Business Update

Sampoerna Konsisten Ciptakan Dampak Berkelanjutan di Usia ke-109

Sampoerna Konsisten Ciptakan Dampak Berkelanjutan di Usia ke-109
Ivan Cahyadi, Sales Director PT HM Sampoerna Tbk. (Tengah) dan Tim

Seperti perahu yang sedang berlayar, PT Hanjaya Mandala Sampoerna Tbk. (Sampoerna) yang berawal dari sebuah warung kecil di Jalan Tjantian di kawasan Kota Tua Surabaya, kini di usianya yang ke-109 tahun berhasil berkembang menjadi “kapal pesiar” yang besar dengan revenue tahunan mencapai triliunan rupiah dan didukung oleh sekitar 65.800 karyawan.

Dengan berbekal 109 tahun pengalaman “berlayar” ini, kekuatan resources yang dimiliki oleh Sampoerna sudah tidak diragukan lagi. Sampoerna dapat dengan cepat menanggapi tuntutan pasar yang seringkali berubah, terlebih dengan hadirnya teknologi yang semakin mendisrupsi pasar.

Kelincahan dalam berinovasi menjadi kunci perusahaan agar selalu siap menangkap peluang bisnis ke depan. Sampoerna secara konsisten menciptakan nilai jangka panjang dalam kegiatan operasionalnya sebagai kontribusi terhadap lingkungan dan masyarakat sekitar. Komitmen ini tecermin dalam “Falsafah Tiga Tangan” yang diwujudkan melalui upaya perusahaan untuk saling membantu dan memberikan kontribusi positif terhadap pelanggan dewasa, karyawan dan mitra usaha, serta masyarakat luas.

“Filosofi ini yang menjadi dasar Sampoerna tetap bertahan di usia ke-109 tahun, bahwa apa pun yang dikerjakan Sampoerna harus bermanfaat bagi ketiga tangan tersebut, baik itu pelanggan dewasa, mitra bisnis dan karyawan, serta masyarakat secara luas,” kata Sales Director Sampoerna Ivan Cahyadi.

Salah satu fokus perusahaan dalam bidang inovasi berkelanjutan adalah dukungan terhadap pengembangan kemampuan UMKM yang merupakan tulang punggung perekonomian nasional. Dukungan tersebut ditunjukkan dengan kehadiran Sampoerna Retail Community (SRC) sejak 2008 di bawah payung program Sampoerna untuk Indonesia.

SRC merupakan komunitas toko kelontong terbesar di Indonesia. Komunitas ini memiliki jumlah anggota lebih dari 165.000 toko kelontong dan 6.000-an paguyuban yang tersebar di seluruh provinsi di Indonesia. Melalui program ini, Sampoerna membantu toko kelontong untuk naik level menjadi toko masa kini.

Bagi Sampoerna, SRC memiliki tempat tersendiri, yakni sebagai bagian penting pengembangan ekosistem usaha perusahaan. Karenanya, perusahaan terus berupaya meningkatkan resiliensi mereka dengan pengembangan kapasitas dan kapabilitas yang sesuai, seperti akses permodalan dan financial inclusion, supply chain, hingga digital literacy yang dapat meningkatkan usahanya.

Pembinaan yang diberikan kepada anggota SRC, antara lain, edukasi penataan toko dan manajemen keuangan, pengembangan bisnis, serta dukungan akses pemasaran bagi produk UMKM di sekitar toko SRC melalui inovasi Pojok Lokal, yaitu area atau rak khusus yang menampilkan produk-produk UMKM di sekitar SRC.

“Inovasi ini memberikan kesempatan kepada tetangga dan masyarakat sekitar yang tidak memiliki akses ke modern chain untuk menampilkan produknya di SRC. Dengan semakin banyak orang terbantu, tokonya juga akan semakin laris, yang ujungnya akan berdampak positif kepada kinerja Sampoerna,” Ivan menjelaskan.

Perusahaan pun melakukan pendampingan bagi anggota SRC untuk dapat mengembangkan operasi mereka ke ranah digital melalui aplikasi AYO SRC. Lewat aplikasi ini, pemilik toko SRC dapat memesan produk-produk dari pedagang grosir secara daring, mengatur stok barang, hingga melakukan akses permodalan melalui fitur Pojok Modal. Pada 2021, total nilai transaksi daring dari SRC dan mitra SRC melalui aplikasi AYO SRC mencapai Rp 11 triliun.

