Koleksi Batu Permata: Menikmati Keindahan Sekaligus Investasi

Koleksi Batu Permata: Menikmati Keindahan Sekaligus Investasi

Apresiasikan pribadi Anda dengan batu permata. Berlebihan? Tidak juga. Bagi kaum berkantong tebal, mengekspresikan diri dengan batu mulia adalah hal yang lazim. Kalau berlian identik dengan keabadian, makna yang tersirat dalam batu permata justru lebih kompleks.

Umpamanya batu rubi, identik dengan simbol karisma dan wibawa tinggi. Batu safir diartikan penuh kelembutan plus cinta kasih. Batu jamrud menyimpan keteduhan. Batu mata kucing menyiratkan kemapanan, sebab harganya paling mahal di antara semua batu pertama premium. Batu giok dipercaya keturunan Cina berkekuatan magis untuk kesehatan dan kemakmuran.

Dalam khazanah batu mulia, jenis batu permata dibedakan menjadi dua. Pertama, batu permata premium yang disebut precious colour stone. Di lapis tertinggi ini meliputi rubi, mirah, jamrud (emerald), safir dan mata kucing (ukurannya sebesar mata kucing). Ciri khas batu premium adalah tingkat kekerasaannya yang mendekati berlian. Di lapis bawahnya ada intan, giok, amatis (kecubung), topas, pirus, jaspis, akik yang dikenal dengan semiprecious colour stone. “Yang biasanya dijadikan investasi hanya kelas batu permata premium,” ungkap A.B.Susanto.

Boleh dikata, harga batu permata premium nyaris semahal berlian. Menurut Susanto, batu permata nomor wahid yang asli dan berkualitas tinggi dipasarkan seharga Rp 50 juta-miliaran per biji. “Batu emerald satu butir saja bisa mencapai Rp 2 miliar,” tambah Chairman The Jakarta Consulting Group itu.

Tinggi-rendahnya harga batu mulia ditentukan kualitas kristalnya, warna yang dipancarkan (muda atau tua), cacat atau tidak, clarity atau kejernihan kilau, serta keistimewaannya. Misalnya, batu safir atau mirah, harus dilihat permukaannya: ada bintangnya atau tidak. Di batu mata kucing, ada garis (inden) yang terlihat bila kena cahaya, dan garis inilah yang membuat harganya lebih mahal.

Sebagai instrumen investasi, batu permata premium ini mampu menghasilkan return memuaskan. “Berdasarkan pengalaman saya, return-nya bisa lima kali lipat dalam beberapa tahun,” ungkap Sainal D., Direktur Pengelola PT Jaya Adinusa Utama. Simak pula pengalaman Susanto yang pernah membeli safir seharga Rp 50 juta dan dilepas ke temannya Rp 200 juta, atau naik empat kali lipat dalam tiga tahun.

Keberuntungan serupa juga dialami Inti Nusantari Subagio. Kala itu koleksi batu permatanya dibeli oleh lembaga lelang Christie yang datang langsung ke rumahnya. “Saya lupa berapa harganya waktu itu. Pokoknya lebih tinggi dari harga yang saya beli awal,” ujar istri pengusaha telekomunikasi Subagio Wirjoatmodjo ini.

Kendati demikian, Inti mengingatkan, gains investasi batu permata tidak bisa diharapkan pasti sebesar properti. “Untungnya belum tentu gila-gilaan, karena sifatnya juga untung-untungan. Kalau ada yang suka bisa ditawar tinggi, kalau tidak ya sebaliknya,” ujar Ketua For All Nations Campus itu.

Memang betul, tidak ada patokan baku standar internasional harga batu permata premium laiknya berlian. Alhasil, harga yang tercipta bersifat subjektif. Selain unsur personal lebih dominan, pasar sekunder batu permata juga kurang likuid. Ini dikarenakan ceruk pasarnya agak segmentatif.

Setiap kolektor mempunyai alasan berbeda soal ketertarikan pada batu permata. “Saya tertarik koleksi batu berharga sejak 1987 dengan pertimbangan batu ini tidak mengalami kerusakan. Harganya stabil bahkan cenderung naik,” tutur Sainal.

