Mendampingi Pasien Asal Indonesia di Singapura dengan Hati

Mendampingi Pasien Asal Indonesia di Singapura dengan Hati

Begitu banyak orang sakit di sini yang merasa sulit mendapatkan layanan medis seperti yang diharapkan, terutama kalangan berkantong tebal. Maka, mencari second opinion dari dokter negara lain pun menjadi alternatif jalan keluar menuju kesembuhan. Namun, tak semuanya memahami betul seluk- beluk layanan medis di negara lain. Salah memilih baik rumah sakit maupun dokter, bisa berakibat fatal: layanan medis yang diterima tak sesuai dengan harapan, dan uang dalam jumlah besar pun melayang. Lebih celaka lagi, penyakit yang diderita tak kunjung sembuh, bahkan bisa merenggut nyawa. Peluang ini yang ditangkap Kartika W. Sutikna. Wanita kelahiran 26 November 1946 ini sudah lebih dari 20 tahun membantu pasien asal Indonesia mendapatkan informasi layanan medis yang tepat di Singapura.

Kartika yang asal Bogor itu tak sengaja nyemplung menggeluti jasa ini. Kala itu, tahun 1982, setahun setelah boyong ke Singapura mengikuti suami yang pindah kerja ke sana, ada teman pamannya yang membutuhkan second opinion diagnosis dokter di negeri jiran itu. “Dokter di Tanah Air mendiagnosis mata kirinya minus 17 dan mata kanan lebih parah lagi. Kemungkinan besar akan buta total,” kenang lulusan Fakultas Ekonomi Universitas Parahyangan tahun1971 ini. Kartika pun membantunya mencarikan spesialis mata yang tepat. Setelah operasi dua kali dan melakukan implantasi lensa mata, teman pamannya itu bisa melihat dengan sempurna kembali.

Saat itu Mount Elizabeth Hospital usianya baru setahun. “Saya memang merekomendasi ke rumah sakit itu,” tuturnya. Sejak itu, menyusul teman-teman orang tuanya yang lain meminta bantuannya. Maka, melalui promosi worth of mouth, keahlian Kartika memberikan jasa informasi layanan medis di Singapura pun menyebar luas.

Meski begitu, ibu dua anak ini merasa tidaklah mudah membangun profesi ini. Terlebih, ia tidak memiliki pengetahuan apa pun di industri kesehatan. “Tapi dengan moto saya: Life has always been to always have belief in my abilities, tak ada yang tidak bisa dilakukan asalkan berusaha yang terbaik,” ungkapnya bersemangat. Kartika pun memutuskan untuk menggeluti profesi ini secara full time, bukan sekadar sambilan.

Menurutnya, tidak mudah menemukan dokter yang appopriate, tanggap, plus mendapatkan fasilitas medis yang mencukupi dan pengobatan yang baik untuk melawan penyakit yang mematikan. Bagaimana Kartika memilih dokter yang tepat? Hal terpenting, menurutnya, dokter itu harus benar-benar memiliki integritas dan profesionalisme di bidangnya. “Saya coba mencari tahu dari rekanan atau teman main mereka. Selain itu, saya melakukan observasi sendiri apakah dokter itu tepat menangani pasien dengan kondisi tertentu sesuai dengan bidangnya,” tutur Kartika.

Wanita sederhana ini juga memandang bukan hal yang gampang masuk secara dekat dan lekat ke “klub elite” profesional medis di Singapura. Terlebih, dirinya saat itu baru imigrasi ke sana. “Saya hanya berpegang pada keyakinan dan kejujuran menjalani semua ini,” ia menegaskan. Kartika memulainya dengan memperkenalkan diri, implementasi ide, dan mencari dukungan dari para profesional medis di Singapura. Pahit getir dilaluinya dengan tegar. Berjuang mendapatkan kepercayaan dan perlakuan yang sama bukan hal yang “gratis” di industri ini. Kartika pun mencari tahu dan memahami tiap dokter ahli yang ada. Apa kebiasaan, perilaku dan gaya mereka hingga bahasa medis yang dirasakannya sebagai hambatan paling besar karena masih buta istilah kesehatan. “Tidak hanya itu, bahasa Inggris saya belum bagus dan lancar lho saat itu,” lanjutnya.

