“Lord†Fujio, Samurai Gaek Canon
Di usia 70 tahun, Fujio Mitarai sudah selayaknya beristirahat. Menikmati masa tua bersama keluarga, menarik diri dari hiruk-pikuk bisnis serta tak lagi mengurusi 21 ribu karyawan dan perusahaan beraset 173 miliar yen. Maklum, ibarat kepala sebuah klan, Fujio telah mengangkat harkat keluarga ke tingkat yang amat tinggi. Dialah â€Âlord†dari keluarga besar Canon. Dan, bukan sembarang â€Âlordâ€Â. Kelahiran 23 September 1935, di Kamae, Jepang ini baru saja ditahbiskan Fortune sebagai Asian Businessman of Year 2005. Tidak tanggung-tanggung, Fortune bahkan menyebut CEO Canon itu CEO Jepang terbaik dalam satu dekade terakhir, melebihi CEO Toyota, Fujio Cho, dan CEO Nissan yang legendaris, Carlos Ghosn.
Tentu, bukan tanpa alasan Fortune menyebut seperti itu. Kakek tua yang istrinya, Chizuko, meninggal pada 2002 ini, telah membalik nasib Canon dari jurang kehancuran menjadi pemain yang disegani. Memang, turnaround Canon tidaklah sedramatis Nissan, tapi perubahan di pabrik otomotif itu berada di tangan CEO asing (Ghosn orang Brasil), dan setelah investor luar (Renault) mengambil kendali. Fujio memutar arah Canon sebelum dipaksa investor dan orang luar. Itulah hebatnya.
Penilaian itu tidaklah keliru. Terutama bila merekam apa yang terjadi pada tahun 1995, sewaktu Fujio resmi diangkat sebagai CEO Canon. Ketika itu, perusahaan dalam keadaan semrawut. Dililit utang US$ 7,5 miliar, produk-produknya kurang berkilau di pasaran. Bahkan sejak 1985, produk Canon kurang kompetitif, dibenamkan para pesaing.
Kursi CEO sebenarnya bukanlah sesuatu yang diidamkan Fujio. Ia bekerja di perusahaan milik pamannya, Takeshi Mitarai, ini selepas lulus dari Chuo University tahun 1961. Canon waktu itu masih berkutat pada kamera dan mulai merambah peralatan kantor. Di dekade 1960-an itu, produk Takeshi sudah diperhitungkan, terutama di Jepang.
Bekerja di perusahaan keluarga, awal karier Fujio tidaklah dibangun di Jepang. Sang paman, Takeshi, mengirimnya ke Amerika Serikat untuk mengurus kantor penjualan Canon di Fifth Avenue, New York. Tepatnya, mengurus keuangan perusahaan yang dibuka Takeshi pada 1955 sebagai kantor cabang pertama di mancanegara (artinya, hanya 10 tahun setelah Jepang dihancurleburkan AS pada Perang Dunia II).
Di AS inilah Fujio muda belajar banyak tentang bisnis. Salah satu peristiwa yang berkesan dan selalu diulang-ulangnya adalah ketika ia bertemu auditor Internal Revenue Service (IRS) bernama Greg. Sang auditor menengarai ada sesuatu yang keliru di Canon AS, sehingga labanya hanya US$ 6 ribu. Akhirnya, setelah menyisir pembukuan selama sebulan, terlihatlah bahwa pendapatan di AS tidak efisien. Maka, Greg pun menawarkan saran buat Fujio: depositokan uang, tutup perusahaan dan segera pulang kampung.
â€ÂPulanglah ke Jepang. Itulah yang dikatakannya padaku,†ujar Fujio. â€ÂBank-bank di AS menawarkan bunga 5% untuk deposito berjangka. Jika tak bisa berbuat lebih baik, kata Greg, saya hanya buang-buang waktu saja,†ia melanjutkan seraya menambahkan, ucapan itu amatlah mengejutkan. Toh, alih-alih menyangkal, ia mengakui cetusan Greg. â€ÂTujuan utama berdirinya bisnis apa pun memang mencetak laba. Kalau Anda tak bisa mengalahkan suku bunga bank, perusahaan Anda tak punya alasan untuk hidup lebih lama,†ujarnya. Saat itu, penjualan Canon AS mencapai US$ 3 juta di AS.
