Permintaan Terus Meningkat, Konnyaku Jadi Bisnis Potensial

Bisnis konnyaku
YouTuber/ young chef Aaron Laksana berbagi resep berbuka puasa dari konnyaku. (Vina/SWA)

Konnyaku, juga dikenal sebagai konjac merupakan makanan tradisional Jepang yang terbuat dari fiber umbi porang. Di Indonesia, tren mengonsumsi konnyaku semakin populer karena kandungan kalorinya yang rendah dan memiliki banyak manfaat untuk kesehatan.

Lantas, apa bedanya konnyaku dan shirataki? Charlie Shirataki Santoso, Company Representative dari PT Ambico, perusahaan yang menaungi Mr.Ishii menjelaskan, baik konnyaku dan shirataki diolah dari bahan yang sama, yakni serat glukomanan yang diekstrak dari umbi porang atau iles-iles.

Hasilnya bisa diolah menjadi beragam bentuk, mulai dari bentuk beras (Konnyaku Grain), mie kering (Dry Shirataki), hingga bubuk (Konnyaku Powder). Adapula yang berbentuk basah mulai dari balok, mie (Shirataki), nasi hingga fetucini.

Untuk konnyaku basah, Charlie menyebut produk ini mengandung nol kalori. Sementara konnyaku kering mengandung 70% kalori per 100 gram. Kandungan kalori tersebut diperoleh dari tepung tapioka yang menjadi bahan penting untuk membentuk konnyaku agar berubah menjadi kering.

Beras konnyaku seringkali salah kaprah disebut sebagai beras shirataki. Padahal, shirataki dalam bahasa Jepang berarti air terjun putih, dan hanya disematkan pada bentuk mie.

“Shirataki adalah konnyaku noodle yang terbuat dari fiber umbi porang. Jadi sebetulnya tidak ada istilah beras shirataki, yang betul adalah beras atau nasi konnyaku. Dulu di Jepang, produk konnyaku berupa mie ini disebut dengan Ito Konnyaku, dibuat dari konnyaku basah berbentuk balok yang dipotong-potong panjang secara manual hingga menjadi mie,” jelasnya dalam gelaran Dessert Markt: A Pop-Up Concept by Jakarta Dessert Week di Jakarta (05/03/2023).

Menurut Charlie, baik konnyaku maupun shirataki berfungsi untuk menyapu saluran pencernaan. Makanan ini dapat mendetoksifikasi tubuh sehingga sangat baik bagi mereka yang sedang menjalankan program diet maupun mengurangi konsumsi gula. Dalam 100 gram glukomanan terkandung 80 gram fiber murni, di mana rendah kalori dan rendah karbohidrat tetapi tinggi serat.

Namun, Charlie mengingatkan bahwa konnyaku mungkin perlu dibatasi pada penderita Gerd yang sensitif terhadap fiber. Pasalnya konnyaku mengandung fiber yang tinggi sehingga bekerja dengan menyerap dan mengikat lemak di dalam pencernaan.

Di Indonesia, beras konnyaku seringkali menggantikan nasi secara 100%, demi alasan diet. Padahal, ini merupakan peralihan yang ekstrem dan cita rasanya sulit diterima karena seperti jeli. Dalam edukasinya, Mr. Ishii senantiasa berbagi cerita tentang cara warga Jepang menikmati beras Konnyaku: Ditanak bersama beras biasa sebanyak 30-50%.

“Cara memasak konnyaku grain sama seperti beras biasa. Satu cup beras putih biasa, satu cup beras konnyaku, cuci bilas, masukkan tiga cup air, masak hingga matang. Untuk dry shirataki, produk ini di-coating gula. Kenapa? Jika tidak, dia tidak bisa terbentuk karena dari fiber. Makanya untuk mengolah produk ini bisa direbus dulu, dan airnya wajib dibuang. Intinya konnyaku maupun shirataki tidak berasa,” tegas Charlie.

Permintan tinggi

Berdiri sejak 1971, Mr. Ishii menjadi produsen pertama konnyaku dan shirataki di Indonesia. Secara global, perusahaan ini yang pertama menginovasi konnyaku dan shirataki dalam bentuk kering.

Berbagai produk konnyaku dari Mr.Ishii

Pendirinya, Masaharu Ishii, adalah mantan tentara Jepang memutuskan untuk tetap tinggal dan berjuang bersama rakyat Indonesia selama perang kemerdekaan. Selepasnya, ia mengulik umbi porang bermanfaat yang bisa diperkenalkan ke dunia dan komoditas layak ekspor. Shirataki selalu ada di dapur Jepang dan bahkan telah dinikmati para biksu di abad ke-6. Adapun porang pilihannya berasal dari Pasuruan, Jawa Timur.

Sebagai ahli shirataki dan konnyaku, Ishii ditunjuk Pemerintah Jepang sebagai pengawas ke negara ekspor perdana: Jepang. Hubungan manis terjalin antar kedua negara sampai akhirnya kewarganegaraan Indonesia Ishii diberikan oleh Presiden RI, Soekarno.

Kini di negara pengonsumi tertingginya, Jepang, 90% hampir 100% pasokannya ditangani oleh Mr.Ishii. Produk fetucini dari konnyaku buatan Mr.Ishii juga sudah diekspor ke berbagai negara lain seperti Korea, Perancis, Amerika Serikat, Kanada, hingga Italia.

“Saat ini pasarnya membludak, bahkan pabrik kami sudah sampai 98% dan itu sebenarnya bahaya. Makanya kami sedang membangun dua pabrik baru di daerah yang sama yakni Pasuruan. Jadi nanti total ada tiga pabrik,” ujar Charlie.

Tidak hanya pasar ekspor, pasar lokal pun menunjukkan tren pertumbuhan. Hal ini tercermin dari meningkatnya permintaan produk Mr.Ishii yang diakui Charlie tumbuh menjadi 20-30%. “Dulu kami 95% ekspor, 5% lokal. Sekarang lokal naik menjadi 20-30%,” ucapnya.

Permintaan konnyaku yang terus meningkat ini, kata Charlie, menunjukkan potensi bisnis yang besar. Ia pun membagikan tips bagi mereka yang ingin menjalankan usaha kuliner berbahan dasar konnyaku.

Selain melakukan riset produk, Charlie menekankan bahwa penting bagi calon pelaku usaha untuk memilih produsen konnyaku dan shirataki yang tepat. Hal ini dilakukan agar terhindar dari produk palsu yang seringkali beredar ketika produk tertentu sedang tren.

“Biasanya ketika ada produk yang sedang hits, maka ada saja produk palsu yang beredar. Untuk membedakannya, bisa dilihat dari warna. Warna konnyaku cenderung putih transparan atau bening,” tutur Charlie.

Adapun di acara yang sama, YouTuber/ young chef Aaron Laksana berbagi resep berbuka puasa. Ia memperkenalkan konnyaku balok dan beras konnyaku. Bentuk apapun yang dikonsumsi, selalu rebus atau seduh air mendidih untuk membuang rendaman ber-alkali.

Editor : Eva Martha Rahayu

Swa.co.id

Dilarang keras mengambil konten (tulisan, foto, infografis, video, dan sebagainya) yang dimuat di situs web ini, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk platform AI (artificial intelligence) dan platform digital lainnya, tanpa izin tertulis dari direksi yang berwenang di situs web ini.

# Tag