Eema Assegaf
Persaingan di bisnis fashion tak menyurutkan langkah Eema Assegaf untuk ambil bagian dalam pusaran industri yang menjadi penyumbang terbesar di kategori industri kreatif ini. “Seorang desainer harus terus melakukan eksplorasi. Saya sendiri tidak mau cepat meroket terus jatuh. Saya memilih step by step,” tutur Eema (dibaca: Ima). Lewat merek Jemima by Eema Assegaf, sejak 2009 ia mengembangkan ready to wear, evening dress, country custome, make to order. Desain Eema yang banyak bermain di detail memincut banyak kalangan entertainer untuk memakainya. “Saya penggila victorian, jadi desain saya sering terinspirasi gaya putri raja,” ungkap Eema yang belum lama ini menggelar fashion show.
Sejak SMP, bungsu dari tiga bersaudara ini senang melukis dan membuat sketsa. Sewaktu SMA, Eema sudah mendesain baju teman-temannya. Merasa menemukan dunianya di fashion, lulus SMA, kelahiran 28 Oktober 1985 ini memilih menimba ilmu di Esmod, kemudian berlanjut ke Sekolah Mode Susan Budiardjo. Sebelum terjun menjadi desainer, ia sempat menjadi asisten desainer dan penata gaya di sebuah majalah perempuan papan atas.
Untuk membesarkan Jemima, akhir tahun ini ia akan membuka butik di Jakarta Selatan. Selama ini, workshop-nya digunakan sekaligus sebagai butik. Ia pun tengah menjajaki kerja sama dengan department store. Meski masuk ritel, lajang penyuka warna hitam ini tetap fokus pada ciri desainnya dan first line. “Mendesain itu harus dari hati sehingga ada kepuasan batin,” ucap Eema yang juga mendesain sepatu.
Henni T. Soelaeman
Dilarang keras mengambil konten (tulisan, foto, infografis, video, dan sebagainya) yang dimuat di situs web ini, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk platform AI (artificial intelligence) dan platform digital lainnya, tanpa izin tertulis dari direksi yang berwenang di situs web ini.