Peristiwa ini amat membekas dalam dirinya. Tak mengherankan, kelak aspek bottom line sangat diperhatikannya, terlebih ketika ia dipercaya menjadi Presiden Canon AS pada 1979. Buktinya, sebagai bos Canon AS pada 1979-89, dia sanggup mengalahkan tingkat suku bunga setiap tahun.
Tahun 1989, Fujio yang bersahabat erat dengan legenda GE, Jack Welch — mereka kerap main golf bersama — dipanggil pulang ke Jepang. Keluarga besar Mitarai rupanya memerlukan tenaganya untuk membantu membenahi perusahaan yang terus terpuruk.
Fujio bukan tak tahu persoalan yang membelit Canon. Salah satu yang disorotnya adalah diversifikasi usaha di tengah iklim kebebasan berinovasi yang gila-gilaan. Sejak awal berdiri pada 1933 (didaftarkan resmi sebagai perusahaan pada 10 Agustus 1937 setelah merek Canon dipatenkan pada 1935), budaya perusahaan ini didominasi ilmuwan dan teknisi. Perusahaan ini bahkan telah membetot minat banyak teknisi dan wirausaha Jepang untuk turut berinvestasi dalam hal riset dan pengembangan (R & D), yang diwujudkan dalam sejumlah paten setiap tahun.
Pada 1980-an, Fujio mulai resah lantaran antusiasme dalam urusan teknologi seperti berjalan lepas kendali. Semangat kebebasan berkreasi yang mengantarkan pada sejumlah sukses, ternyata menggiring pada anarki. Seperti yang disaksikannya, Canon bergerak menuju klik-klik yang tak konstruktif. Sejumlah â€Âlord†muncul menjadi raja di divisinya sendiri, dengan masing-masing strategi, serta bebas untuk mengucurkan biaya mahal buat proyek riset, tanpa mempertimbangkan masukan bagian lain. Akibatnya, setiap tahun uang berhamburan tanpa hasil yang menggembirakan. Janji produk yang ciamik tak ditepati. Ujung semuanya amat mudah diterka: utang menggelembung, penjualan jeblok, saham pun dijauhi investor.
Dipanggil pulang ke Jepang membuat Fujio punya kesempatan mengutarakan unek-uneknya untuk pembenahan Canon. Sayang, pemikirannya banyak berseberangan dengan eksekutif Canon lainnya. â€ÂSaya tawarkan sejumlah perubahan, tapi tak seorang pun menyimaknya,†katanya. â€ÂMereka semua orang teknik. Alhasil, saya seperti bicara dengan bahasa yang berbeda,†lanjutnya. Fujio sendiri tumbuh di lingkungan ilmuwan. Ayahnya dokter, begitu pula paman dan tiga abangnya. Namun, sebagai anak muda di PD II, dia amat takut pada jeritan serta luka. Akhirnya, dia lebih memilih jurusan hukum.
Tahun 1993, Dewan Direksi memilih anak tertua Takeshi, Hajime, lulusan teknik listrik Stanford University sebagai CEO. Malang tak dapat ditolak, Hajime yang 10 tahun lebih muda ketimbang Fujio meninggal tahun 1995 karena penyakit pneumonia. Lewat kesepakatan, Fujio pun diangkat menjadi CEO Canon. Seketika, ibarat mendapat durian runtuh, Fujio bertindak bak samurai yang cekatan menyabet pedang. Ia segera menggeber revolusi untuk menyelamatkan bisnis keluarga yang terpuruk.
Dikatakan revolusi lantaran Fujio memang meluncurkan serangkaian perubahan radikal. Dari sisi bisnis, ia menggusur bisnis-bisnis yang tidak menguntungkan, yang cuma memuaskan nafsu berinovasi para teknisi. Pada 1999, 6 divisi yang merugi dijual, di antaranya liquid-crystal display, photovoltaic batteries dan mesin tik elektrik. Canon diputuskan fokus pada mesin fotokopi, printer dan kamera.
Tak ayal, ibarat bisul pecah, kebijakan ini segera mengguncang Jepang dan menimbulkan perlawanan dari dalam Canon sendiri. Kasak-kusuk merambat sampai ke tingkat elite Canon. Fujio menyebutkan, perlu waktu dua tahun baginya untuk membuatnya lepas dari para eksekutif tua, sekaligus membuatnya jadi benar-benar CEO. Sebetulnya, ia pun tak muda lagi saat itu, tapi media Barat menyebut lantaran lama di AS, pola pikirnya jauh lebih terbuka ketimbang eksekutif Canon lainnya.
