-Tiongkok

Dubes RI di Tiongkok, Djauhari Oratmangun, mengatakan, Indonesia menguasai sekitar 70% pasar sarang burung walet di China

Djauhari Oratmangun, Duta Besar Republik Indonesia untuk Republik Rakyat Tiongkok, mengatakan, sarang burung walet, Caviar of the East, telah dikenal sejak abad ke-15.

Sarang walet dimulai dari petani kecil di kawasan yang kini dikenal sebagai Jawa Timur dan Kalimantan Timur. Sejak saat itu, khususnya pada abad ke-17, perdagangan sarang burung walet mulai berkembang dan semakin banyak pedagang Tiongkok dari Dinasti Ming mulai mencari dan memperdagangkan sarang burung walet atau ‘yan wo’ dengan produk-produk lainnya seperti porselen, sutra, dan obat-obatan tradisional.

Dubes Djauhari berbicara pada acara The 1st China Bird’s Nest Industrial Summit yang diselenggarakan di Xiamen, Republik Rakyat Tiongkok (RRT), pada tanggal 18 Mei 2018. Forum tersebut diselenggarakan oleh Yan Palace, perusahaan sarang burung walet terbesar di Tiongkok, khususnya pangsa pasar dan volume perdagangan. Yan Palace merupakan importir utama bagi produk sarang burung walet Indonesia.

Forum diselenggarakan bekerja sama dengan China Agricultural Wholesale Market Association (CAWA) dan bertujuan untuk mempromosikan sarang burung walet di antara konsumen Tiongkok. Forum ini juga diharapkan akan meningkatkan pemahaman terhadap manfaat sarang burung walet dan meningkatkan kerja sama di antara pebisnis untuk membangun industri sarang walet yang sehat.

Turut hadir dalam forum tersebut perwakilan dari Pemerintah Provinsi Fujian, Pemerintah Kota Xiamen, pemimpin asosiasi pangan Tiongkok, akademisi, pebisnis Tiongkok, serta berbagai eksportir sarang burung walet dari Indonesia, Malaysia, dan Thailand.

Sarang burung walet merupakan produk yang menjadi perhatian Indonesia dan Tiongkok saat ini. Dubes Djauhari menceritakan bagaimana produk sarang burung walet menjadi salah satu pembahasan dalam pertemuan Presiden RI Joko Widodo dan Perdana Menteri RRT Li Keqiang dalam kunjungannya awal bulan Mei 2018 yang lalu.

Dengan sejarah perdagangan yang panjang, tidak heran jika kemudian Indonesia dan Tiongkok menjadi teman dekat. Dubes Djauhari menekankan bahwa hubungan Indonesia dan Tiongkok dapat lebih dikembangkan, khususnya untuk menghadapi masa depan ekonomi Tiongkok sebagai ekonomi nomor satu dan Indonesia sebagai ekonomi terbesar ke-5 di dunia.

Indonesia, RRT, dan ASEAN akan menjadi pemain utama dalam pertumbuhan ekonomi global, dan hal ini dimulai dari hal kecil dengan meningkatkan perdagangan kedua negara, khususnya sarang burung walet yang merupakan komoditas strategis perdagangan Indonesia-Tiongkok.

Sejak ekspor langsung sarang burung walet Indonesia ke Tiongkok pada tahun 2015, nilai perdagangan produk tersebut terus meningkat dari tahun ke tahun. Pada 2017, nilai ekspor sarang burung walet ke Tiongkok mencapai US$102,8 juta. Hingga April 2018, tercatat sebanyak 17 eksportir Indonesia telah tersertifikasi untuk dapat melakukan ekspor langsung ke Tiongkok.

www.swa.co.id


Copyright @2023. SWA Online Magazine

All Right Reserved