Bukan Profit Centre, tapi BCA Gede-gedean Bangun ATM
Kehadiran EBC merupakan terobosan terkini di dunia perbankan. “Konsep yang ditawarkan EBC: pusat layanan perbankan dengan 20 ATM jaringan Prima (Grup BCA) di satu ruangan,†kata Stephen. Desain ruangan seluas 25-30 m2 itu terkesan mewah dan modern. Bak supermarket di mana konsumen tinggal memilih aneka produk, di sana ada mesin ATM penarikan tunai, setoran tunai, transaksi nontunai, dan printer transaksi yang bisa digunakan nasabah sesuai dengan kebutuhan. Ini berbeda dari keberadaan ruangan ATM bersama di mal pada umumnya, di mana ATM-nya dimiliki banyak bank.
Nilai investasi satu gerai EBC lebih tinggi dibandingkan dengan pembukaan kantor cabang baru. Simak saja, harga satu mesin ATM nonsetor tunai US$ 10-20 ribu dan ATM setor tunai US$ 30 ribu (saat ini jumlahnya baru 200 unit). Jadi, di satu gerai EBC terdapat 20 ATM, sebagaimana diungkapkan Stephen, dibutuhkan investasi Rp 3-4 miliar per gerai. Sementara itu, pembukaan sebuah kantor cabang paling-paling membutuhkan modal Rp 2 miliar.
Kehadiran EBC bukan ancaman untuk penutupan atau penghentian ekspansi kancab baru. “Bagaimanapun hubungan antarmanusia tidak dapat dihilangkan, terus diganti mesin semua,†Aswin Wirjadi, Wapresdir BCA menjelaskan. EBC ini bertujuan untuk meningkatkan layanan nasabah dan kerja sama dengan bank-bank peserta jaringan Prima, agar dalam bertransaksi lebih cepat dan praktis. Sebab, dengan EBC transaksi bisa pula berlangsung di hari libur (Sabtu dan Minggu). Jadi, transaksi perbankan tidak mesti datang ke kancab. Makanya, setelah EBC Tunjungan Plasa sebagai pilot project sukses, baru-baru ini BCA juga membuka 8 EBC baru di Jakarta, Semarang, Medan, Jambi dan Surabaya.
Dalam menyelenggarakan jaringan Prima tersebut — yang logonya diluncurkan belum lama ini — bank yang mencetak laba bersih tahun 2005 sebesar Rp 3,1 triliun itu bekerja sama dengan PT Rintis Sejahtera. Peran Rintis sebagai operator yang bertugas melakukan pemasaran, penjualan, pemeliharaan dan engineering, sedangkan BCA berfungsi sebagai founder member ATM Prima. Saat ini terdapat 25 bank yang tergabung dalam jaringan Prima, antara lain: BCA, BRI, ABN Amro Bank, NISP, Bukopin, Bank Muamalat, BPD Kaltim, Bank Mega, Bank Buana dan Bank Permata.
Bagaimana pola kerja sama BCA dengan Rintis dan 25 bank jaringan Prima? Menurut Aswin kolaborasi itu sifatnya profit sharing. Untuk 25 bank peserta selain diwajibkan membayar biaya komunikasi/jaringan satelit per tahun yang nilainya dirahasiakan Aswin, mereka juga berhak atas bagi hasil fee transaksi yang dibayar oleh nasabah. Contoh konkretnya begini. Untuk transaksi tarik tunai, nasabah harus bayar fee Rp 5 ribu per transaksi, maka pembagiannya: Rp 1.800 untuk BCA (sebagai pemilik ATM); Rp 700 untuk Rintis sebagai operator; dan Rp 2.500 untuk bank anggota Prima yang nasabahnya sedang bertransaksi.
Sementara itu, nasabah BCA menarik tunai di ATM jaringan Prima (misalnya BRI) yang juga dikenakan biaya Rp 5 ribu, maka pembagiannya: Rp 2.500 masuk kantong BCA; Rp 1.800 untuk BRI; dan Rp 700 untuk Rintis. Untuk transaksi seperti ini, sampai sekarang baru empat bank saja yang bisa, yaitu Bank Bukopin, Permata, BRI dan BPD Sumsel. Keunikan lain jaringan Prima: bisa untuk transfer multiarah. Artinya, nasabah bank X dapat menggunakan ATM bank Y untuk transfer ke rekening bank Z.
Benarkah ATM lebih sebagai sentra laba (profit centre) bagi BCA dibanding sentra biaya (cost centre)? Rasa penasaran ini dijawab Aswin dengan tegas. “ATM BCA/jaringan Prima tidak dilihat sebagai profit centre, tapi pendukung bisnis utama. Selama ini hasilnya impas antara fee masuk dan biaya operasional. Yang penting, keberadaan ATM itu tidak merugikan,†tandasnya.
Menurut Aswin, biaya operasional satu mesin ATM kisarannya Rp 15-40 juta per bulan. Rinciannya: biaya pengisian uang dan SDM Rp 3-4 juta; pemeliharaan Rp 1 juta; komunikasi satelit Rp 2-3 juta; sewa ruangan sekitar Rp 10 juta; sisanya biaya depresiasi mesin. “Anggap saja rata-rata biaya operasional sebuah ATM Rp 20 juta, maka total kami keluarkan Rp 80 miliar per bulan untuk 4 ribu jaringan ATM milik BCA sendiri,†ungkapnya. Toh, ongkos itu diklaim Aswin tidak menggerogoti pendapatan ATM BCA alias balance.
Aswin menambahkan, sejauh ini kontribusi bisnis ATM terhadap profit BCA masih kecil. Sebagai gambaran, dari transaksi yang dilakukan total 6,6 juta nasabah BCA, dalam sehari mencapai 1,5 juta transaksi di ATM saja. Dari jumlah transaksi itu, yang dilakukan lewat ATM Prima tidak sampai 1% atau nilainya kira-kira Rp 20 miliar/bulan. Sementara itu, biaya administrasi per bulan pemegang kartu ATM Paspor BCA jenis silver Rp 7.500; gold Rp 10 ribu; dan platinum Rp 15 ribu.
Karena ATM dipandang sebagai penunjang bisnis secara keseluruhan (delivery channel), ke depan BCA bakal terus ekspansi jaringan ATM berikut peningkatan kualitas layanannya. Saat ini, total ATM BCA sebanyak 6 ribu unit (milik sendiri dan bersama), serta dilengkapi dengan 40 ribu Electronic Data Capture debit di seluruh Indonesia. Tahun 2006, BCA siap menambah 200-400 mesin ATM baru.
Di mata Asto Sunu Subroto, kehadiran jaringan Prima untuk mengefisienkan pengoperasian mesin ATM. Apalagi peningkatkan frekuensi transaksi berarti mengatrol fee yang diraih bank penyelenggara dan mengurangi biaya operasional sebagaimana kancab. “Sayang yang digaet BCA dalam jaringan Prima adalah bank-bank kecil. Sebab kalau BCA menggandeng bank besar macam Bank Mandiri, kapasitas ATM BCA tidaklah mencukupi,†ujar pengamat pemasaran dari MARS ini.
Dilarang keras mengambil konten (tulisan, foto, infografis, video, dan sebagainya) yang dimuat di situs web ini, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk platform AI (artificial intelligence) dan platform digital lainnya, tanpa izin tertulis dari direksi yang berwenang di situs web ini.