Mandiri Unggulkan Sektor Kredit di Pembiayaan Ritel
Untuk meningkatkan keuntungan, Bank Mandiri mengunggulkan sektor perkreditan di ranah pembiayaan ritel. Meskipun dalam lingkup korporasi, Bank Mandiri juga menguasai pangsa sekitar 40% sampai 50%, terutama bagi perusahaan yang sudah terdaftar di pasar modal.
Pernyataan tersebut diungkapkan oleh Managing Director Chief Financial Officer Bank Mandiri, Pahala N. Mansury. Berbagai langkah telah dilakukan Bank Mandiri diantaranya perbaikan sistem pendanaan, memenuhi semua kebutuhan kebutuhan korporasi (dalam lingkup pasar modal, cash management, ekspor-impor, dan lainnya), menyiapkan infrastruktur seperti kantor cabang, outlet mikro, ATM, EDC dan masih banyak lagi.
Awal tahun 2010 Bank Mandiri melakukan right issue yang menghasilkan dana Rp 11,68 triliun. Langkah tersebut bertujuan untuk menjaga rasio kecukupan modal dalam rangka mendukung pertumbuhan kredit sampai dengan tahun 2014. Saat ini total kredit Bank Mandiri secara konsolidasi di kisaran Rp 250 triliiun yang terbagi menjadi pembiayaan retail (Rp 70 triliiun), pembiayaan corporate (Rp 85 triliun) dan sisanya pembiayaan komersial
“Paling tinggi perkembangannya sampai dengan triwulan pertama di tiga segmen tadi adalah pembiayaan riteil. Karena segmen retail seperti business banking (small business), segmen mikro dan consumer itu masing-masing tumbuh di atas 30%, bahkan segmen mikro bisa tumbuh sampai 38%. Jadi, pertumbuhan utama Bank Mandiri ada di segmen ritel baik di small business, micro maupun consumer banking,” ujar Pahala.
Kredit Bank Mandiri diharapkan bisa tumbuh antara 20-22% secara rata-rata. Dari sisi kredit, corporate bisa tumbuh 15%, commercial sebanyak 30%, micro diharapkan naik 38%. Saat ini jumlah dana pihak ketiga (DPK) Bank Mandiri sebesar Rp 320 triliun. Bila ditotal secara konsolidasi (dengan anak perusahaan) jumlahnya Rp 360 triliun. Pertumbuhan DPK setiap tahun antara 10-11%. Sampai akhir tahun ini diharapkan bisa tumbuh hingga 15%. Sedangkan jumlah nasabah dana sekitar 11,2 juta nasabah. Untuk nasabah kredit sebanyak 900 ribu nasabah.
Untuk memupuk kepercayaan investor dilakukan dengan berbagai cara. Seperti melakukan komunikasi secara periodik dan dilakukan secara terbuka. “Entah itu informasi baik atau jelek kita harus share kepada investor sehingga mereka percaya bahwa apa yang terjadi di Bank Mandiri kita sampaikan kepada mereka. Kita lakukan misalnya, tiap triwulan sekali diadakan analis meeting,” kata Pahala lagi.
Hal tersebut merupakan sebuah kegiatan mempertemukan beberapa analis untuk melihat Bank Mandiri yang hasilnya dibagikan kepada investor. Selain itu, dalam setahun ada 7 kali pertemuan dengan investor secara langsung (one on one). Baik itu melalui pertemuan investor conference atau kita langsung melakukan kunjungan ke investor-investor. Misalnya saya mendatangi investor ke kantor mereka untuk memberikan update kepada mereka.
Terkhir, at the end of the day, kita harus bisa buktikan bahwa yang kita janjikan bisa kita deliver. Contohnya, waktu kita mau menurunkan NPL dari 25% pada saat itu ke 4-5% dalam kurun waktu 2 tahun. Karena investor perlu pembuktian. “Kalau misalnya kita tidak bisa deliver, kita harus bilang ke mereka jauh-jauh hari dengan menjelaskan kondisi secara terbuka. Kepercayaan investor tidak terbangun dalam waktu 1-2 tahun saja. Tetapi perlu waktu panjang untuk membangun kepercayaan dengan membuka data secara sejujur-jujurnya, menginformasikan rencana perusahaan serta harus semakin banyak akses yang tersedia untuk mengetahui informasi yang terjadi di Bank Mandiri,” tegas Pahala. (Acha)
Dilarang keras mengambil konten (tulisan, foto, infografis, video, dan sebagainya) yang dimuat di situs web ini, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk platform AI (artificial intelligence) dan platform digital lainnya, tanpa izin tertulis dari direksi yang berwenang di situs web ini.