Sebelumnya, pada 2020, SRC memperkenalkan Pojok Bayar, sebuah titik pembayaran bank online (Payment Point Online Bank) untuk SRC. Melalui Pojok Bayar, toko-toko peritel SRC dapat menyediakan produk digital untuk pelanggan mereka, termasuk voucer pulsa dan token listrik, serta layanan pembayaran internet.

“Bagi kami, SRC adalah perwujudan filosofi Sampoerna bahwa kami percaya jika ingin survive, harus memiliki banyak teman yang bisa saling membantu. Nah, SRC inilah, dengan segala inovasinya, membantu kami melewati masa pandemi Covid-19,” kata Ivan.

Ia menyampaikan, pembinaan Sampoerna terhadap SRC selama 14 tahun terakhir berhasil membawa perubahan signifikan bagi sekitar 165.000 anggotanya di seluruh Indonesia. Kehadiran SRC juga menjadi wadah bagi Sampoerna untuk berkontribusi positif kepada masyarakat secara luas, melalui penggerakkan perekonomian lokal maupun nasional. Di sisi lain, bagi karyawan, ekosistem SRC yang dibangun telah bertindak sebagai incubator untuk bereksperimen dan berkreasi dengan berbagai macam inisiatif yang berdampak positif secara langsung kepada para stakeholder perusahaan.

Di balik kesuksesan Sampoerna dan SRC, tentu ada dedikasi dan winning spirit karyawan dalam menerapkan praktik terbaik untuk turut berkontribusi kepada perusahaan. Menurut Ivan, sejak awal karyawan bergabung, perusahaan telah memastikan bahwa setiap karyawan dapat menyalurkan potensi terbaik mereka. Karyawan dibekali dengan model kepemimpinan baru yang tidak hanya menekankan hasil kerja tapi juga cara bekerja.

Sampoerna juga meluncurkan terobosan untuk menunjang pekerjaan karyawannya. Saat pandemi Covid-19, misalnya, dikarenakan keterbatasan untuk interaksi tatap muka, Sampoerna mengembangkan berbagai tools untuk mendukung cara kerja yang membantu mempertahankan produktivitas karyawan, salah satunya pengembangan tata kerja baru melalui virtual call. Selain itu, berbagai program pelatihan kolaboratif berbasis digital bagi karyawan internal pun gencar diluncurkan. Inovasi ini membantu perusahaan untuk beradaptasi dan menghadapi berbagai tantangan pada era pandemi.

Melalui tata cara bekerja yang baru ini Sampoerna membuktikan bahwa semua terobosan tersebut dapat diwujudkan karena adanya resources dan infrastruktur berskala besar yang dimiliki oleh perusahaan yang dapat berdampak positif terhadap pengembangan karyawan.

Di samping itu, Sampoerna, yang merupakan afiliasi dari Philip Morris International (PMI), juga menyediakan kesempatan pengembangan talenta karyawan melalui kesempatan berkarier yang sangat luas. Salah satunya berupa penugasan internasional di afiliasi PMI di negara lain. Sejauh ini, Sampoerna telah mengirimkan talenta terbaiknya ke berbagai afiliasi yang tersebar di berbagai penjuru dunia.

“Di Sampoerna, karyawan harus punya keberanian untuk melakukan inovasi. Inovasi ini tidak hanya terbatas pada produk, tapi juga harus berani mengubah cara kerja dan keluar dari zona nyaman. Untuk itu, karyawan dituntut untuk selalu punya terobosan dan cara pandang yang berbeda. Karena, di sinilah mereka memiliki kesempatan untuk membuat sejarah yang bisa menjadi legacy di masa depan,” Ivan menandaskan.§

Perjalanan SRC sebagai Toko Kelontong Masa Kini

2008: 57 toko kelontong di Medan bergabung ke dalam SRC.

2013: Cakupan SRC meluas ke 9.000 toko kelontong.

2017: Meluncurkan inovasi pertama dalam membangun ekosistem berbasis digital.

2018: Aplikasi AYO SRC diluncurkan di Yogyakarta. AYO SRC menghubungkan Wholesaler (Mitra SRC), Retailer (SRC) dan Pelanggan ke dalam Ekosistem SRC yang berbasis digital.

2019: Aplikasi AYO SRC diluncurkan di seluruh Indonesia.

2022: Lebih dari 165.000 toko kelontong di Indonesia telah bergabung ke dalam Ekosistem SRC, bersama dengan ribuan Mitra SRC dan jutaan Pelanggan.


© 2023-2024 SWA Media Inc.

All Right Reserved