Adit Setiawan, Raja Plafon PVC dari Jogja

Di jagad industri interior, PT Indonesia Plafon Semesta (IPS) masih tergolong pendatang baru. Usianya benar-benar masih balita (di bawah lima tahun). Namun dalam usia belia tersebut, perusahaan ini telah menorehkan prestasi yang fantastis. Melesat dengan cepat menjadi salah satu penguasa pasar plafon PVC di dalam negeri.
Indofon adalah salah brand plafon PVC yang menjadi merek unggulan. “Alhamdulillah perusahaan kami di posisi enam besar bersaing dengan perusahaan yang rata-rata modal asing,” kata Adit Setiawan, sang pemilik perusahaan ini.
From zero to hero. Ini mungkin gambaran yang tepat untuk menggambarkan perjalanan bisnis pria yang akrab disapa Adit ini. Ia benar benar mengawali dari nol lalu tumbuh menjadi pengusaha papan ataas yang menguasai pasar.
Karir bisnis pria kelahiran Agustus 1989 tersebut memang sedang bersinar terang. Satu hal yang menarik ,dalam tempo belum genap empat tahun, ia berhasil membangun dua pabrik yang berlokasi di Bogor dan Jogja (Yogyakarta). Tahun 2019, ia membuka pabrik di Gunungsindur,Bogor, dan pertengahan tahun 2022 ini, ia melakukan soft opening untuk pabrik barunya di kawasan Industri Tuksono, Kulonprogo (DIY).
Untuk mendirikan kedua pabrik berikut mesin produksinya, Adit Setiawan menghabiskan dana investasi mencapai puluhan miliaran rupiah. Yang patut diacungi jempol, dana investasi yang lumayan besar tersebut bukan dari investor maupun lembaga perbankan. Modalnya dana pribadi dari pendapatan usaha yang sudah dijalankannya. “Dana investasi murni dari pendapatan hasil usaha,” ucap Adit Setiawan, yang alumni SMA I Godean Sleman ini.
Perusahaan yang dikelola Adit Setiawan tersebut, memang bergerak dalam industri plafon berbahan baku PVC (Poly Vinyl Clorida). Lebih dari sepuluh brand yang diproduksi dari pabrik yang sama. Selain Indofon, ada Plafindo, Jaguar, Fonda, Viston, Inco, Garuda dan Aveon.
Memiliki banyak merek tersebut, ternyata menjadi strategi bisnis untuk bisa terus menguasai pasar. Untuk memasarkan produknya selama ini menggunakan sistem distributor di setiap kota. Seorang distributor hanya bisa memasarkan satu brand saja. Karena itulah sangat memungkinkan produk IPS bisa menguasai sebuah kota dengan banyak brand tersebut. “Kami sengaja menciptakan merek lain untuk menguasai pasar,” jelas Adit Setiawan kepada SWAOnline.
Selama ini, Adit memasarkan produknya lewat jalur distributor yang mencapai 70 persen dan jalur proyek pemerintah 30 persen. Saat ini sedikitnya ada 300 diistributor yang tersebar dari Aceh hingga Papua. Sementara itu, ada 25 kantor cabang diberbagai propinsi. Kantor cabang tersebut merupakan gerai resmi perusahaan. “Distributor beli putus produk kami,” ungkapnya.
Menurut `pria yang akrab disapa Adit ini, ia muncul di saat yang tepat ketika produk plafon PVC mulai booming di negeri ini. Sebenarnya, produk plafon PVC sudah dikenal dikenal di China sejak tahun 1990 dan mulai dikenal di Indonesia sejak 2003 oleh Sunda Plafon. Namun respon pasar terbilang lambat karena masyarakat masih meragukan kualitas.
Kasus plafon PVC mirip dengan rangka baja ringan, yang pada awalnya diremehkan karena berbagai kekhawatiran yang terkait dengan faktor keamanan. Setelah baja ringan terbukti aman, kini masyarakat berebut untuk memakainya. “Untuk plafon PVC kita tak perlu edukasi pasar, pada akhirnya masyarakat akan mencarinya dan sekarang sudah terbukti sejak tahun 2016 mulai banyak yang beralih ke plafon PVC,” Adit menerangkan.
Awalnya Seorang Tentara Aktif
Adit Setiawan membangun bisnisnya inti dalam waktu yang relatif cepat. Pada umumnya untuk membangun bisnis manufaktur, dari perencanaan sampai pabrik jadi seorang pengusaha membutuhkan waktu 5-6 tahun. Sementara pria bergelar master hukum ini, hanya butuh waktu setahun. Tahun 2018 merintis, tahun 2019 punya pabrik sendiri.