Selain fokus pada bisnis inti, terobosan lain yang dilakukan ayah dua anak ini adalah pada sistem produksi. Dia mengembangkan apa yang kemudian disebut pendekatan sistem cell production yang mengganti ban berjalan (conveyor belt) dan jalur produksi lama. Sistem produksi sel menempatkan para pekerja sebagai inti proses produksi. Seluruh perangkat dan materi yang dibutuhkan untuk merakit tersedia bagi kelompok atau individu pekerja yang melakukan keseluruhan perakitan dari awal sampai pembungkusan. Diadopsi dari industri otomotif, harapan Fujio, sistem ini akan mendongkrak produktivitas, menghemat energi karena tidak ada conveyor belt, tidak terjadi surplus produksi dan mengurangi ruangan yang dibutuhkan untuk beroperasi.
Kalaupun ada yang tak diubah olehnya adalah tradisi R & D. Menyadari ini elemen penting, Fujio tetap menggenjotnya, tapi dalam kendalinya. Sebagai ilustrasi, Canon membelanjakan untuk R & D sekitar US$ 2,5 miliar tahun 2004, dan meningkat menjadi US$ 4,5 miliar. Tahun lalu, Canon hanya berada di belakang IBM sebagai pembuat paten di AS.
Selain jurus di atas, Fujio juga menggenjot budaya Kyosei. Belakangan, dalam Canon Asia Expo 2004 di Shanghai, dia mengungkap apa itu Kyosei. Secara harfiah, Kyosei diterjemahkan pada eksekutif Canon sebagai â€Âsemua orang, terlepas dari ras, agama dan budaya, secara harmonis hidup serta bekerja bersama menuju masa depanâ€Â.
Selain dikritik dan ditentang, Fujio mengaku perlu waktu untuk mengubah pola pikir karyawan agar mengikuti terobosannya. Namun, di tengah segala tantangan serta kendala, jurus samurai gaek ini ternyata sukses besar. Sistem cell production — yang mengganti conveyor belt lebih dari sepanjang 12 mil dari seluruh pabrik — sanggup menggenjot produktivitas, memangkas inventory, mempercepat time response dan membawa desain baru ke pasar. Karena bisnis yang fokus, perlahan tapi pasti inovasi-inovasi yang keluar segera mendapat tempat di pasar. Ujungnya, utang terbayar, pundi-pundi kian membengkak, Fujio pun banjir pujian. Di kalangan media Jepang, dia dideskripsikan sebagai pembaru bisnis bergaya Amerika dengan penekanan pada bottom line.
Kini, di tangannya, Canon memang berkibar sebagai pabrikan alat-alat digital dan perlengkapan kantor terkemuka. Secara total, laba bersihnya mencapai US$ 32,1 miliar, jumlah yang setara dengan perolehan Hewlett-Packard yang notabene bisnisnya dua kali lipat lebih besar. Dari sisi penjualan, printer dan mesin foto kopi menyumbang 60%. Sekalipun Canon mengklaim pangsa pasar printer lasernya hanya 5% di pentas global, perusahaan ini menantang HP, Konica Minolta, Seiko Epson dan Xerox. Adapun di inkjet printer, pangsa pasar Canon mencapai 20%, menantang HP yang 40%.
Yang cemerlang adalah bisnis kamera. Di pasar SLR, Canon terus mendominasi, menguasai 59% pangsa pasar global. Sementara itu, di kamera digital, Canon terus merangsek Sony, dengan menjual 17 juta kamera digital, menggenjot pangsa pasarnya menjadi 20%. Di segmen ini, Fujio berharap sanggup menjual 23 juta kamera pada 2008, mendongkrak pangsa pasar menjadi 23%.
Sukses Canon juga terefleksi dalam perdagangan sahamnya, yang pertengahan Januari 2006 mencapai US$ 62/lembar, meningkat tiga kali lipat sejak Fujio jadi CEO. Perusahaan ini menjadi primadona investor global yang berburu value. Sekarang, investor non-Jepang yang memegang saham perusahaan ini. Analis Goldman Sachs, Shin Horie, memprediksi rasio ini akan melejit lebih tinggi seiring dengan kian percayanya investor global terhadap pemulihan ekonomi Jepang.
