Masuki Era Hibrida, Industri Musik Perlu Siapkan Strategi Baru

Selama dua tahun masa pandemi, terdapat beberapa indikator positif di dunia musik, antara lain meningkatnya jumlah pemakai aplikasi streaming musik, semakin banyak musisi yang menyadari pentingnya platform musik digital dan distribusi, serta produktivitas para musisi yang justru makin meningkat selama masa pandemi karena keterbatasan melakukan konser musik luring.
Hal ini terungkap dalam forum diskusi bertajuk ‘Industri Musik Indonesia 2022: Ayo Hadapi Tantangan dan Raih Peluang-peluang di Era Hibrida’ yang diselenggarakan oleh aplikasi streaming musik sosial, Resso. Diskusi ini dihadiri oleh perwakilan dari Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, serta para pemangku kepentingan industri musik.
Para peserta sepakat bahwa tahun ini, dengan masih berlangsungnya pandemi, mereka semua belajar banyak cara baru dalam melanjutkan bisnis masing-masing dan dituntut untuk jeli mengatur strategi menghadapi situasi yang masih belum menentu. Peserta juga sepakat semua harus bekerja sama dan berkolaborasi dalam menghadapi era hibrida di 2022.
Mohammad Amin, Direktur Musik, Film dan Animasi, Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif RI mengungkapkan, pada Juni 2020, Indonesia menjadi salah satu negara yang memiliki nilai pasar streaming musik terbesar di dunia yakni menduduki posisi ke-18. “Hal ini menunjukkan bahwa terlepas dari dampak negatif pada industri musik, pandemi tidak menyetop proses kreatif dalam berkarya, mendistribusikan maupun mengonsumsi musik,” ujarnya.
Tantangannya, kata dia, terletak pada bagaimana mengedukasi masyarakat untuk mengadopsi teknologi yang terus berkembang. Dia pun menegaskan, pemerintah akan mengupayakan produk hukum untuk melindungi pelaku industri musik yang disesuaikan dengan perkembangan teknologi.
Senada dengan Amin, Penyanyi Oslo Ibrahim mengatakan bahwa penerapan pembatasan sosial justru mendorong dirinya untuk lebih produktif dalam menciptakan lagu. “Ketika pandemi terus berlanjut, gue pikir, salah kalau tidak melakukan apa-apa. Jadi, gue mulai membuat lagu, dan sekarang gue punya satu album dan dua EP (extended play atau mini album). Next untuk 2022 akan ada EP lagi dan beberapa single terbaru,” katanya.
Semua partisipan juga mengakui bahwa ke depannya Covid-19 akan menjadi endemi di mana masyarakat harus hidup berdampingan dengannya, lengkap dengan penerapan protokol kesehatan. Namun, para partisipan juga berharap akan lebih banyak event musik luring yang diselenggarakan tahun depan.
Dahlia Wijaya, Country Director Believe Indonesia menjelaskan, konser musik memberikan pengalaman berbeda, ada euforia pra dan paska-konser yang membuat orang ingin mendengarkan lagi lagu-lagunya sehingga akan meningkatkan streaming. “Menyimpan kenangan dari kehadiran di konser dan membaginya melalui media sosial juga memberikan dampak, yang akhirnya akan memberikan pendapatan lebih bagi para artis,” jelas dia.
CEO Juni Records Adryanto Pratono atau yang lebih dikenal dengan Boim juga memahami bagaimana pandemi telah mengubah siklus bisnis. Sekarang, pihaknya fokus pada merilis lagu demi lagu dan mempromosikannya pada platform digital. Pasalnya, lebih banyak konsumen yang browsing musik di platform streaming.
Resso, yang hadir di awal pandemi pada Maret 2020, mendapatkan dukungan dari pengguna di saat banyak orang diharuskan untuk mengadopsi digitalisasi teknologi, termasuk cara mereka menikmati musik. Sejalan dengan peningkatan jumlah pengguna, Resso juga melihat peningkatan di beberapa sektor, di antaranya jumlah lagu yang di-pitch dan variasi genre musik.
“Berbagai inisiatif yang telah kami luncurkan pada tahun ini, termasuk acara Breakfast with Resso akan menjadi landasan kerja kami untuk tahun depan. Misi kami masih tetap sama yaitu untuk mendukung industri musik tanah air. Jadi, mari tetap optimis dan melangkah maju bersama untuk industri musik Indonesia yang lebih baik,” tutur Matthew Tanaya, Artist Promotion Lead Resso Indonesia.
Editor : Eva Martha Rahayu
www.swa.co.id