Pada awal merintis, Adit Setiawan tidak melewati proses analisa bisnis yang jlimet, dan tidak melalui survai pasar dan sebagainya. Bahkan pada awalnya, ia merasa masih asing dengan produk plafon PVC yang ditanganinya dan kini menjadi produk laris manis di pasaran. Konsumen harus antre. “Kapasitas produksi kami masih jauh dibawah kebutuhan pasar, “ Adit menjelaskan.

Saat mengawali bisnis, Adit ternyata masih berstatus tentara aktif. Sejak kecil cita-citanya memang ingin menjadi tentara. Setelah berkali-kali gagal tes masuk, tahun 2010 diterima dan ditempatkan di Tegal, Jateng. “Saya ikut tes enam kali baru diterima jadi tentara, saya terobsesi seperti kakak saya yang jadi polisi, tapi saya pilih tentara,” ungkapnya.
Sebenarnya Adit memiliki mimpi menjadi dosen hukum militer. Karena itulah, setelah diterima di intitusi TNI AD, ia langsung daftar kuliah di Fakultas Hukum Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY). Ia akhirnya meraih gelar sarjana dan master hukum hingga berhak menyandang titel SH (Sarjana Hukum) dan MH (Magister Hukum) dibelakang namanya.
Namun impian menjadi dosen hukum militer terpaksa harus dia urungkan. Dalam perjalanan karirnya sebagai seorang tentara, dia berada di persimpangan jalan antara melanjutkan karir di TNI atau fokus menjadi entrepreneur. Setelah sepuluh tahun berdinas, Adit Setiawan dengan berat hati mengundurkan diri dari TNI. “Sejak bulan Mei lalu, saya sudah tidak berkarir sebagai tentara lagi,” ungkapnya.
Meski sudah memiliki pekerjaan tetap sebagai tentara, semangat mencari peluang bisnis tak pernah habis. Malah justru makin menggebu dalam jiwa Adit Setiawan. Semangat itu, ternyata sudah terbangun sejak masih sekolah. Sejak SMP di Godean, ia belajar mendalami dunia internet agar bisa menguasai seluk beluk bisnis online. “Ketika kawan seusia saya waktu SMP sibuk bermain PS (Playstation), saya justru belajar berbagai program untuk website dan sebagainya,” ungkapnya.
Agar bisa membangun jaringan bisnis yang lebih luas, dia bergabung ke HIPMI (Himpunan Pengusaha Muda Indonesia) Semarang. Dari sinilah ia mendapatkan relasi pertemanan dari para pelaku bisnis di ibukota Jateng tersebut. Dan, pertemanan inilah yang kemudian sangat membantu kelancaran bisnisnya.
Pria kelahiran Agustus 1989 ini merasa bersyukur ketika tahun 2017 dipindahtugaskan ke daerah asalnya, tepatnya di Kodim Sleman. “Setelah pindah di Jogja, saya merasa enjoy dan tidak ingin pindah tugas ke lain kota saya bisa fokus membangun bisnis,” tuturnya.
Adit sempat tertarik untuk meneruskan usaha orangtuanya di bidang usaha penggilingan beras. Setelah sempat berjalan kurang dari setahun, ia harus meninjau ulang keinginnya menjadi juragan beras. Setelah dipertimbangkan, peluang bisnis beras untuk menjadi besar sangat kecil. Apalagi marginnya minim, hanya kisaran 7 persen.
Ia berpikir keras untuk mendapatkan ide bisnis baru. Setelah berdiskusi dengan beberapa rekannya, Adit mendapatkan masukan untuk mencoba menjalankan bisnis plafon PVC. Plafon yang terbuat dari bahan Poly Vinyl Clorida tersebut masih belum cukup populer di Indonesia, tapi memiliki peluang pasar yang bagus.
Meski merasa asing dengan istilah plafon PVC, dia merasa tertarik untuk mencoba. “Saya belum paham produk ini, tapi kata kawan-kawan prospeknya masih bagus saya jadi tertarik,” tambah alumni Fakultas Hukum UMY ini.
Adit punya cara yang simple untuk membuktikan apakah plafon PVC memang benar-benar menjadi produk yang marketable atau tidak. Singkat cerita, ia mencoba melihat potensi pasar dengan cara beriklan. Semua jenis marketplace online yang gratis dan berbayar, termasuk Google Ads, dia manfaatkan. Intinya dia menawarkan jasa pemasangan plafon PVC.
Selama dua pekan, ia mem-blow up iklan tersebut. Hasilnya ternyata di luar dugaan. Ia berhasil membuktikan informasi dari kawannya. Ia merasa puas ketika respons konsumen ternyata positif dengan banyaknya yang berminat menjadi konsumen.
