Kerja Keras di Balik Manisnya Martabak Pizza Orins

Martabak menjadi hidangan yang mudah ditemui di berbagai daerah di Indonesia. Harga yang terjangkau dan mudah ditemui membuat martabak menjadi hidangan yang digemari banyak orang dari dulu hingga saat ini. Pasar martabak konsisten dan tidaklah musiman.
Sonny Arca Adryanto dan keluarga merupakan salah satu penggemar martabak. Berawal dari kegemaran inilah Sonny akhirnya mendirikan usaha Martabak Pizza Orins. Ide bisnis Martabak Pizza Orins berawal dari kebiasaan keluarganya yang suka mengambil potongan martabak hanya bagian atas atau bawahnya saja. Karena hal ini, terbesit ide di kepala agar potongan martabak bisa masuk seutuhnya ke dalam mulut dan lidah bisa langsung merasakan toppingnya.
“Bermula dari permasalahan itu, terciptalah Martabak Pizza Orins sebagai inovasi terbaru dengan kenikmatan adonan yang lembut serta melimpah toppingnya dengan bergaya pizza. Tujuannya, agar semua orang dapat menikmati adonan martabak dan topping secara bersamaan tanpa harus mengambil bagian atas atau bawahnya saja,” kata Sonny saat ditemui SWA Online di Rumah Orins, Selasa (11/4/2023).
Sonny mendirikan Martabak Pizza Orins bersama dengan sang istri, Sri Suwarni. Nama Martabak Pizza Orins sendiri tercetus dari nama kedua buah hati mereka yaitu, Omet dan Rains yang disingkat menjadi Orins. Cabang pertama Martabak Pizza Orins dibuka tanggal 13 Juni 2011 di Stasiun Gondangdia dengan empat orang karyawan di dalamnya.
Sebelum berbisnis martabak, Sonny lebih dulu berjualan jamur krispi pada 2010. Namun bisnis ini ditutup karena mengalami tren penjualan yang terus menurun. Bisnis jamur saat itu sedang booming namun ketenaran bisnis berangsur menurun mengikuti tren yang juga terus menurun. Padahal bisnis jamur krispi sudah dibuka di 20 tempat.
“Saya punya basic di akuntansi, baca laporan keuangan kok lama-lama melandai, turun pelan-pelan. Habis itu langsung berpikir ‘Oh berarti kalau mau bisnis panjang itu enggak bisa produk yang musiman,’ ini buat pelajaran saya,” ucap alumni Politeknik Keuangan Negara STAN ini.
Akhirnya sebelum bisnis jamur benar-benar habis, Sonny mulai membuka bisnis martabak. Selain karena kesukaan keluarga, martabak dipilih karena tidak membutuhkan banyak modal dan tempat. Saat merintis bisnis martabak, Sonny mengaku mengalami banyak rintangan dan bukan hal yang mudah.
“Awal buka Orins itu juga susah. Dulu gaji saya pernah untuk saya pakai bayar gaji karyawan. Pemasukan sekitar Rp 88 ribu per hari. Jadi buat menggaji karyawan, bahan baku, dan harus bayar sewa tempat juga sudah kurang,” kata dia.
Saat membuka bisnis martabak, Sonny menggunakan modal dari kantong pribadi dan pinjaman. Modal terbesar adalah untuk mencetak kemasan. Saat itu Sonny menggelontorkan modal sekitar Rp100 juta. “Jaman dulu ini gede,” katanya mengungkapkan.
Fase terberat bisnis Martabak Pizza Orins adalah fase pengenalan produk dan brand. Sonny mengaku ketika orang sudah tahu dirinya menjual martabak, fase sulit berikutnya adalah mengenalkan Orins atau brand.
“Ini berat. Tetapi saat orang sudah tahu itu lebih gampang. Bangkit dan orderan mulai banyak itu saat ada platform pesanan online. Ini membantu sekali,” ucap Sonny menceritakan perjuangannya.
Martabak itu adalah menu dine in. Artinya, orang membeli martabak itu untuk diambil atau dibungkus. Kebetulan Orins awalnya delivery, jadi ada layanan delivery pakai sepeda motor. Begitu hadir platform pemesanan online, sepeda motor delivery dikurangi beralih ke ojek daring.
Strategi Bertahan saat Pandemi Covid-19
Fase sulit selanjutnya adalah ketika ingin mengembangkan brand, manajemennya belum ada. Ini fase yang juga lumayan berat. Lalu fase berat terakhir adalah saat pertengahan pandemi, adanya kebijakan PPKM di mana toko harus tutup jam 19.00 mengikuti aturan pemerintah.
“Saya bilang ke teman-teman harus ikut aturan pemerintah. Jam tujuh itu martabak baru naik, perumahan-perumahan itu beli jam segitu, sedang kami diminta tutup. Nah diminta tutup oleh Petugas Satgas itu pada saat awal pandemi itu, kayak dimarahin, jadi baru ada orderan masuk, tapi sudah harus tutup. Ini berat juga,” ujarnya.
