Hewlett-Packard Menyewakan Laptop ...
Salah satu pionir di bidang layanan seperti itu adalah Hewlett-Packard. Layanannya dinamakan Seat Management (SM). “Seat Management HP menawarkan produk yang dipaket sebagai servis untuk para customer dan bersifat enterprise. Para customer tidak perlu berinvestasi untuk membeli produk baru, mereka bisa meminta bantuan kami,”? papar Andreas R. Diantoro, Direktur Pengelola PT Hewlett-Packard Indonesia (HPI).
Berbeda dari rental komputer umumnya, SM membatasi jumlah penyewaannya. Klien minimal harus menyewa 2 ribu seat (pengguna komputer), dengan jangka waktu penyewaan minimal tiga tahun. Setelah itu bisa diperpanjang lagi dengan PC baru. Bisa juga PC-PC itu dibeli dengan potongan harga. “Yang kami jual adalah service, bukan produknya. Kalau hanya rental PC, semuanya bisa,”? tutur Andreas. “SM merupakan bagian dari maintenance infrastruktur yang meliputi data center (server) dan client-nya seperti PC, desktop, laptop atau PDA,”? tambahnya.
Dengan kata lain, layanan SM mencakup alih daya PC dan laptop, sistem operasional, maintenance & upgrade, dan help desk support. Bahkan, klien bisa mengalihdayakan seluruh jaringan dan sistem software perusahaan. Saat ini, layanan jasa SM baru sebatas penyewaan PC dan laptop. Ke depan, layanan bisa diperluas lagi dengan server atau layanan TI yang lebih advance.
SM mencakup produknya sendiri, layanan asset taging dan manajemen aset untuk inventori manajemen. Ada pula manajemen proyek (pemasangan) dan disposal untuk mengurusi PC lama. Di HP ada tim yang disebut Finance & Remarketing Group yang bertugas mengambil, menjual atau menyalurkan PC lama. Sebelum implementasi, terlebih dulu HP melakukan assessment untuk mengukur seberapa lama proyek pemasangan bisa dilakukan. Dalam proses assessment ada simplikasi, standardisasi, modularitas dan integrasi. “Karena kami tidak menjual produk dan PC ini merupakan milik HP, maka kami melakukan standardisasi untuk memudahkan support dan tidak melanggar Service Level Agreement,”? ungkap Andreas.
Untuk pelanggan besar, HP menstandardisasi produk PC ini menjadi 2-3 model. Di industri perbankan, misalnya, PC model C diberikan untuk teller yang hanya memerlukan monitor, CPU kecil dan keyboard untuk meng-input data ke server, model B untuk staf administrasi dan model A untuk manajemen.
Untuk mendapatkan layanan SM, tiap perusahaan cukup mengeluarkan US$ 30-40/seat/bulan. Jadi untuk 2 ribu PC, misalnya, setiap bulan perusahaan cukup mengeluarkan US$ 600- 800 ribu. Itu sudah termasuk sewa, asuransi produk (bila hilang atau rusak), pemasangan, manajemen proyek dan on site engineer yang akan menangani kerusakan atau kesulitan teknis lainnya. “Dengan SM, orang TI di perusahaan bisa fokus mendukung bisnis, karena semuanya kami yang mengurus. Semua risiko kerusakan yang mungkin muncul dari PC sudah didesain dan diminimalisasi,”? Andreas menjelaskan. Ditambahkan Andreas, umumnya 90% lebih SDM TI perusahaan di Indonesia dipakai hanya untuk maintenance atau mengurusi barang-barang rusak. “Idealnya, yang mengurusi maintenance 45%-48%, baik aplikasi maupun infrastruktur, sedangkan sisanya melakukan inovasi-inovasi baru untuk mendukung bisnisnya,”? ujar Andreas.
Sebagai vendor yang pertama kali menawarkan layanan alih daya desktop komputer di Indonesia, HPI mengaku tidak gentar menghadapi persaingan. “Kami lebih unggul dari sisi pengalaman dan economic solve skill,”? Andreas menegaskan. Dia mengklaim telah berhasil menjaring 10 lebih perusahaan dari berbagai industri, antara lain perbankan, manufaktur, migas, asuransi dan media TV. “PT Asuransi Astra Buana (Garda Oto) adalah klien pertama kami yang menyewa sekitar 700 PC,”? ungkap Andreas. Lho, katanya minimal 2 ribu PC? “Ya, ini terjadi sebelum ada batas minimal itu,”? jawabnya tangkas.
Pernyataan Andreas dibenarkan Jeny Mustopha, Kepala Divisi TI PT Asuransi Astra Buana (AAB). Disebutkan Jeny, ada dua alasan yang mendorong AAB memilih layanan SM yang ditawarkan HP. Pertama, pihak AAB berkeinginan TI ini bisa lebih memberi nilai tambah pada bisnisnya atau mendukung strategi bisnis perusahaan. Kedua, adanya jaminan layanan yang pasti untuk menangani persoalan TI yang sifatnya teknis. “Kami menilai, sepertinya sayang kalau resources TI yang jumlahnya tidak banyak ini harus melakukan hal-hal yang sifatnya teknis. Apalagi, AAB memiliki 32 cabang dan 2 juta nasabah,”? papar Jeny.
Sejak pertengahan tahun lalu, AAB telah menyewa 700 PC selama tiga tahun. Tarifnya US$ 20-35/seat/bulan, tergantung jarak cabang. Itu sudah termasuk biaya penginstalan, servis kerusakan dan layanan lainnya. Jeny mengakui memang lebih murah membeli PC. “Itu jangan dilihat in term of the money, yang lebih penting lagi indirect cost yang banyak sekali. Secara tidak langsung kami harus menanggung biaya bisnis yang bukan bagian kami, sehingga biaya operasional TI menjadi besar,”? ia menjelaskan.
Klien besar lainnya yang layak disebut tentu saja BCA. Menurut Andreas, BCA mengalihdayakan 22 ribu PC kepada HP. Implementasinya diperkirakan rampung Juni tahun depan. Adapun Grup Sinar Mas yang memiliki puluhan ribu seat, seperti dikemukakan CIO-nya Anton Mailoa, juga tengah menjajaki kemungkinan menggunakan layanan SM. “Kami sedang menjajaki model outsourcing komputer seperti yang ditawarkan HP,”? kata Anton.
Dilarang keras mengambil konten (tulisan, foto, infografis, video, dan sebagainya) yang dimuat di situs web ini, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk platform AI (artificial intelligence) dan platform digital lainnya, tanpa izin tertulis dari direksi yang berwenang di situs web ini.