Juragan Kue dari Kota Kembang

Juragan Kue dari Kota Kembang

Suatu siang di Bulan Ramadhan. Suasana ingar-bingar menyergap rumah bercat putih tanpa pagar di perkampungan Bojong Koneng Atas, Cikutra, Bandung. Di belakang rumah yang berundak-undak itu, hampir seratusan orang berjubel di ruangan yang dipenuhi deretan oven pembakaran dan ratusan karung terigu. Puluhan wanita tampak sibuk membuat cetakan kue nastar, kastengel, putri salju dan puluhan macam kue lainnya. Sekitar 15 orang terlihat tengah membolak-balik kue di 14 oven pembakaran.

Sementara itu, sang pemilik rumah, Diah Susilawati, sejak berkumandang azan Subuh sampai menjelang siang tampak sibuk menimbang bahan-bahan untuk adonan kue. Dengan cermat ia menimbang komposisi terigu, mentega dan telur untuk setiap adonan. Sesekali Diah mengontrol pegawainya yang tengah membuat adonan dan membakar kue. Aroma kue kering memenuhi ruangan, bahkan meruap sampai jalanan depan rumah.

Selama Ramadhan itu, dari pagi sampai malam, Diah berkutat dengan terigu, telur, mentega, keju, cokelat, kismis, kenari dan bahan kue lainnya. Maklum, bukan 10 ataupun 100 toples kue yang mesti ia siapkan. Tahun lalu, ia harus membuat 50 ton kue kering yang setelah dimasukkan ke dalam toples-toples menjadi 72 ribu toples — per toples berisi 0,5 kg kue kering. Untuk membuat kue kering itu, ia membutuhkan 30 ton terigu, 15 ton mentega dan 5 ton telur. Dengan mematok harga Rp 22-40 ribu/toples, ia meraup omset Rp 1,7 miliar dengan laba hampir Rp 550 juta.

Lebaran dan Natal tahun ini, Diah menargetkan bisa meraup omset 100 ribu toples kue kering. “Saya optimistis tahun ini ada kenaikan pesanan,” kata kelahiran Bandung, 14 Oktober 1963 itu. Keyakinannya dipicu pengalamannya, setiap tahun ada kenaikan sekitar 30%. Sejak digelindingkan pada 1996, bisnis kue keringnya terus tumbuh. Saat mengawali bisnis, ia membukukan omset Rp 200 juta dengan modal Rp 100-150 juta. Tahun-tahun berikutnya, omsetnya rata-rata tumbuh 30%.

Kue kering dengan label Jocye ini tak cuma dinikmati warga Bandung, tetapi juga melanglang ke Jakarta, Surabaya dan Bali. Ibu dari Jodi (15 tahun) dan Cindy (13 tahun) ini tak perlu capek-capek menyambangi kota-kota itu. Pasalnya, jaringan agen telah terbangun. Diah tinggal mengirimkan kue-kue kering pesanan para agen. “Kadang ada juga yang mengambil langsung ke sini,” katanya. Kini ia memiliki sekitar 200 agen. Di Bandung, selain melalui agen, ia juga memasarkan langsung dengan menyewa dua tempat di Jalan Otten dan Cihampelas.

Menurutnya, jaringan agen awalnya dibangun dengan mengandalkan hubungan keluarga dan pertemanan. “Awalnya, keluarga dan teman-teman yang membantu memasarkan,” ungkapnya. Untuk menjadi agen, syarat yang dipatok Diah adalah membeli terlebih dulu tiga lusin toples kue keringnya. Bagi para agen, akan diberikan potongan harga 15%-20%. Toh, menurutnya, banyak juga agen yang mematok sendiri harga kue kering itu. Mereka, katanya, membeli produk kue keringnya tanpa label. “Jadi, mereka bebas mau menjual dengan harga berapa pun,” tambahnya.

Sejak awal menggelindingkan bisnis kue kering, Diah menyadari betul, usahanya akan berjalan dengan dukungan jejaring. Tak pelak, langkah awal yang dilakukan ketika itu adalah membangun jaringan. “Banyak teman kan banyak rezeki,” katanya sembari tertawa kecil. Supaya kue kering buatannya tak hanya dinikmati warga sekitar tempat tinggalnya, ia menitipkan dagangannya ke toko sembako milik sang kakak. Meski masih di kawasan Bandung, kuenya menjadi tak terbatas hanya dikonsumsi tetangganya. Kerabatnya yang tinggal di Jakarta dan Surabaya pun dikirimi kue untuk disebarluaskan.

