GD = Gaul Divide

GD = Gaul Divide

Bagi Anda mungkin memegang kamera digital merupakan hal biasa. Namun, bagi sekelompok masyarakat di daerah pedalaman utara sebuah negara di Asia Timur, kamera digital merupakan barang yang baru. Setahun lalu, saya merasakan betapa takutnya mereka terhadap kamera digital ini. Setelah pendekatan dengan bahasa tarzan dan kursus singkat selama beberapa menit, mereka mau belajar menggunakan kamera digital dan mau difoto bersama. Tatkala langsung ditunjukkan hasilnya, mereka tersenyum gembira dan mengajak rekan-rekannya melihat hasil kamera aneh ini. Kedua contoh tadi sangat manusiawi dan dapat dimaklumi, karena terjadi digital divide yang besar. Yang satu berada di zona komunitas underdeveloped, sedangkan minuman ringan berkaleng dan kamera digital adalah produk komunitas developed yang serba instan dan compact.

Yang lebih lucu lagi tentunya, manusia yang berada dalam komunitas developed tapi masih memiliki pola pikir, pola kata dan pola tindak di zona developing apalagi sampai berada di zona terbawah yakni zona underdeveloped. Bukan karena pendidikan, pengetahuan dan kepemilikan, melainkan lebih karena wawasan, keberanian dan kemantapan mencoba hal baru yang amat kurang. Dalam bahasa sindiran, sering saya sebut sebagai manusia ”kurang gaul” alias ”gaul divide” atau GD — lebih dari sekadar gaptek alias gagap teknologi.

Thomas Friedman yang lagi bersinar gara-gara buku terbarunya The World is Flat pun mengakui pernah mengalami pengalaman GD yang amat menyebalkan. Berharap dapat duduk di aisle dengan berangkat ke bandara lebih pagi berbekal e-ticket lambang produk developed, ternyata ia tetap mendapat window seat yang paling dihindarinya. Setelah ia mengamati ternyata banyak pelanggan lain yang datang lebih lambat darinya mendapat aisle seat. Ia pun lalu mencari tahu penyebabnya. Ternyata, masalahnya adalah kurang gaul. Ia sudah menggunakan produk eticket Southwest yang maju, tapi selanjutnya ia masih menggunakan proses tiket manual. Datang ke konter lebih pagi, karena tidak bisa kolusi dengan orang dalam, pencet tombol dengan asumsi siapa datang lebih cepat ia dapat, bak antre kursi di terminal Pulogadung. Padahal, kalau punya e-ticket, mulai pukul 12.00 malam pada hari keberangkatan ia boleh mencetak sendiri tiketnya dan memilih nomor kursinya. Tak perlu ke konter bila tak ada bagasi. Friedman kecewa sekaligus mafhum, ”Hari gini masih datang ke konter?”

Saya pun baru kena peluru GD yang tak jauh berbeda dari Friedman ketika check in di konter United Airlines dalam penerbangan dari LAX ke Phoenix. Dengan mencatat nomor konfirmasi e-ticket saya melakukan transaksi di konter. Saya terkejut, kok tidak ditanya nomor tiketnya? Maklum pengalaman saya sebelumnya adalah memasukkan nomor konfirmasi lalu masuk ke proses berikutnya. Kali ini perintahnya adalah masukkan IDCard Anda. Beruntung saya membawa kartu frequent flier. Begitu saya swept, langsung tertera nomor tiket, nomor penerbangan pulang-pergi, plus pilihan kursi, serta pertanyaan akankah mencetak invoice dari transaksi online saya. Saya mencoba mengganti kursi yang di window dan hasilnya nihil. Saya pun terpisah dari ketiga rekan seperjalanan saya. Bahkan salah seorang rekan yang membawa istri juga harus berpisah duduk.

Gaul divide memang menyebabkan biaya lebih mahal, proses lebih rumit, kenyaman berkurang, waktu lebih lama. Pokoknya sebuah ongkos mahal yang harus dibayar bila orang masih menggunakan proses di generasi sebelumnya. Bagi yang masih ingin tiket kertas — dengan asumsi lebih mantap dan terjamin — ia harus membayar 150 ribu poin dari mileage dibandingkan dengan 80 ribu menggunakan e-ticket. Atau, dalam bentuk uang ia bisa kehilangan setengah dari harga normal.

Perusahaan yang masih berparadigma bahwa membekali setiap karyawan dengan PC merupakan pemborosan dan memungkinkan karyawan main game adalah sebuah contoh perusahaan yang terkena penyakit GD. Risiko main game memang ada, tapi sangat kecil dibandingkan dengan keuntungan bila karyawan menggunakan PC untuk menimba banyak pengetahuan dan mempercepat proses kerja. Zaman sekarang, PC adalah alat kerja bak pensil di zaman underdeveloped.

Bahkan di dunia pers, perubahan ini semakin cepat. Dalam generasi 1.0 masih ada pemisahan yang jelas antara wartawan foto, reporter, wartawan yunior, wartawan senior, editor, desain grafis. Menuju ke generasi 2.0 pemisahan itu semakin tipis: hanya kontributor, editor dan desain grafis. Artinya, reporter dan wartawan yang menulis menjadi satu. Yunior dan senior menjadi sulit dibedakan, karena pengembangan diri melalui edukasi online mempersempit jarak yunior dan senior, bahkan yang yunior dan muda lebih cepat menyerap ilmu dan mampu mengadopsi yang terjadi di dunia maya dengan kemampuan bahasa dan wawasan yang lebih maju.

Sementara pada generasi 3.0, dalam waktu tak terlalu lama, reporter, wartawan, editor, desain grafis dan wartawan foto akan melebur menjadi satu profesi yakni produser rubrik. Dari segregasi menjadi polarisasi. Ia harus lengkap, mandiri dan mampu menunjukkan kepribadian dalam karyanya dari awal sampai akhir. Ia dituntut menunjukkan totalitas karakternya, sebab ia yang berhadapan langsung dengan sumber berita, artinya ia yang tahu the pulse dan ritme narasumber. Ia bisa merekam, melakukan pemotretan, mendesain dari rumah dan langsung push in ke percetakan setelah disetujui oleh pemimpin redaksi. Dari pit (tempat ia mencari sumber berita) ke port (ujung akhir sebelum masuk percetakan) menjadi miliknya. Ia harus mampu menunjukkan karakter beritanya. Mustahil? Kita tunggu saja waktunya.

Dilarang keras mengambil konten (tulisan, foto, infografis, video, dan sebagainya) yang dimuat di situs web ini, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk platform AI (artificial intelligence) dan platform digital lainnya, tanpa izin tertulis dari direksi yang berwenang di situs web ini.

# Tag