Awalnya pun Kartika merasa kikuk menghadapi para staf medis dan suster di sana. Sebab, menurutnya, tidak seperti di Indonesia yang ramah, kebanyakan dari mereka bermuka kaku dan tidak ramah. “Tidak semua sih, tapi kebanyakan begitu,” ujarnya. Namun sekarang tidak lagi, bahkan ada sebagian yang menganggapnya bibi atau tante sendiri. Lagi pula, kini ia banyak dibantu para suster dan staf klinik. “Mereka yang akan menginformasikan ke saya melalui ponsel saya apakah dokternya siap menemui pasien,” kata Kartika.

Apa imbalan dari rekomendasinya? Kartika mengaku tidak menentukan tarif untuk jasanya. “Percaya atau tidak, saya hanya mendapat imbalan berupa red packet atau angpau istilah populernya di Indonesia. Jadi, terpulang pada kerelaan dari pasien sendiri,” katanya. Hal ini dibenarkan Suherdy Arno, pria yang pernah menjadi kliennya. “Saya waktu itu ingin check up kesehatan saja. Tapi sebelumnya, orang tua saya juga pernah dicarikan layanan kesehatan yang cocok di sana,” ungkap pengusaha makanan asal Bogor ini. Menurutnya, Kartika selalu memberikan servis total kepada kliennya. Ia mengurus segala kebutuhan informasi medis klien, menjemputnya di bandara, mengantar ke hotel, melayani kebutuhan charter pesawat jika dibutuhkan klien, sampai si klien kembali ke bandara untuk pulang ke Tanah Air.

Ia menambahkan, sebenarnya sudah banyak yang menyediakan profesi semacam itu di Singapura. Hanya saja, mereka biasanya mematok harga sekitar 10% dari total biaya yang dikeluarkan klien. “Kartika tidak begitu. Dia menerima berapa pun yang diberikan pasien dengan tulus dan ikhlas. Terserah pasien saja,” kata pria berusia 49 tahun ini.

Kartika selalu berpegang pada filosofi hidupnya: uang dan imbalan tidak akan ia dapat dengan cara meminta dari siapa pun. Termasuk kepada para pasien itu. “Tidak semua orang dalam kondisi sehat dan kaya kan,” ujarnya tulus. Dalam menjalankan profesinya itu, Kartika menempatkan diri sebagai bagian hidup mereka, sebagai keluarga, mendampingi dan mendukung mereka menghadapi sakit di tanah asing. “Saya coba menjelaskan apa yang didiagnosis dokter, jawabannya hingga apa jaminannya. Tugas saya adalah membuat mereka yakin dan jelas apa penyakit yang mereka hadapi, memahami precaution penting mereka,” paparnya.

Sejak awal hingga kini, Kartika berkutat di Rumah Sakit Mount Elizabeth dalam memberikan layanan informasi medis. Alasannya, agar mempermudah geraknya melayani klien. Terlebih dokter-dokter di Mount Elizabeth sudah terbiasa dengan penyakit orang Indonesia yang beraneka ragam. Kini, dalam menjalankan profesinya itu, ia mendapat dukungan dari orang kardiolog terkenal, dr. Michael Lim, yang dinilainya sangat teliti dan memiliki alat scan jantung canggih. Mengingat banyak klien Kartika yang berobat ke dokter itu, pria yang dikenal sangat teliti itu menyediakan salah satu ruang di kliniknya yang besar di Ngee Ann City, Takasimaya.

Kartika mengaku tidak memiliki angka pasti berapa klien yang sudah ditangani. “Suatu ketika saya pernah harus melayani hingga 25 orang dalam satu waktu. Tapi rata-rata per minggu sekitar 10 orang,” ujar wanita yang profilnya sempat ditayangkan di The Television Corporation of Singapore ini.

Dilarang keras mengambil konten (tulisan, foto, infografis, video, dan sebagainya) yang dimuat di situs web ini, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk platform AI (artificial intelligence) dan platform digital lainnya, tanpa izin tertulis dari direksi yang berwenang di situs web ini.

# Tag