Lain lagi cerita Susanto. Ia tertarik mengumpulkan batu mulia lantaran terpengaruh tradisi orang tuanya yang gemar mengoleksi batu berharga. Namun, ia lebih serius mengumpulkan dan investasi batu permata setelah bekerja pada 1970-an dan memperdalam ilmu batu mulia. “Mula-mula batu permata yang saya beli kelasnya bukan yang nomor satu,” Susanto mengakui. Safire adalah batu perdana yang dibelinya. Setelah itu, ia berani membeli batu mata kucing lantaran gajinya sudah cukup. Lebih dari 30 tahun mengumpulkan batu permata, sekarang koleksi Susanto mencapai lebih dari 100 batu permata premium dalam bentuk perhiasan.

Sementara itu, Inti mempunyai dua alasan utama mengapa ia getol mengumpulkan batu berharga. Pertama, nilai kecantikan sebagai perhiasan. Kedua, sebagai koleksi karena tergolong langka. Tidak ada salahnya untuk investasi, sebab nilai jual kembalinya cukup tinggi. Dibanding mobil, makin lama nilainya makin jatuh, padahal biaya perawatannya tinggi. Sebaliknya, batu permata cukup praktis merawatnya, tapi makin lama dan langka harganya kian melambung. Umumnya orang investasi dengan menaruh uang di bank atau properti, tapi investasi batu permata ini sekaligus bisa dipamerkan. “Investasi batu permata bisa dibawa ke mana-mana. Mana mungkin setiap pergi kita dapat pamer sertifikat tanah atau deposito,” papar Inti dengan nada jenaka.

Baik Susanto maupun Inti bersikap fleksibel dalam membeli bentuk batu permata. Ada yang lepasan, ada juga perhiasan. Cutting-nya bervariasi, ada yang bundar, oval, persegi empat, serta segi tiga. Untuk batu lepasan, selanjutnya dirancang sendiri sesuai dengan selera. “Saya biasanya dibantu istri dalam mendesain,” ujar Susanto, yang istrinya ahli desain perhiasan. Desain itu dirangkai dengan berlian dan balutan emas putih atau kuning.

Untuk membantu mewujudkan rancangan perhiasan, ia pergi ke toko langganannya, baik di dalam maupun luar negeri. “Langganan desainer saya di Hong Kong. Sebetulnya di Indonesia bisa juga, tapi hasilnya kurang halus,” tambah Susanto sambil mencontohkan cincinnya yang bertabur 100 butir berlian kecil dengan mata kucing di tengahnya.

Ke mana saja para kolektor berburu? Untuk mendapatkan batu permata, Inti tidak terlalu ngoyo. Di mana pun ia ketemu batu permata yang cocok, ia tak ragu membelinya, baik kelas precious color stone maupun batu permata semipremium. Model perhiasan batu permata yang favorit Inti bergaya klasik dan unik. “Saya tidak suka yang desainnya terlalu funky atau modern,” katanya. Cutting batu permata juga tidak ia pedulikan. Mau yang oval, kotak atau lonjong tidak masalah, asalkan serasi dengan pakaiannya.

“Saya tidak pernah menghitung. Pokoknya lumayan,” Inti berkilah ketika ditanya jumlah batu permata yang dikoleksi. Yang jelas, ia tidak suka disebut sebagai kolektor, melainkan pecinta benda seni. Lebih dari itu, ia tidak mau buka kartu berapa harga batu permata koleksinya. “Mayoritas batu permata saya dibeli sebelum krisis, sehingga lebih murah. Pasalnya, harga batu permata juga mengikuti fluktuasi kurs US$,” tutur pemilik perhiasan permata berupa chocker, koye, gelang, anting, bangle, cincin, sabuk dan pin itu.