Daftar calon konsumen inilah yang menjadi modal awalnya memasuki dunia bisnis plafon PVC. Setelah paham karakteristik produk yang akan dijual, Adit mulai melayani satu demi satu konsumen yang telah mendaftar. Yang membuatnya makin tertarik, ternyata ia tidak menemukan produk tersebut di area Yogyakarta. Artinya, plafon PVC masih menjadi barang baru yang bisa dikelola menjadi ladang bisnis. “Saya belanja barangnya di Solo dan Semarang,” lanjut Adit.
Agar yakin bahwa produknya itu memang berkualitas, Adit merasa perlu untuk uji coba pasang di rumah sendiri. Selain belajar teknik pemasangan, bisa menjadi contoh bila ada konsumen yang ingin melihat langsung.
Sebagai pendatang baru, Adit lebih fokus ke aplikator dengan menawarkan jasa pemasangan. Ia menyiapkan tukang yang sudah berpengalaman di bidang plafon. Target awalnya adalah melayani konsumen yang terjaring lewat iklan di media sosial. Dari sinilah ia mendapatkan keuntungan yang kemudian digunakannya untuk belanja langsung ke pabrik plafon.
Berbisnis dengan Merek Sendirii
Awal tahun 2018, Adit mendapat kepercayaan menjadi distributor dari produsen plafon PVC di Tangerang, setelah belanja sebanyak 1 kontainer senilai Rp 300 juta. Ia memegang wilayah Yogyakarta dan sekitarnya. Ternyata dalam tempo tiga dua bulan, barang habis. “ Yang memborong justru kebanyakan orang luar Jogja, seperti dari Magelang Temanggung dan sekitarnya,” Adit menjelaskan.
Begitu melihat peluang pasar yang sangat besar dalam bisnis plafon PVC, Adit langsung gerak cepat dengan mendirikan PT Indonesia Plafon Semesta. Sebelum akhirnya memiliki pabrik sendiri, ia memesan plafon PVC ke sebuah pabrik di Tangerang yang kemudian dilabeli merek Indofon. Ia juga memasukkan produknya lewat E-Katalog LKPP (Lembaga Kebijakan Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah). “Ini merek kami sendiri,” dia menegaskan.
Dengan merek sendiri tersebut, Adit lebih bersemangat memasarkan produknya. Ia langsung tancap gas dengan melakukan promosi secara online. Keberuntungan rupanya memang berpihak pada Adit Setiawan. Saat pertama kali terjun dalam bisnis plafon, hampir bersamaan dengan masa rekontruksi gempa di Lombok, Nusa Tenggara Barat.
Dengan terdaftar di E Katalog, ternyata membuat produk Indofon dengan mudah dikenal para kontraktor yang menangani proyek di Lombok. Karena itulah, Indofon menjadi produk utama plafon PVC yang dipasang di gedung-gedung pemerintah di NTB yang sedang dibangun kembali, mulai perkantoran, rumah sakit, kantor polisi bahkan berlanjut sampai RS International Mandalika dan sirkuit Mandalika.
Dari proyek gempa Lombok yang nilainya mencapai ratusan miliar tersebut, Adit mengaku bisa menyisihkan keuntungan yang lumayan. Dari sinilah, ia bisa mendirikan pabrik plafon PVC sendiri. Pabrik pertama dibangun tahun 2019 di Bogor, menghabiskan dana sekitar Rp 20 miliar.
Keberhasilan menggarap proyek rekontruksi Lombok menjadi portofolio yang membawa nama Indofon makin dikenal di kalangan pemilik proyek. Karena kepercayaan yang telah tertanam, Indofon bisa diterima di kota-kota lain di seantero negeri. Hal ini bisa dilihat dari daftar pekerjaan yang dilayani.
Sebagai gambaran, produk Indofon telah menjadi bagian tak terpisahkan dari gedung-gedung tinggi di Jakarta, mulai dari apartemen hingga Rumah Sakit Koja, Jakarta Utara. Di Jawa Tengah, diaplikasikan di ratusan sekolah dan gedung DPRD propinsi.
Menurut Adit, kepercayaan para kontraktor untuk menggunakan produk Indofon ternyata bukan semata karena standar kualitas semata, tapi ada faktor lain yang terkait kemampuan finansial untuk membiayai proyek. Untuk proyek besar membutuhkan modal yang besar juga. Untuk satu proyek nilainya bisa mencapai ratusan juga hingga puluhan miliar rupiah. Sementara, sistem pembayaran berdasarkan termin.
