Jurus Setiawan Santoso Menjadi `”Raja Telur” di DIY

Telur merupakan salah satu komoditas yang menarik jadi sumber cuan. Tak mengherankan, banyak yang berburu keuntungan keuntungan dari bisnis perteluran. Salah satunya lewat investasi di bidang peternakan ayam petelur.
Sayangnya, meraih cuan dari sektor peternakan tidaklah semudah yang dibayangkan. Walaupun banyak yang sukses mendulang untung, tapi tidak sedikit yang bernasib buntung alias merugi. Salah satu faktor yang membuat banyak peternak gulung tikar adalah tidak menguasai pasar. Mereka pasrah kepada para pedagang untuk memasarkan produknya.
Ketergantungan kepada pedagang itulah yang kadang menjadi sumber masalah. Setidaknya hal inilah yang pernah menimpa Setiawan Santoso. Salah satu peternak ayam di Jogja ini, mengaku sering mengalami kerugiian karena ulah para tengkulak. “Saya akhirnya berpikir harus memasarkan sendiri,” kata Setiawan Santoso kepada SWA.
Setiawan yang pemilik Bangun Desa Farm saat ini bisa dbilang sebagai raja telur di Jogja. Ia merupakan pemilik brand Jogja Telur, Indo `Telur dan Bos Telur. Ia awalnya sebagai pemilik toko besi, tapi tahun 1990-an silam ia banting setir ke usaha peternakan ayam petelur.
Awalnya hanya mencoba piara 100 ekor di bekakang rumah di kawasan Mlati, Sleman. Ternyata hasilnya bagus, lalu terus nambah hingga ribuan ekor. Ia akhirnya fokus di usaha peternakan ayam petelur dan berhenti berdagang material bangunan. Toko besi yang dikelolanya ditutup.
Saat ia memulai usaha peternakan, lingkungan rumah tinggalnya masih berupa hamparan sawah. Jadi relatif tidak bermasalah dengan lingkungan. Tapi beberapa tahun kemudian mulai ada protes dari tetangga kiri kanan. Dan ia pun mulai berpikir memindahkan usahanya ke daerah Pakem, Sleman yang jauh dari penduduk.
Selama puluhan tahun, `Setiawan mengaku menikmati hasil dari peternakannya. Jumlah ayam petelurnya terus bertambah dari puluhan ribu berkembang hingga ratusan ribu ekor. Semula pemasarannya lancar-lancar saja. Ia percaya penuh kepada para bakul yang secara rutin mengambil telur untuk dijual kembali ke konsumen.
Masalah mulai terjadi saat sering terjadi gonjang ganjing harga telur. Harga telur sering tidak menentu, berluktuasi naik turun. Kadang naik tinggi kadang terjun bebas. Nah saat harga jatuh para tengkulak tidak datang mengambil telur dengan berbagai alasan. “Bisa dipastikan saat telur anjlok, mereka tidak mau ambil di tempat kami,” ujar Setiawan.
Setiawan mengaku jengkel dengan para pedagang yang tidak memiiki komitmen. Sebagai peternak, ia tentu merasa dirugikan karena banyak telur yang busuk karena tidak segera terjual. “Yang membuat kami jengkel, mereka kulakan di tempat lain yang lebih murah dengan duit kami,” ungkap bapak tiga anak tersebut.
Dalam situasi yang darurat, `Setiawan mengaku harus menjual telur ke Jakarta. Tentu saja dia harus rela rugi karena harganya di bawah pasar. Yang membuatnya tenang, meski dari sisi harga rugi, tapi berapapun stok bisa terjual di Jakarta. “Yang jelas telur terjual tidak, membusuk di gudang meski harus rugi ongkos transpor, “ dia mengungkapkan.
Bagi Setiawan, pengalaman pahit dengan para tengkulak yang tidak konsisten tersebut, ternyata menjadi pembelajaran berharga. Ia mulai berpikir untuk mengelola pemasaran sendiri. Dia tidak lagi hanya fokus di usaha peternakannya saja, tapi sekaligus juga menggarap pasarnya.
