Michael Hardinata, Enam Strategi Hadapi Pandemi

Tahun 1995, ada momen penting bagi Michael Hardinata Wirawan. Bermodal Rp 10 juta, mantan pegawai bank yang juga lulusan Universitas Tarumanagara (1992) ini merintis toko listrik sederhana di wilayah Glodok, Jakarta. Dikibarkannya nama Wirawan Corporation.
Bukan tanpa maksud nama itu yang dipilih. “Wirawan” diambil dari nama marga keluarganya, sekaligus untuk menghormati kakak kakeknya yang mengajari Michael banyak falsafah hidup. Di perusahaan ini, titel Michael adalah CEO.
Setahun berselang setelah didirikan, senyum Michael kian lebar. Bisnis distribusi alat listrik miliknya berkembang. Perusahaannya mendapat kepercayaan menjadi distributor merek Schneider untuk produk high tech automation bagi segmen commercial dan industrial automation.
Setelah itu, bisnis Michael makin berkibar. Meluas sampai ke perangkat mekanis dan elektris segmen low voltage, CCTV, cleaning equipment, safety glass, isolasi tape, dan banyak lagi.
Kini, semua bisnis itu dijalankan lewat tiga anak usaha dalam naungan Wirawan Corporation, yaitu PT Telesindo Citra Sejahtera, PT Mitra Cipta Hardi Elektrindo, dan PT Graha Anugrah Elektrindo. Ketiganya mendapatkan kepercayaan dari merek-merek internasional papan atas, seperti Schneider, APC, Legrand, Signify, Karcher, Socomec, Honeywell, 3M, Kings, Hikvision, dan Powercraft.
Seperti pebisnis lainnya, di tengah laju perkembangan bisnis, ujian menghampiri Wirawan Corporation dalam tiga tahun terakhir. Michael mengakui bisnisnya tak luput dari hantaman Covid-19. Tantangan yang mesti dihadapi antara lain kesulitan penjualan dan distribusi akibat pembatasan sosial, stok yang menumpuk sebagai dampak dari penjualan yang menurun, account receivable yang makin panjang karena ketidakpastian siklus usaha para customer, dan tentu saja kesehatan karyawan yang harus terus dijaga.
Kendati tak mudah, Michael menjalani tahun-tahun berat itu dengan penuh optimisme. Maklum, dia sudah berulang kali menghadapi krisis terburuk, terutama krisis 1998 dan 2008. Meski sulit, datangnya Covid-19 tak membuatnya rebah.
“Jadi, leadership inspire trust saya adalah meyakinkan seluruh karyawan bahwa kita bisa melalui ini semua asalkan seluruh pihak mengikuti kebijakan dari saya dan meningkatkan performa masing-masing,” tuturnya.
Setidaknya ada enam strategi yang digencarkan Michael untuk menjawab tantangan tersebut. Pertama, menyediakan semua kebutuhan terkait pencegahan penularan Covid-19 untuk mempertahankan kesehatan karyawan, seperti masker dan vitamin. Kedua, mengkaji batas kredit yang diberikan kepada customer, terutama yang memiliki limit besar dan term of payment yang panjang.
Ketiga, mengurangi profil customer berisiko tinggi. Keempat, tetap menyediakan stok yang cukup untuk kontinuitas supply barang bagi end user dan project. Kelima, melakukan transformasi online agar distribusi barang bisa tetap terjaga. Keenam, untuk para dealer, membuat sejumlah promo serta berbagai bentuk dukungan, baik secara komersial maupun nonkomersial, agar mereka bisa mendapatkan tambahan margin penjualan sekaligus menjaga stabilitas bisnisnya.
Agar berbagai strategi itu tereksekusi dengan baik, Michael terlebih dahulu memberikan gambaran situasi yang dihadapi kepada key person setiap divisi. Lalu, dia membuat action plan berikut arahannya, memonitor action yang sudah ditentukan, hingga me-review hasil kinerja.