Teman dan kenalan pun tak luput dari incarannya. Mereka juga menjadi ladang jaringan pemasaran yang dibangun Diah. Apalagi, teman-teman yang bekerja di instansi pemerintah dan perusahaan swasta. Dari pertemanan ini pula, diakuinya, sejak 1998 ia bisa memasok kue kering di beberapa perusahaan di Bandung, seperti Telkom, BRI, Pertamina, Bank Jabar, BCA, Kimia Farma dan industri yang banyak tersebar di kota yang dijuluki Parisj van Java itu. Menurutnya, perusahaan-perusahaan itu umumnya memesan kue-kue kering dalam bentuk parsel untuk Lebaran dan Natal. Sejak beberapa tahun lalu, ia juga memasok kue kering ke jaringan Tops Super Market.

Jaringan juga dibangun alumni Fisip Universitas Parahyangan, Bandung itu lewat organisasi pengusaha. “Saya masuk menjadi anggota Iwapi Bandung dan suami tergabung dalam Hippi,” katanya. Dalam pandangannya, banyak manfaat yang ia petik dengan ikut organisasi pengusaha. “Terus terang, saya bisa melek soal bisnis setelah ikut organisasi,” ujarnya. Manfaat lain yang dirasakannya adalah kemudahan mendapat informasi dan ikut pameran.

Ajang pameran juga dijadikan Diah sebagai upaya memasarkan Jocye. Menurutnya, ia tergolong pengusaha kue kering yang rajin ikut pameran. Lewat pameran, ia bisa menjaring pelanggan baru bahkan merekrut agen baru. Pameran yang pertama diikutinya adalah pameran di ITB pada 1996. Setelah itu, ia hampir tak pernah absen. Pameran yang diikutinya tak sebatas lingkup wilayah kantor-kantor BUMN di Bandung. Ia juga kerap berpameran di Jakarta. Bahkan, sejak tahun 2000, pameran yang diikutinya sudah merambah ke pusat belaja dan hotel di Ibu Kota, seperti Mal Taman Anggrek, Mal Kelapa Gading, Hotel Sahid dan Sheraton.

Besarnya animo masyarakat terhadap stan Jocye membuat pihak manajemen mal kini selalu mengajaknya berpameran. “Sekarang, malah saya yang sering mereka kontak untuk ikut pameran,” kata Diah. Toh, ia mengaku pernah juga mengalami kegagalan memasarkan lewat pameran. Rupanya ketika itu ia tidak selektif memilih tempat pameran. Saat itu pameran dagang yang digelar ditujukan untuk khalayak menengah-bawah. Walhasil, kue-kue yang digelarnya tidak laku karena kemahalan buat kantong mereka. “Pengalaman itu mengajari saya untuk selektif memilih tempat pameran,” tuturnya.

Tak hanya pameran yang menjadi fokus perhatiannya. Diah pun sangat memperhatikan perbaikan kualitas dan kuantitas jenis kue kering Jocye. Sebagus apa pun jejaring, tanpa dibarengi produk yang berkualitas, ya omong kosong. Ia menjamin kue buatannya bebas bahan pengawet meski bisa tahan sampai empat bulan. “Soalnya, bahan-bahan bakunya juga pilihan,” dalihnya. Ia juga rajin bereksperimen, menjajal aneka resep kue dikombinasi dengan racikannya. Sekarang, tak kurang dari 30 jenis kue kering ditawarkan Jocye.

Hampir sama dengan pengusaha kue kenamaan yang lain, Diah memulai usaha kue keringnya karena dipicu hobi. Kegemaran membuat kue baru dimulai setelah ia menikah dengan Dedi Hidayat (46 tahun), alumni Jurusan Matematika Universitas Padjadjaran, Bandung. Ketika awal membina rumah tangga, pasangan Diah-Dedi tinggal bersama sang kakak. “Waktu itu saya suka bantu kakak membuat kue,” katanya. Mengisi kekosongan waktu setelah tinggal di rumah sendiri, ia praktikkan berbagai resep kue yang didapatnya dari sang kakak.

