Ambisi Brex Menjadi Financial Operating System Korporasi Global

Ambisi Brex Menjadi Financial Operating System Korporasi Global

Dalam usia kurang dari lima tahun, startup di bidang layanan corporate spend management ini mampu mencapai status decacorn, dengan valuasi US$ 12,3 miliar. Apa yang ditawarkan fintech besutan dua anak muda asal Brasil ini?

Henrique Dubugras and Pedro Franceschi (Foto Brex).
Henrique Dubugras (kiri) dan Pedro Franceschi (Foto Brex).

Nama Henrique Dubugras pernah cukup membetot perhatian khalayak pelaku bisnis di dunia. Penyebabnya, pemuda berusia 20-an tahun ini masuk dalam daftar miliarder dunia yang dirilis Forbes pada 2022, dengan kekayaan kala itu sebesar US$ 1,2 miliar (Rp 20-an triliun).

Melesatnya status Dubugras ini terkait dengan makin moncer-nya bisnis yang didirikan dan dikelolanya, yakni Brex, startup di bidang fintech yang menyediakan layanan platform finansial korporat. Brex bukan hanya mampu menggaet minat dari kalangan korporasi untuk menggunakan layanannya, tapi juga para investor beken untuk mengucurkan uangnya, seperti petinggi dari Paypal, Peter Thiel dan Max Levchin; mantan CEO Visa Carl Pascarella, dan beberapa modal ventura terkemuka dunia.

Brex didirikan oleh Dubugras, bersama rekan sebayanya, Pedro Franceschi, pada April 2017; dan meluncurkan layanannya ke publik sejak Juni 2018. Pada Januari 2022, perusahaan fintech ini mampu mencapai valuasi sekitar US$ 12,3 miliar, alias mencapai posisi decacorn, setelah meraih dana senilai US$ 300 juta dari pendanaan Seri D-2. Putaran pendanaan ini dipimpin oleh Greenoaks Capital dan TCV.

Hingga putaran pendanaan tersebut, perusahaan startup yang markas pusatnya di San Francisco, Amerika Serikat, ini telah meraih total pendanaan US$ 1,2 miliar dalam usianya yang baru empat tahun lebih itu. Capaian pendanaan Seri D itu menyusul keberhasilan capaian Seri C yang menghimpun US$ 300 juta.

Menurut Dubugras, Co-Founder dan Co-CEO Brex, perusahaannya pada 2021 mencapai pertumbuhan bisnis hingga 100%. Hingga Maret 2022, Brex mempekerjakan sekitar 1.100 karyawan, dengan customer base mencapai hampir sekitar 50 ribu perusahaan di sejumlah negara.

Dubugras, lelaki asal Brasil yang kini tinggal di California itu, kini memang dikenal sebagai miliarder muda. Sebelumnya, ia dikenal sebagai remaja berbakat, yang hobi bermain dengan komputer. Pada usia 12 tahun, ia mempelajari ilmu coding (programming) dengan serius. Di usia 14 tahun, ia membuat sebuah aplikasi online game yang cukup digemari pengguna. Sayangnya, ia terpaksa menutupnya karena diberitahu adanya pelanggaran paten.

Tak putus asa, remaja berbakat ini kemudian mendirikan perusahaan startup di bidang pendidikan. Tujuannya, membantu siswa-siswa Brasil yang ingin belajar ke perguruan tinggi di AS. Dubugras merasa hal ini penting karena banyak dari mereka yang tidak memahami proses aplikasi ke perguruan tinggi di AS. Ini juga mengacu pada pengalamannya yang ingin berkuliah di Stanford University, AS.

Usaha yang dirintisnya itu sebetulnya berkembang, karena ada ratusan ribu pengguna yang tertarik. Hanya saja, karena modalnya terbatas, ia tidak bisa memperbesar skala bisnisnya. Alhasil, sulit baginya menghasilkan uang yang memadai dari bisnis ini.

