Big Data Appliance Guna Manfaatkan “Banjir Data”
Di tengah era internet dan teknologi digital yang, salah satunya, berdampak pada lonjakan jumlah data, Oracle perkenalkan solusi Big Data untuk mengantisipasi dan mengoptimalkan ledakan jumlah data bagi jalannya bisnis suatu perusahaan. Adrian B. Kurniadi, IT Architect Systems LOB PT Oracle Indonesia, pada acara temu media yang diselenggarakan Oracle Selasa (14/2), mengklaim bahwa pihaknya merupakan vendor pertama yang hadir menawarkan sebuah solusi lengkap dan terpadu guna menjawab berbagai keperluan untuk pengelolaan Big Data, memberikan efisiensi, menyederhanakan manajemen dan membuka wawasan baru yang relevan untuk memaksimalkan nilai bisnis.
Sebenarnya Oracle Big Data Appliance sendiri telah diperkenalkan Oracle di Oracle Open World, San Francisco pada Oktober 2011 lalu. “Namun perkenalan atau peluncurannya di tiap negara berbeda-beda,” ujar Siriporn Suparutachakarn, Director Corporate Communication ASEAN Oracle Corporation (Thailand) Company Limited. Hingga saat ini, menurut Adrian, pihaknya sudah melakukan penjajakan dengan beberapa perusahaan di Indonesia yang akan menggunakan solusi Big Data Oracle ini. “Kebanyakan perusahaan dari bidang telekomunikasi dan perbankan,” ujarnya. Namun, pihaknya enggan mengemukakan target klien yang akan diraih pada tahun ini.
Terkait dengan fenomena Big Data ini, Marshall Choy, Director Solutions and Business Planning Oracle Corporation, menjelaskan, beberapa tahun belakangan ini terjadi ledakan volume data yang berdampak pada pola pemanfaatan data untuk kepentingan bisnis suatu perusahaan. “The McKinsey Global Institute memperkirakan volume data tumbuh sekitar 40% per tahun dan akan melonjak hingga 44 kali hingga delapan tahun ke depan,” tutur Marshall Choy mengenai ledakan volume data mengutip McKinsey Global Institute.
Itu yang menjadi alasan Oracle untuk mengembangkan solusi Big Data-nya. Menurut Marshall, Big Data adalah tentang bagaimana mengevaluasi kembali potensial dari data-data bisnis dan berusaha untuk membangun sebuah infrastruktur yang mampu mengambil manfaat dari aset data dalam perusahaan secara menyeluruh. “Sebuah solusi yang mampu menemukan berbagai pola keterkaitan antara produk, pelanggan, dan pemasok yang sebelumnya tidak diketahui”, ujarnya.
Marshall menerangkan, terdapat beberapa sumber data bagi solusi Big Data, yaitu data perusahaan tradisional yang mencakup informasi pelanggan dari sistem costumer relation manager (CRM), data transaksi enterprise resource planning (ERP), transaksi web store, data pada buku besar; data dari sensor atau mesin yang mencakup rincian data panggilan (call detail records/CDR), weblog, alat pengukur cerdas, sensor manufaktur, equipment logs yang seringkali diartikan sebagai digital exhaust, sistem pendataan jual beli; dan data sosial yang mencakup costumer feedback streams, situs micro-blogging, dan platform media sosial.