“Kemudian, kami membagi tugas berdasarkan struktur organisasi sesuai job desc masing-masing. Kami memiliki visi menjadi ‘One Stop Shopping in Electrical Needs’ dan market leader di bidangnya,” Michael menjelaskan.
Beriringan dengan itu, dia juga memberlakukan reward dan punishment atas keberhasilan atau kegagalan action yang sudah ditentukan. Hal ini, katanya, lebih dimaksudkan untuk memberikan coaching tentang pelaksanaan action dan memberikan arahan agar karyawan memahami tugasnya.
“Rewardandpunishment hanya compliment atas suatu tindakan. Karena, sering peran seorang leader terhadap berhasilnya suatu action adalah memberikan bimbingan dan arahan yang tepat agar mereka memahami fungsi dan tugasnya. Yang penting adalah ketegasan dalam leadership tanpa mengurangi rasa humanis terhadap mereka sebagai suatu keluarga besar. Kami punya tag line: One Love, One Goal, We are One,” tuturnya.
Kepada jajarannya, Michael juga menekankan pentingnya kecepatan beradaptasi terhadap perubahan. Dia menyampaikan, jika bisa lebih cepat beradaptasi terhadap perubahan, niscaya akan naik kelas dan lebih unggul dibandingkan kompetitor.
“Atas dasar itu, saya membangun suatu keyakinan dalam tim, bahwa kita akan jadi pemenang jika bisa melalui semua kesulitan ini karena tidak semua orang bisa melewatinya,” katanya.
Sebagai pebisnis, Michael juga memercayai ungkapan “Di mana ada kesulitan, maka akan ada kesempatan”. Realisasinya, dia mencoba menggali “kesempatan” itu dari existing atapun new potential business.
Sepanjang pandemi, dia mendapatkan banyak pelanggan baru lantaran kompetitornya sedang kesulitan finansial atau kekurangan stok. Adapun pada new potential business, banyak mendapatkan penawaran kerjasama dari prinsipal baru lantaran distributor mereka tidak bisa bertahan menghadapi gejolak pandemi.
Michael juga melakukan aktivitas yang menunjukkan eksistensi perusahaannya di pasar demi memperluas bisnis. Di antaranya, membuat online gathering dengan konsep tematik, berpartisipasi dalam pameran-pameran besar, bahkan menggali potensi segmen pasar baru yang sedang tren, seperti data center dan industri pangan.
“Dengan adanya produk baru yang menjadi portofolio kami, kami dengan mudah melakukan cross selling atas produk-produk kami, mengingat kami sebagai One Stop Shopping for Electrical Needs, sehingga banyak mendapatkan peluang baru dari situ,” ungkapnya.
Michael mengungkapkan, berkat sejumlah strategi tersebut, perusahaannya tidak hanya mampu bertahan di masa pandemi, tetapi juga bisa mencatatkan peningkatan penjualan minimal 10% setiap tahun.
Kini, dalam menghadapi tahun 2023 yang diprediksi masih menjadi momen yang sulit, Michael telah menyiapkan strategi lain. Terutama, menjaga pengelolaan dua aset besar dalam bisnis distribusi, yaitu logistik dan piutang dagang.
“Kalau kami bisa mengelola dua aset besar ini dengan baik, niscaya pertumbuhan akan terjadi,” ucapnya optimistis. Pertumbuhan ekonomi Indonesia di tahun 2023 diperkirakan 4,5%-5,3%, sedangkan pihaknya mencanangkan pertumbuhan 10%-15% per tahun,”. (*)
Yosa Maulana dan Darandono
Dilarang keras mengambil konten (tulisan, foto, infografis, video, dan sebagainya) yang dimuat di situs web ini, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk platform AI (artificial intelligence) dan platform digital lainnya, tanpa izin tertulis dari direksi yang berwenang di situs web ini.