Sementara itu, Susanto mengaku lebih banyak didatangi orang yang menawarkan batu permata, ketimbang ia memburunya. Toh, ia tidak menampik kadang kala mencari batu mulia itu hingga ke Thailand, Hong Kong dan Myanmar. “Orang yang datang ke saya bisa pedagang atau kolektor, orang Indonesia ataupun asing,” jelasnya. Biasanya motif orang yang menjual batu permata ke Susanto, karena sudah bosan bentuknya atau mendapat warisan.

Di satu sisi, Susanto memang kerap membeli batu berharga dari orang lain. Akan tetapi, di sisi lain ia juga suka menjual koleksi batu berharganya. “Tujuan saya menjual batu permata, agar dapar uang untuk membeli batu permata lagi yang kualitasnya lebih bagus,” ia berujar. Bagi Susanto, tidak ada manfaatnya menyimpan batu berharga yang mutunya kurang bagus.

Sebagai orang yang pernah belajar khusus di Gemologycal Institute Igar Oberstein di Jerman, Susanto tahu betul batu permata yang dibelinya orisinal ataukah tidak. Ukuran bagus atau tidak memang relatif. Namun, di mata Susanto, batu permata yang bagus adalah dari sisi kualitas dan eksklusivitas.

Contoh mutu safir yang terbagus berasal dari Sri Lanka, jamrud dan mata kucing dari Kolumbia, batu mirah (rubi) asal India, batu opal dari Australia, dan giok asal Cina. Untuk batu mata kucing, yang mahal adalah yang berwarna bak buah anggur tua dan biasa disebut honey colour. Untuk rubi, warna yang bagus bercorak pigeon blood. Warna batu safir yang bagus sinarnya biru dan kuning (maharaja).

Berbeda dari Susanto, guna membuktikan batu permata yang dibelinya asli atau tidak, Inti memiliki alat detektor berlian, sedangkan untuk mengetes kualitasnya, Inti membawanya ke laboratorium permata. “Ongkosnya tergantung nilai batu permata yang dites,” ia menambahkan.

Cara perawatan batu permata tidak sukar. Pertama, tidak boleh dicampur dengan berlian di satu wadah. “Kalau tidak dipisah, bisa tergores,” ujar Susanto. Kedua, dibersihkan dari debu atau bekas lemak yang melekat dengan alat ultrasonik atau cukup disikat dengan pasta gigi. Untuk jamrud, karena lebih rapuh (mudah patah), cara membersihkannya harus ekstra hati-hati.

Para penggemar batu permata sepakat, pemakaian perhiasan mewah itu tergantung kondisinya. Model yang tidak mencolok bisa digunakan sehari-hari, sedangkan yang agak glamor untuk acara pesta. Warna batu permata juga disesuaikan dengan corak busana yang dikenakan.

Investasi batu permata bukan tanpa risiko. Demi keamanan, Susanto menyimpan koleksi batu permata di safe deposit box di bank. “Kalau saya cukup di lemari rumah,” kata Inti. Kedua penggemar batu permata ini mengaku tidak pernah merugi besar gara-gara investasi batu permata. “Tidak pernah rugi, karena saya beli bukan tujuan utama untuk dijual,” tukas Susanto. Demikian pula Inti. “Saya ingin mewariskan ke anak-cucu. Kalaupun bosan dengan model lama, paling didesain ulang sesuai model yang sedang in,” tambah anggota Antique Society Club di New York itu. Walau begitu, ia mengaku sering koleksinya ditawar teman-temannya.

Bagi Susanto, mengoleksi batu permata premium memiliki keuntungan ganda: untuk kesenangan menikmati keindahan dan investasi. “Asalkan tidak butuh uang mendadak, investasi di batu permata masih oke. Kondisi finansial harus stabil alias ada uang sisa,” paparnya. Ditegaskan Susanto, jangan sampai motif utama membeli batu permata untuk dijual kembali. Kalau itu yang terjadi, bukan untung yang didapat, tapi petaka yang siap menjerat.

Riset: Asep Rohimat

Dilarang keras mengambil konten (tulisan, foto, infografis, video, dan sebagainya) yang dimuat di situs web ini, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk platform AI (artificial intelligence) dan platform digital lainnya, tanpa izin tertulis dari direksi yang berwenang di situs web ini.

# Tag