Dulunya Pemasok Lokal, Kini Eksportir Andal

Dulunya Pemasok Lokal, Kini Eksportir Andal

PT Trimitra Garmedindo (Trimed) didirikan pada 1992 dengan tujuan utama menjadi pemasok komponen tensimeter atau blood pressure meter (alat ukur tekanan darah) yang diproses secara garmen atau dijahit. “Trimed memproduksi semua jenis manset (nylon dan cotton puff) dan medical bag/caseware untuk memenuhi kebutuhan PT Sugih Instrumendo Abdi (SIA),” tutur Gagan Sugandi, Direktur Pengelola Trimed.

Gagasan membesarkan Trimed lebih dari sekadar perusahaan dengan satu pelanggan muncul ketika Direktur SIA Ade Tarya mengajak Gagan mengikuti pameran internasional alat-alat kesehatan dunia di Dusseldorf, Jerman, pada 1994. SIA merupakan salah satu peserta pameran alat-alat kesehatan tersebut. Melihat peserta pameran yang begitu besar — sampai 3.500 perusahaan — dan pengunjung yang mencapai 137 ribu orang, Gagan menemukan pasar buat produk yang belum dibuatnya, yaitu medical bags. Kesempatan itu juga digunakan Gagan untuk mengunjungi pelanggan SIA, sekadar menguji gagasannya. Dari kegiatan itu, dia semakin yakin bahwa ada peluang bisnis yang bisa digarap. “Saya lihat ada peluang besar menunggu untuk produk medical bags. Dari situ saya bertekad masuk ke bisnis ini,” ungkap Gagan mengenang.

Meski jalan telah terbuka di depan mata, Gagan tak bisa mewujudkan ide itu. Bahkan sampai akhir 1999 ide itu tetap tinggal ide, sebab Trimed yang dipimpinnya masih harus fokus pada pengembangan produksi segala jenis manset buat memenuhi kebutuhan SIA yang semakin meningkat. Baru pada 2000 gagasan itu bisa direalisasi Gagan dengan cara mendiversifikasi produk perusahaan yang dipimpinnya. Begitulah, Trimed mulai memproduksi medical bags. Jauh sebelum itu diwujudkan, dia telah mengumpulkan informasi tentang perusahaan-perusahaan yang bergerak di medical bags melalui katalog pameran, brosur, flyers, dan segala informasi tentang produk ini. “Semua informasi yang sudah terkumpul itu saya olah menjadi rencana bisnis. Saya tahu ada ribuan jenis medical bags. Trimed bisa memproduksi sebagian. Pengalaman sudah punya dan pasar yang ada begitu besar, masa sih nggak bisa dapat customer,” kata Gagan.

Dia mendiversifikasi produknya karena ingin mengurangi ketergantungan Trimed pada SIA dengan menciptakan produk baru, sekaligus membuka pasarnya. “Kami juga tidak pilih-pilih pasar, tidak mimpi untuk mendapatkan customer-customer kelas kakap. Kami sadar bahwa mencari pasar kakap di pasar global bukanlah hal mudah. Selain itu, Trimed belum berpengalaman membuat market entry strategy atau export business plan. Kami cuma mengerjakan apa yang Trimed bisa lakukan,” ujarnya merendah.

Dengan memanfaatkan SIA sebagai tulang punggung kegiatannya di luar negeri, Trimed membuka pasar sendiri buat produk medical bags/caseware-nya. Gagan juga tak segan menggunakan jasa pusat promosi impor untuk negara-negara (CBI) yang berkantor pusat di Rotterdam. Selain lewat CBI, dijelaskan alumni Institut Teknologi Bandung itu, Trimed menciptakan pasar lewat ajang internasional yang sengaja diikutinya. Pada 2001, misalnya, Trimed mengikuti program pelatihan EXPRO 29 di Rotterdam. Dari program itulah Trimed banyak mendapat ilmu baru, antara lain tentang pengembangan strategi memasuki pasar Uni Eropa. Dari pengalaman itu dan tahun-tahun berikutnya selama empat tahun, Trimed berhasil menjalin hubungan dengan sekitar 400 kontak bisnis di seluruh dunia. Dari kontak-kontak bisnis itulah, Gagan berhasil mendapatkan sejumlah pelanggan prospektif.

Kini Trimed telah menjadi produsen medical bags yang cukup diperhitungkan di pasar global. Produknya telah menjangkau AS, Jerman, Italia, Prancis, Spanyol, Inggris, Swiss, Belanda, Irlandia, Turki, Australia, Jepang, Korea dan Malaysia. “Untuk pasar ekspor, Trimed rata-rata menghasilkan sekitar 1,6 juta unit manset tensimeter dan 300 ribu medical bags/caseware/tahun. Semuanya ada dalam berbagai bentuk, ukuran dan jenis,” ujar ayah tiga putri itu bersemangat. Nilai ekspor Trimed sekitar US$ 2,3 juta/tahun. Semuanya diekspor dengan merek Trimed? “Oh tidak. Cuma 10% yang kami ekspor dengan merek Trimed. Selebihnya kami kirim dengan brand mereka,” jawabnya.