Di bangku SMA, berkat Twitter, Dubugras bertemu dengan Pedro Francheschi, pemuda Brasil lainnya (kini juga sebagai Co-CEO Brex), yang punya minat dan ambisi bisnis yang serupa. Keduanya sepakat membangun sebuah startup di bidang fintech, yang dicita-citakan bisa menjadi stripe-nya (alias platform pembayaran andalan) warga Brasil. Platform ini diberi nama Pagar.me.

Ilustrasi (https://dot.la).

Bisnis Pagar.me ini lebih serius dibandingkan bisnis yang ditekuni Dubugras sebelumnya. Bahkan, startup ini mampu meraih penghimpunan dana hingga US$ 30 juta, mempekerjakan sekitar 100 staf, dan telah memproses hingga US$ 1,5 milliar saat startup ini dijual.

Di tahun 2016 mereka mendaftar sebagai mahasiswa di Stanford. Mereka juga datang ke Silicon Valley, dan bergabung dengan Y Combinator, suatu wadah pengembangan techpreneur terkenal di kawasan teknologi itu. Di sana mereka mengembangkan startup di bidang virtual reality bernama Beyond.

Pada saat itulah, kedua anak muda ini melihat ada sebuah masalah sekaligus peluang besar, yakni masih terbatasnya kalangan pengusaha kecil-menengah (small-medium business) terhadap akses ke kredit perbankan. Dengan bimbingan mentor mereka di Y Combinator, pada April 2017 mereka mendirikan startup di bidang fintech bernama Brex.

Startup yang bermarkas di San Francisco, California, ini rupanya memperoleh momentum yang tepat, sehingga diminati kalangan perusahaan pengguna dan kalangan investor. Dubugras dan Franceschi pun memutuskan keluar dari Stanford untuk mengurus Brex secara penuh waktu. Atensi yang besar dari perusahaan pengguna dan investor membuat keduanya menjadi miliarder muda.

“Mereka (para investor) merasa comfortable bahwa kami mampu mencapai target kami, sehingga menunjukkan kredibilitas di mata mereka,”

Henrique Dubugras, Co-founder dan Co-CEO

Brex adalah satu dari sejumlah perusahaan digital yang bermain di arena manajemen belanja/pengeluaran korporat (corporate spend management), yang belakangan industrinya tumbuh pesat dan amat kompetitif. Sebagai sebuah bisnis, Brex memulai perjalanannya dengan fokus menyediakan kartu kredit korporat, terutama untuk startup dan kalangan UKM.

Perusahaan rintisan ini kemudian secara bertahap mengembangkan bisnisnya. Tidak hanya berfokus pada layanan produk kartu korporat (yang sudah dikembangkan sejak berdiri), tapi juga menyediakan produk terkait perbankan, layanan manajemen belanja korporat (spend/expense management), layanan reimbursement karyawan, dan semacamnya. Simpelnya, manajemen Brex menyebut layanannya sebagai “financial operating system” untuk kalangan perusahaan yang menjadi pelanggannya.

Secara historis, Brex menghasilkan revenue dari interchange fee ―tiap kali terjadi transaksi. Namun, sejak awal 2022, perusahaan rintisan ini mengumumkan telah membuat langkah besar dengan masuk ke dunia bisnis software (sebagai Software as a Service/SaaS).

Karena itu, penciptaan revenue lebih bervariasi. Selain dari arus interchange fee, Brex juga bisa memperoleh recurring revenue (pendapatan berulang) dari pola berlangganan untuk software-nya. Sebagai contoh, ada layanan yang disebut Brex Premium, yang mengombinasikan layanan kartu kredit korpoat, rekening kas bisnis (business cash account), dan software pembayaran tagihan (bill pay), yang dapat dinikmati lewat satu dasbor tunggal, dengan biaya US$ 49 per bulan. Seiring dengan itu, Brex juga menyatakan akan lebih memberikan perhatian dalam melayani pelanggan (perusahaan) yang berukuran lebih besar (dari kalangan UKM).