Dengan nilai yang besar tersebut, jarang ada kontraktor yang siap menjadi pelaksana proyek. Kalaupun ada, kemampuan modalnya sangat terbatas hanya kisaran ratusan juta rupiah saja. Hal lain yang ditakutkan adalah pekerjaan tidak terbayar karena uang dibawa lari oknum pemborong.
Kelebihan yang dimiliki Indofon, pemilik perusahaan siap membiayai seluruh proyek, dan siap menghadapi risiko yang harus dihadapi. “Kami siap back up pekerjaan yang nilainya sampai Rp 30 miliar,” ungkap Adit.
Selama menjalankan proyek pemerintah, Adit juga menghapi risiko pekerjaan tidak terbayar karena berbagai hal, termasuk duit dibawa lari kontraktor. Bahkan pertahun rata-rata dana yang hilang karena tidak terbayar bisa mencapai Rp 3 miliar.
Kenyataan tersebut tidak membuat Adit mundur selangkah pun. Meski kehilangan dana miliaran rupiha, ia mengaku tidak mengalami kerugian. “Proyek tetep untung tapi keuntungan kami berkurang, ya tapi itulah proses yang harus dijalani,” tutur Adit.
Dengan banyaknya proyek yang dijalankan, tentu saja makin banyak pundi pundi rupiah yang dihasilkan. Dan hasilnya, Adit kembali membangun pabrik baru di kawasan industri Tuksono Kulonprogro (DIY). Pabrik yang sudah soft opening pertengahan tahun 2022 tersebut sudah berproduksi dengan tiga mesin produksi dengan investasi puluhan miliar.
Menurut Adit, pembangunan pabrik baru merupakan solusi untuk terus menambah kapasitas produksi guna memenuhi permintaan pasar. Ia mengaku permintan terus naik tapi belum bisa terpenuhi karena keterbatasan kemampuan produksi. “Kami sampai kerja 24 jam nonstop,” lanjutnya.
Karena tingginya permintaan tersebut, untuk mendapatkan produk Indofon, konsumen harus antre dan inden selama dua pekan. Sebagai gambaran, untuk pabrik yang di Sentolo, saat ini permintaan pesanan rata-rata 54 truk perbulan, tapi kapasitas produksi baru mencapai 20 truk saja. “Kami akan terus nambah kapasitas produksi sampai hingga waktu inden bisa lebih cepat, “ ungkap Adit.
Seperti dijelaskan Adit, pasar plafon PVC masih sangat terbuka lebar. Saat ini makin banyak konsumen yang beralih ke plafon PVC karena memang memiliki keunggulan dibandingkan dengan jenis plafon lain, seperti gypsum. Selain lebih ringan, tentu lebih sehat karena materialnya bebas jamur dan asbes. Apalagi ada aturan dari pemerintah yang mendorong penggunaan plafon PVC karena relatif lebih aman saat terjadi gempa.
Sebagai seorang entrepreneur, Adit termasuk seorang yang visioner. Sejak awal berusaha menjalankan perusahaan, dia sudah dengan manajemen profesional. Salah satunya dengan meraih sertifikat ISO. Sebenarnya ada upaya untuk mendapatkan SNI (Standar Nasional Industri). “Tapi sampai sekarang pemerintah belum memiliki acuan untuk SNI produk plafon PVC,” ia mengungkapkan.
Sebagai pasar yang menjanjikan, Adit mengaku terus fokus menggarap proyek pemerintah. Untuk itu, ia telah menyiapkan tim yang dinilainya cukup tangguh dan profesional. Saat ini, ia memiliki 30 tim teknis yang menangani proyek pemerintah. Setiap tim beranggotakan 3-4 orang inti. Mereka terdiri dari drafter, marketing dan surveyor. “Untuk proyek pemerintah kami pusatkan di Jogja,” tuturnya.
Untuk menjaga loyalitas tim yang tersebar di berbagai kota, Adit menerapkan aturan untuk tidak menerima pekerjaan dari luar perusahaan. Sebagai konsekwensinya, ia menjanjikan keberlanjutkan pekerjaan. “ Mereka kami jamin selalu ada pekerjaan, karena itulah mereka siap bila dibutuhkan menggarap proyek dimanapun,” ujar Adit.
Menurut Adit, kunci keberhasilan bisnisnya terletak pada manajemen. Seorang pengusaha harus paham manajemen. Tanpa paham manajemen tidak akan bisa menciptakan system. Ia tidak harus menguasai bisnis yang dijalankannya. Yang penting bisa mengelola sumber daya manusia yang paham bisnis tersebut.