Gagan mengakui, memang lebih menguntungkan mengekspor dengan merek sendiri karena perusahaan lebih leluasa menentukan desain produk dan segmen pasar yang dituju. Namun, biayanya juga jauh lebih bear dan butuh waktu lama untuk menguatkannya. Toh dengan semua yang telah dilakukannya, menurut dia, di samping ekspornya terus tumbuh rata-rata 15% per tahun, merek Trimed juga semakin dikenal dunia luar dan makin kuat. Dikatakannya, peningkatan dari sisi volume dan nilai ekspor tersebut memang tidak terlalu fantastis, tapi itu biasa. Umumnya, pelanggan di Barat sangat selektif dan berhati-hati terhadap pemasok baru. Awalnya, mereka hanya melakukan trial order dalam volume dan nilai kecil. Pesanan sesungguhnya baru dilakukan 1-3 tahun sesudahnya, setelah yakin bahwa produk dan perusahaan tersebut memang bagus. “Tahun 2006 Trimed juga akan masuk pasar Timur Tengah,” kata Gagan optimistis.

Bagaimana Trimed mampu memenangi persaingan dengan para pemain besar semacam Ferno dan Pacific (AS), Boscarol, Spencer, Medida, Moretti, Luehr dan Bagheera (Uni Eropa)? “Bagi Trimed, nama-nama tersebut tidak sepenuhnya dianggap sebagai kompetitor, karena justru berkat mereka juga Trimed mendapatkan penawaran sebagai co-makership partner. Bahkan, beberapa pemain itu sudah ada pula yang menjadi original equipment manufacturer (OEM) buat Trimed,” jawab Gagan. “Jadi dalam bisnis ini, kompetitor pun bisa saja jadi OEM business. Untuk pasar di sektor OEM di Eropa, kompetitor serius bisa datang dari Cina dan Taiwan. Adapun untuk pasar OEM di Amerika, kompetitor datang dari negara Amerika Latin, misalnya Meksiko.”

Menurut salah satu pelanggan Trimed, Chairul Anwar bin Alias, Direktur Pengelola Gelombang Saujana Sdn. Bhd., Malaysia, Gagan adalah sosok yang mau mendengarkan dan mau mengerti permasalahan yang timbul. Dia selalu menawarkan solusi menang-menang. Hal itu membuat Trimed dihormati mitranya di luar negeri. “Keistimewaan produk Trimed adalah kualitas produknya mendapatkan pengakuan dari FDA (AS) dan CE Mark (Uni Eropa),” kata Chairul memuji. “Gagan bersama Trimednya tentu harus mampu memelihara pengakuan itu, bila perlu meningkatkannya,” ujarnya memberi saran.

Meski cukup diperhitungkan di pasar global, nama Trimed nampaknya kurang bunyi di negeri sendiri. “Memang di pasar dalam negeri kami bukan pemain besar, karena saat memutuskan masuk ke situ, saya langsung membidik pasar luar negeri. Akibatnya, pasar dalam negeri tidak tersentuh,” tutur Gagan. Namun, itu semua baginya belum final. Sejak 2005 dia telah berancang-ancang menggarap pasar dalam negeri. Untuk itu, Trimed telah mengembangkan tensimeter prented fabrics, first aid kits dan emergency & resque kits.

Produk-produk tersebut telah didaftarkan untuk mendapatkan registrasi dari Departemen Kesehatan. Dia berharap produk-produk Trimed tersebut tahun ini bisa mendapat tempat di hati konsumen Indonesia. Kegiatan promosi dan pemasarannya akan dilakukan sendiri atau melalui kerja sama keagenan atau distributorship dengan pihak lain, seperti yang telah dilakukan Trimed saat menggarap pasar negeri orang.

Pehobi golf ini yakin, kesuksesan Trimed di pasar luar negeri dapat diulangi di negeri sendiri, karena prinsip dan hukum yang dianut pasarnya juga sama. Jadi, tak ada strategi baru yang akan diterapkannya. Dalam memenangi persaingan, Trimed berupaya menghasilkan produk bermutu dan memelihara kepuasan pelanggan secara konsisten. “Itu hanya bisa dicapai melalui ketekunan, disiplin tinggi dan perbaikan yang berkesinambungan atau continuous improvement. Competitive advantage yang dimiliki Trimed adalah menghasilkan produk bermutu secara konsisten dengan harga bersaing, memberikan pelayanan prima kepada pelanggan secara tepat dan cepat. Pengalaman belasan tahun melayani permintaan OEM dengan reputable brands, jelas merupakan modal dasar yang bagus,” ungkap Gagan percaya diri.

Kini obsesinya cuma satu, yakni menjadi pemain andal dalam emergency & rescue equipment di dunia. Yang terakhir ini tentu memerlukan kerja keras dan sikap pantang menyerah yang luar biasa. Ade Tarya, mitra bisnis yang juga sangat mengenal Gagan, menilai Gagan memiliki banyak sifat positif yang berperan dalam mengukir kesuksesan perusahaan yang dipimpinnya. “Dia profesional yang bekerja penuh tanggung jawab. Motonya: ingin memuaskan pelanggan. Kalau hasilnya ada yang kurang baik, dia bersedia memperbaikinya demi kepuasan pelanggan. Itu yang bikin saya nyaman bekerja sama dengan dia,” tutur Ade. Hanya saja, dia menambahkan, dalam hal manajemen Gagan punya kelemahan: terlalu berani mendelegasikan tugas kepada orang yang belum menguasai. “Ke depan nanti, dia mesti lebih berhati-hati,” Ade menyarankan.

Dilarang keras mengambil konten (tulisan, foto, infografis, video, dan sebagainya) yang dimuat di situs web ini, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk platform AI (artificial intelligence) dan platform digital lainnya, tanpa izin tertulis dari direksi yang berwenang di situs web ini.

# Tag