Menurut Dubugras, pencapaian penghimpunan dana Seri D-2 mengikuti tahun di mana Brex mampu melipatgandakan revenue-nya ―meskipun ia enggan menyebutkan angkanya. Dalam Seri D-2 itu, kalangan existing investor menyumbangkan sekitar 95% dari nilai pendanaan. “Mereka (para investor) merasa comfortable bahwa kami mampu mencapai target kami, sehingga menunjukkan kredibilitas di mata mereka,” katanya.

Seiring dengan pengumuman putaran pendanaan itu, Brex melaporkan telah membajak profesional top dari Meta (dahulu Facebook), yakni Karandeep Anand, yang sebelumnya memimpin grup produk bisnis di Meta yang melayani lebih dari 200 juta perusahaan. Sebelum di Meta, Anand menghabiskan masa karier selama 15 tahun di Microsoft , dengan posisi terakhir memimpin strategi manajemen produk untuk layanan cloud Microsoft Azure.

Di Brex, Anand ditugaskan sebagai Chief Product Officer, dengan tanggung jawab memimpin ekspansi portofolio produk Brex, di mana porsi cukup besar dari modal baru akan dialokasikan. Ia memang punya background di bidang engineering sekaligus manajemen bisnis.

Bagi Anand, Brex merupakan market disruptor. Dengan Brex, dia merasa bisa berbuat banyak untuk pengembangan ekonomi jutaan orang dan UKM di dunia, melalui inovasi produk finansial. “Peluang di depan untuk Brex sangat luas, dan saya bersyukur punya kesempatan untuk menciptakan produk yang akan membantu kami mengembangkan bisnis mereka,” katanya.

Aneka Benefit Pengembangan Ekosistem Brex Empower

Pengembangan ekosistem platform Brex Empower, bekerjasama dengan Coupa, Gusto, dan Workato, memungkinkan terciptanya sejumlah manfaat, yakni:

Dalam hal pelanggan, Brex berniat akan tetap melayani startup atau perusahaan e-commerce, yang awalnya relatif masih kecil, tapi terus tumbuh dan makin matang. Dengan demikian, Brex beradaptasi untuk melayani perusahaan kelas menengah dan perusahaan yang lebih besar, yang punya kebutuhan keuangan berbeda seiring dengan pertumbuhan bisnis mereka.

Dunia startup yang melayani kebutuhan finansial perusahaan belakangan memang makin berkembang. Contohnya, salah satu pesaing Brex, yakni Ramp, pada Agustus 2021, berhasil menghimpun US$ 300 juta dari pendanaan Seri C, yang membuatnya bervaluasi US$ 3,9 miliar. Karena makin memberikan perhatian untuk melayani perusahaan yang relatif lebih besar dan lebih mapan, Brex memasuki wilayah bisnis Ramp.

Neil Mehta, founder dan partner di Greenoaks Capital (investor penting Brex), melihat Brex telah membangun layanan yang mampu memenuhi kebutuhan startup dan bisnis modern. Ia menilai pula bahwa Brex punya potensi kuat untuk menjadi platform yang lengkap yang menyelesaikan sekumpulan masalah bisnis, termasuk dalam menyediakan kontrol yang lebih baik terhadap belanja karyawan, laporan pengeluaran korporat yang baik, dan reward yang baik untuk kebutuhan spesifik perusahaan.

Mehta juga mencatat sejumlah fitur menarik dari Brex. Di antaranya, Instant Onboarding, provisi virtual card, kemudahan menggunakan UX (user experience), reward yang menarik buat pengguna, tiadanya account fee, dan keandalan teknologi. Fitur-fitur ini, menurut Mehta, terbangun untuk terintegrasi dengan alur kerja finansial perusahaan pelanggan. “Kami pikir hanya sedikit perusahaan yang dapat secara efektif melayani bisnis yang beragam; mulai dari startup berumur sehari hingga perusahaan yang sudah canggih dengan kebutuhan yang kompleks,” katanya.

