Dukungan Pertamina Akselerasi Transisi Energi Indonesia

Dukungan Pertamina Akselerasi Transisi Energi Indonesia
Direktur Perencanaan Strategis dan Pengembangan Bisnis PT Pertamina Power Indonesia (PPI) Fadli Rahman. (Foto: Wisnu/SWA)

Pemanfaatan Energi Baru dan Terbarukan (EBT) diprediksi akan mendominasi di 2040. Hal ini ditandai dengan investasi transisi energi dan dekarbonisasi yang meningkat secara signifikan dalam beberapa dekade terakhir.

Direktur Perencanaan Strategis dan Pengembangan Bisnis PT Pertamina Power Indonesia (PPI) Fadli Rahman menyebut, investasi untuk sektor EBT pada 2021 mencapai US$755 miliar atau tumbuh 15 kali lipat dibandingkan tahun 2005.

“GDP kita US$1 triliun, artinya EBT ini 3/4 dari seluruh ekonomi Indonesia dan dua kali dari global oil and gas investment. Jadi minat orang ke transisi energi ini sangat tinggi. Hal ini juga terlihat dari harga listrik dari Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) yang semakin rendah,” ujar Fadli dalam acara Ngopi BUMN di Jakarta, Selasa (08/11/2022).

Fadli menjelaskan, dunia telah mengalami dua transisi energi di masa lalu, dan di dekade ini merupakan yang ketiga kalinya. Di akhir tahun 1800-an ada shifting dari biomassa ke batu bara. Selanjutnya di tahun 1950-an beralih ke oil and gas, dan ke depan renewable energy atau EBT diprediksi akan semakin mendominasi.

Transisi energi saat ini pun dinilai berbeda dengan transisi sebelumnya, di mana ada aspek tambahan yaitu environmental. “Dulu hanya terkait dengan ekonomi mulai dari ketersediaan, harga, aksesibilitas. Namun sekarang ada faktor lingkungan bahkan ke kesehatan manusianya. Itu mengapa transisi energi saat ini penting dan berbeda,” lanjutnya.

Sejalan dengan meningkatnya investasi dalam transisi energi dan dekarbonisasi, Fadli berharap agar pengembangan EBT di Indonesia semakin pesat. Mengingat potensi EBT yang dimiliki RI cukup besar, sementara pemanfaatanya masih minim.

“Potensi energi di Indonesia cukup berlimpah, ada tenaga air, tenaga surya yang ternyata pemanfaatannya masih 8% dari total potensi kita. Kita punya tenaga angin, geothermal/panas bumi itu pemanfaatannya 0,01% dari potensi kita sekarang,” kata Fadli.

Untuk itu, Pertamina bergerak maju dalam transisi energi sekaligus memungkinkan ketahanan energi untuk Indonesia. Pertamina berkomitmen untuk mendukung komitmen pemerintah Indonesia untuk mencapai Net Zero pada tahun 2060 atau lebih cepat dengan mengembangkan peta jalan dekarbonisasi aset dan pembangunan bisnis hijau.

Ada beberapa tujuan yang diharapkan bisa dicapai Pertamina. Salah satunya yakni bisnis dekarbonisasi dengan tujuan efisiensi energi, membangun pembangkit listrik hijau, mengurangi reduksi seperti gas methan dan lainnya, elektrifikasi armada dan peralatan statis, penangkapan dan penyimpanan karbon, serta menyediakan bahan bakar rendah karbon untuk kendaraan.

Pertamina juga mengembangan bisnis baru di bidang energi baru terbarukan, EV Charging and Swapping, pengembangan energi biru untuk manufaktur dan transportasi, Nature Based Solution, pengembangan baterai, dan biofuels.

“Kami juga telah menerapkan teknologi penyimpanan karbon atau Carbon Capture Storage (CCS) dan Carbon Capture Utilization and Storage (CCUS) untuk lapangan migas di Jatibarang,” tutur Fadli.

Menurut Fadli, Pertamina merupakan salah satu pemain bidang energi baru terbarukan terbesar di Indonesia. Mulai dari penerapan penggunaan geothermal dalam hal produksi migas, penggunaan panel surya (Solar PV) dan penggunaan biogas.

Karenanya, Pertamina memiliki tanggung jawab besar untuk menjadi pilar pencapaian net zero emission di Indonesia, dengan prinsip keterjangkauan dan kewajaran. “Kami juga menggandeng mitra nasional dan global untuk menjajaki kemitraan dalam program dekarbonisasi dan mempercepat pertumbuhan EBT, untuk mencapai Net Zero Emission,” imbuhnya.

Dukungan untuk akselerasi transisi energi juga dilakukan Pertamina dengan berpartisipasi aktif dalam Business 20 (B20) yang merupakan bagian dari G20. Direktur Utama Pertamina Nicke Widyawati ditunjuk sebagai Ketua Satuan Tugas Energi, Keberlanjutan & Iklim (Chair of the Energy, Climate, and Sustainability Task Force) yang bekerja sama dengan para pemimpin bisnis global untuk menangani kebijakan terkait energi dan perubahan iklim.

Forum komunitas bisnis internasional ini menjadi salah satu wadah entitas bisnis untuk berperan sebagai penggerak pertumbuhan ekonomi yang kuat, berkelanjutan, dan berimbang yang mendukung komitmen untuk mencapai Net Zero Emission dan pengembangan Energi Baru Terbarukan.

“Penunjukan Pertamina untuk memimpin Task Force ESC menjadi bukti bahwa BUMN ini memiliki peran penting dalam menyukseskan dekarbonisasi global,” kata Fadli.

Editor : Eva Martha Rahayu

Swa.co.id

# Tag