Yang menarik, kesuksesan ini telah mengantar pada tantangan yang baru. Akhir 2005, Chairman Toyota, Hiroshi Okuda, telah meminta Fujio menggantikannya sebagai Ketua Keidanren, kelompok pebisnis yang mewakili perusahaan-perusahaan besar di Jepang. Ini adalah kehormatan yang tak disangka-sangka. Pasalnya, Hiroshi disebut-sebut akan menyerahkan posisinya di Keidanren pada CEO Toyota yang juga tak kalah cemerlang, Fujio Cho.
Sejumlah kalangan telah berspekulasi dengan menyatakan bahwa naiknya keponakan Takeshi Mitarai ke kursi Keidanren kelak akan berimplikasi besar bagi Canon. Ketua Keidanren adalah wajah Japan Inc. di mata publik domestik dan dunia. Otomatis, siapa pun ia, akan habis-habisan mencurahkan waktu sesuai dengan peran yang diembannya sehingga menyerahkan operasi perusahaan ke tangan orang lain.
Fujio sendiri belum mengambil keputusan tentang suksesi di Canon, dan ia mengaku tak punya rencana hingga Mei, bulan saat pergantian Ketua Keidanren. Namun, dalam wawancara dengan Fortune (6 Februari 2006), ia memberi sinyal tak akan melepas jabatannya di Canon. â€ÂSaya harus berpikir ini lebih dalam. Saya telah menjadi Wakil Ketua Keidanren selama empat tahun terakhir, dan selama itu, saya juga seorang CEO. Saya tahu apa yang terjadi pada perusahaan saya,†katanya.
Apakah Fujio bertahan sebagai CEO Canon dan mengambil jabatan Ketua Keidanren, memang belum dapat dipastikan. Di luar itu, seperti dikutip au.biz.yahoo.com, kini disebut-sebut Tsuneji Uchida (64 tahun) akan menggantikan Fujio bila samurai tua ini sudi menggantikan posisi Hiroshi. Uchida kini menjadi Direktur Pengelola Senior Canon.
Kalaulah Fujio tak melepas posisinya di Canon, tampaknya ini berhubungan dengan ambisinya membawa perusahaan ke posisi yang lebih tinggi lagi. Di tengah segala kesuksesan dan pujian, Fujio bersikap merendah. Ia menegaskan bahwa yang terbaik belumlah tiba buat Canon. Dia telah menggelar program pertumbuhan lima tahunan yang ambisius dengan mencantumkan bahwa penjualan akan mencapai di atas US$ 50 miliar pada 2010. Dalam jangka yang lebih panjang, Fujio kini tengah bertaruh pada teknologi baru yang disebut surface-conduction electron-emitter display (SED), yang diyakininya akan memperkuat cengkeraman Canon di pasar televisi dan memainkan peran penting dalam kehidupan masyarakat dunia.
Fujio yakin, dalam lima tahun ke depan, gambar di TV layar datar akan semakin jernih dengan menggunakan teknologi SED yang dikembangkan Canon bersama Toshiba. Para teknisi Canon — yang berkutat dengan teknologi ini sejak 1986 — mengatakan SED akan menghasilkan kualitas gambar yang superior dibandingkan dengan liquid-crystal atau plasma, dengan konsumsi energi yang lebih rendah. â€ÂTak lama lagi, SED akan menjadi jendela informasi dan gambar di ruang tamu, terhubung secara nirkabel dengan kamera digital, kamera video, printer, dan peralatan imaging lainnya,†ujarnya penuh keyakinan.
Karena visinya ini, tak mengherankan Fujio menggelontorkan tidak kurang dari US$ 1,8 miliar untuk mengembangkan SED sekaligus membangun pabrik untuk memproduksinya. Akhir 2006, diharapkan TV SED 55 inci yang pertama melucur di Jepang. Fujio sendiri mengungkapkan, dia menginginkan harga TV ini setara harga TV LCD dan plasma. Targetnya, meraih 20% panga pasar untuk TV layar datar tahun 2010. â€ÂKami punya rencana besar untuk bisnis televisi digital. Kami ingin tumbuh di area ini, dan menjadikannya pilar bisnis yang baru,†ujarnya pada eksibisi Canon akhir 2005. â€ÂSaya adalah orang yang pragmatis. Saya suka melakukan sesuatu yang bisa dikerjakan,†ia menambahkan.
Dengan semangat seperti itu, tampaknya Samurai gaek ini memang belum ingin istirahat sekalipun usianya semakin lanjut. Itulah yang membuatnya sebagai â€Âlord†di keluarga besar Mitarai terus disegani. Dan benarlah, usia memang bukan penghalang untuk melakukan hal-hal besar.