Pada April 2022, Brex mengembangkan platform Brex Empower. Platform baru ini didesain untuk memungkinkan kalangan perusahaan dapat bergerak cepat berkat penerapan budaya kepercayaan (culture of trust) dan disiplin keuangan (financial discipline). Platform ini juga akan menjadi landasan bagi semua produk Brex ke depannya.

Brex juga cukup percaya diri menawarkan layanannya ke perusahaan-perusahaan di negara maju, termasuk AS. Pada Mei 2022, perusahaan fintech ini mengumumkan langkahnya melayani karyawan perusahaan-perusahaan di AS. “Dengan memuluskan proses belanja korporat global, kami dapat membantu perusahaan-perusahaan yang sedang tumbuh pesat meningkatkan kecepatan bisnis mereka,” kata Dubugras.

Brex pun mengumumkan bahwa Deel, perusahaan provider layanan global payroll and compliance, merupakan salah satu pelanggan dan sekaligus mitra pertama yangg menggunakan kapasitas global Brex untuk sekitar 7.500 pelanggannya di lebih dari 150 negara. Dengan kemitraan ini, Brex akan mengintegrasikan sistem Deel ke dalam platform Brex Empower untuk mendukung layanan payroll, benefit, pajak, dan compliance dalam skala global. “Kami memilih bermitra dengan Brex ―di mana kami juga menggunakan layanan mereka untuk kebutuhan internal kami juga― karena komitmen mereka untuk mendukung perusahaan global,” kata Alex Bouziz, CEO Dell.

Sekilas Profil Brex

–Nama perusahaan : Brex

–Waktu berdiri : April 2017 (dan meluncurkan layanan ke publik pada 2018)

–Jenis bisnis : Fintech yang menyediakan platform layanan corporate spend management terintegrasi, dengan positioning sebagai financial operating system buat perusahaan

–Markas pusat : San Francisco, California, AS

–Pendiri : Henrique Dubugras dan Pedro Franceschi (keduanya asal Brasil dan sama-sama berperan sebagai Co-CEO perusahaan ini.

–Investor penting : Greenoaks Capital, TCV, Tiger Global Management

–Mitra penting : Deel, Coupa Pay, Gusto, dan Workato

–Jumlah karyawan : +/- 1.100 orang

–Nilai valuasi : US$ 12,3 miliar (berdasarkan pendanaan Seri D-2

Dari berbagai sumber.

Brex seperti tak cepat berpuas diri. Pada Juni 2022, perusahaan ini mengumumkan telah mengembangkan ekosistem dari platform Brex Empower, Integrasi barunya dengan Coupa, Gusto, dan Workato didesain untuk memudahkan tim keuangan menghubungkan platform manajemen belanja ini dengan existing systems guna mempercepat cara pengguna beroperasi sembari menjadi disiplin keuangan.

Kapabilitas integrasi dan API memungkinkan kustomisasi, kontrol, dan kesesuaian platform Brex dengan sistem-sistem fungsional, seperti HRIS, ERP, dan procurement. “Perusahaan sering menghabiskan banyak waktu untuk menerjemahkan dari di antara berbagai sistem,” kata Dubugras.

Ia menyebutkan, setelah menyurvei kalangan pemimpin keuangan, pihaknya menemukan bahwa 68% tim mereka menghabiskan waktu lebih dari 30 jam untuk merekonsiliasi data di akhir bulan. “Banyak waktu yang seharusnya mereka gunakan untuk prioritas yang lebih penting, dan ini tujuan kami untuk membantu tim menjalankan urusan mereka dengan lebih efektif,” katanya. “Itulah mengapa kami mengembangkan ekosistem kami,” tambahnya. (*)

Joko Sugiarsono

Riset: Armiadi (dari berbagai sumber)

www.swa.co.id

# Tag