Meski merasa telah sering dibuat kecewa, tentu saja Setiawan tidak berani langsung putus kontrak dengan para tengkulak. Maklum produksi telur ayamnya tiap hanya sudah mencapai angka puluhan ton. Karena itulah, ia tetap memberikan kesempatan kepada para bakul untuk tetap mengambil telur, sembari dia merintis pasar sendiri.

Sebagai uji coba pasar, Setiawan menyewa beberapa kios di pasar yang ramai di kota Jogja. Ia hanya khusus jualan telur ayam ras. Melayani kulakan maupun eceran. Ide cerdas Setiawan muncul tatkala ia mem-branding bisnis telurnya dengan nama Jogja Telur. Awalnya hanya menggunakan satu mobil boks yang ditempeli stiker Jogja Telur dengan desain yang menarik.
Bisa jadi, `Setiawan merupakan pedagang telur pertama yang mem-branding produknya. Ia mengaku mendapatkan inspirasi dari mobil Jamu Sidomuncul yang sering ditemuinya di jalanan. Ia membayangkan bila telurnya dipromosikan lewat mobil boks, dia meyakini, pasti akan menjadi cepat dikenal orang.
Keyakinan Setiaawan ternyata memang terbukti benar. Ternyata branding telur di mobil boksnya membawa dampak yang luar biasa. Efek marketingnya sangat positif. Ini terlihat dari banyaknya permintaan telur yang terus naik lewat telepon yang terpampang di mobil. “Banyak orang yang mengenal produk kami karena dari banner di mobil,” jelasnya.
Berkat promosi lewat mobil itulah, pasar Jogja Telur kian meluas. Tidak hanya konsumen maupun tengkulak yang membeli langsung di kandang maupun di kios pasar. Satu demi satu industri makanan dan hotel mulai menjadi pelanggannya.
Saat ini, beberapa perusahaan bakeri telah menjadi pelanggan setia Jogja Telur. Sebut saja misalnya, Alif, Amanda, Larizo Bika Ambon dan lain. Banyak hotel besar di Jogja juga telah menjadi konsumen. Selain itu, ia juga memasok untuk supermarket Indogrosir.
Setiawan ternyata tidak hanya memasarkan produknya di Jogja saja, tapi juga sudah merambah ke kota lain di Jateng Selatan, mulai dari Purworejo hingga Kebumen. “Kami hanya fokus di Jogja dan Jatengdan sekitarnya saja,” ungkap `Setiawan lagi.
Seiring dengan makin meluasnya pasar yang dikuasai, tentu membutuhkan armana yang lebih banyak lagi. dari satu armada kini telah berkembang menjadi 20 armada. Selain Jogja Telur, dia juga membangun brand baru yakni, Indo Telur dan `Bos Telur.
Menurut Setiawan, ketika brand tersebut menggarap pasar masing-masing.Untuk Jogja Telur difokuskan menggarap pasar hotel dan supermarket. Indo `telur fokus ke industry, sedangkan `Bos Telur suplai untuk kebutuhan di pasar tradisional.
Setiwan mengaku senang karena ketiga anaknya memiliki semangat bergabung mengembangkan bisnis keluarga. Ia sudah mulai bisa santai, setelah puluhan tahun konsentrasi peternakan dan pemasaran. “Saya sekarang hanya menjadi pengawas dan konsutan jika ada masalah. “ ujarnya
Semua urusan peternakan diserahkan ke kedua anak lelaki dan menantu. Sementara satu anak perempuannya membantu mengurusi maketing. “Untuk urusan peternakan anak saya lebih jago, mereka betul-betul fokus dan nunggu setiap hari,” lanjutnya.
Selain memiliki Bangun Desa Farm, ada beberapa peternakain lain yang didirikan anaknya yang berlokasi di kawasan Cangkringan Sleman. Saat ini populasi ternaknya mencapai 400 ribu ekor dengan produksi sekitar 18 ton. “Puji Tuhan, semua terserap pasar setiap hari,” tuturnya kepada SWA.
Dilarang keras mengambil konten (tulisan, foto, infografis, video, dan sebagainya) yang dimuat di situs web ini, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk platform AI (artificial intelligence) dan platform digital lainnya, tanpa izin tertulis dari direksi yang berwenang di situs web ini.