Saking banyaknya kue kering yang dibikin, ia lantas memberanikan diri menawarkan ke tetangga dan kerabat. Jumlah kue yang dibuatnya masih sedikit. “Paling berapa toples dan ternyata mereka suka,” ceritanya. Awal yang baik ini menggelitik Diah untuk menerjuni dunia wirausaha. Apalagi, suami mendukung. Toh, ia melihat bisnis kue kering amerupakan bisnis musiman, ramai kalau menjelang Lebaran dan Natal. Supaya bisnisnya tetap berjalan, ia lantas melirik pasar bakery yang bisa dijual saban hari.

Dengan modal pinjaman dari Sarana Jabar Ventura (SJV) sebesar Rp 100 juta, ia mengibarkan Jocye. Tambahan modal dari SJV itu ia belikan peralatan kue dan membeli empat mobil keliling. Ia juga merekrut 10 pegawai termasuk sopir. Ternyata, bisnis roti Jocye mendapat respons bagus. Diah bisa menjual 1.000 potong roti dengan nilai Rp 4 juta. “Ketika itu, saya membuat kue kering kalau ada pesanan dan menjelang hari raya,” katanya.

Tak seperti kue kering yang terus bertumbuh, bisnis bakery Jocye agak tersendat. Tak terlalu menguntungkan, akhirnya pada 1997 Diah mengambil keputusan hanya mengoperasikan dua unit mobil keliling, sampai sekarang. “Bisnis roti tidak terlalu bagus. Untungnya, saya tertolong kue kering,” tambahnya. Menurut dia, bakery masih tetap dipertahankan untuk menopang operasional sehari-hari. Maklum, karyawannya kini 35 orang. Saat pesanan kue kering ramai, pegawainya membengkak sampai 100-an orang. Toh, dalam hari-hari biasa tetap ada permintaan kue kering. “Jumlahnya memang tak sebanyak saat hari raya,” ungkapnya.

Beruntung saat ini ia dibantu sang suami. Mantan karyawan di konsultan perminyakan itu akhirnya memutuskan membantu mengembangkan usaha kue kering yang dirintis istrinya. Tugas Dedi, menurut Diah, selain membantu memperluas jejaring, juga menjalin kerja sama dengan pemasok. Pasalnya, selama bulan puasa dan menjelang Idul Fitri, harga terigu dan telur kerap naik-turun. “Pengadaan bahan-bahan kue menjadi urusan suami saya,” katanya. Kerja sama dengan para penyelenggara pameran, pusat perbelanjaan dan bank pun kini menjadi tanggung jawab Dedi. Diakuinya, untuk modal membuat kue kering saat menjelang Idul Fitri, ia masih membutuhkan suntikan modal dari bank. “Jangka pembayarannya pendek, paling lama empat bulan,” katanya.

Seperti pengusaha lain, Diah pun ingin mengepakkan sayapnya lebih tinggi. Cara yang dilakukannya: makin memperluas jejaring dan memperbanyak jaringan agen. “Saya ingin menjajal, ikut pameran di Mal Pondok Indah sesuai dengan target pasar Jocye,” katanya. Selain itu, manajemen pun menjadi agenda untuk memperbaiki sistem usaha Jocye. Saat ini ada empat karyawan yang ditugaskan di bagian administrasi. “Jadi, lebih rapi pembukuannya.”

Toh, masih ada yang mengganjal dalam diri Diah. Ternyata, saat ia hendak mematenkan merek Jocye, sudah ada pengusaha lain yang memakai nama tersebut. Ke depan, ia akan mengganti merek Jocye menjadi J&C. “Pelan-pelan sedang kami sosialisasi,” katanya. Ganjalan lain yang dirasakannya adalah tak bisa sepenuhnya menerima permintaan pesanan kue pelanggan. “Pas dekat hari raya, banyak pesanan yang ditolak soalnya nggak ada lagi tenaga. Mereka kadang marah-marah,” ungkapnya. Memang, Diah menerapkan aturan sangat ketat untuk pemesanan menjelang hari raya: dua minggu sebelum Lebaran dan Natal, sudah tidak menerima pesanan kue kering.

Dilarang keras mengambil konten (tulisan, foto, infografis, video, dan sebagainya) yang dimuat di situs web ini, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk platform AI (artificial intelligence) dan platform digital lainnya, tanpa izin tertulis dari direksi yang berwenang di situs web ini.

# Tag