Awal pandemi Covid-19 tahun 2020 Februari hingga Juni penjualan martabak Orins bagus. Namun memasuki bulan Juli, bersamaan dengan dimulainya pengetatan kegiatan masyarakat penjualan mulai menurun.
“Kami bertahan saja. Jadi rencana Orins mau ekspansi, enggak jadi. Tapi alhamdulillah kami tidak melakukan PHK karyawan, ini kebijakan yang kami lakukan. Untuk langkah efisiensi, Orins melakukan pengaturan jam kerja dengan shifting. Karyawan memiliki libur lebih lama karena penjualan turun. Misal yang tadinya libur empat hari jadi delapan hari atau empat belas hari, semua orang tetap ada income,” ucap Sonny yang pernah jadi PNS di Kemenkeu ini.
Kebijakan tidak mem-PHK karyawan dipilih karena, menurut Sonny, karyawan Orins adalah orang-orang yang dekat dengan dirinya. Orins menjadi rumah dan ingin bisa membantu mereka, sehingga tetap mempertahankan karyawan. Sonny tidak ingin Orins menjadi tempat yang mencari hanya saat lagi butuh, namun dibuang saat mereka sedang sulit.
“Ada faktor kemanusiaan juga. Kami sama-sama sedang sulit, sedang butuh, jadi keadaan itu kami rasakan bersama-sama. Mereka (karyawan) juga mengerti kenapa libur lebih panjang,” ucap Sonny.
Selama pandemi, Orins tidak mengurangi jumlah gerai. Namun ada beberapa gerai yang direlokasi seperti 13 cloud kitchen. Saat pandemi konsep cloud kitchen tidak perform seperti yang diharapkan.
“Capex-nya lebih murah, ternyata biaya operasionalnya lebih mahal. Akhirnya konsep cloud kitchen dicabut dan dipindah-pindah kembali menggunakan konsep seperti biasa. Jadi jumlah gerainya tidak berkurang, hanya direlokasi,” katanya.
Cloud kitchen sering juga disebut sebagai dapur satelit atau ghost kitchen. Cloud kitchen adalah restoran dengan konsep yang hanya menawarkan jasa delivery saja dan tidak menyediakan fasilitas makan di tempat.
Sonny bersyukur, berkat kerja keras dan soliditas teman-teman di Martabak Pizza Orins, bisnisnya bisa melewati masa-masa sulit tersebut. Saat ini tengah fokus melewati masa pasca pandemi yang belum pulih. “Alhamdulillah berkat doa dan kerja keras semuanya, akhirnya kami bisa melewati masa itu,” ucapnya.
Hingga saat ini Martabak Pizza Orins memiliki hampir 400 karyawan di Jabodetabek, Bandung, Surabaya, dan Semarang. Saat ini jumlah gerai Orins keseluruhan yang tersebar di kota-kota tersebut mencapai 100. Martabak Pizza Orins bukanlah franchise, manajemen dan pengawasan gerai berada langsung di bawah manajemen pusat.
Target bisnis Orins adalah ekspansi ke seluruh kota di Indonesia dan luar negeri. Tantangannya adalah menyiapkan infrastruktur. Jika franchise diatur oleh pembeli merek, namun Orins berbeda karena diatur langsung oleh pusat.
Inovasi Produk Martabak
Dalam berbisnis martabak, salah satu cara untuk menarik konsumen adalah memiliki produk yang berbeda dari yang lain. Sehingga untuk menjadi berbeda, Orins berkomitmen untuk berinovasi dengan mengeluarkan produk-produk baru. Dalam setahun, Orins bisa mengeluarkan dua produk baru.
“Misalkan momen 17 Agustus, itu keluar menu sessional. Jadi orang enggak bosen, walaupun tetap orang makannya martabak yang rasa coklat dan keju. Tetapi tetap sesuatu yang sessional itu menarik untuk customer. Jadi inovasi itu penting dalam berbisnis,” ucapnya tegas.
Produk unggulan Orins adalah martabak telor, di mana dagingnya benar-benar terasa, dan cukanya berbeda, bukan asal-asalan cair seperti air. Lalu martabak Tipker (Tipis dan kering) juga laris. Sedangkan martabak manis orang suka nutella dan spesial Orins.
Martabak Pizza Orins telah memiliki pabrik sekaligus gudang di Kedoya, Jakarta Barat. Semua bahan Martabak Pizza Orins distribusikan langsung dari sana. Untuk menjaga kualitasnya, Martabak Pizza Orins juga selalu menjaga kualitas produk agar memberikan kepuasan kepada pelanggan, serta memperlebar outletnya hampir ke seluruh Indonesia. Omzet Orins saat ini sekitar di atas Rp100 miliar per tahun.
Editor : Eva Martha Rahayu
Swa.co.id
Dilarang keras mengambil konten (tulisan, foto, infografis, video, dan sebagainya) yang dimuat di situs web ini, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk platform AI (artificial intelligence) dan platform digital lainnya, tanpa izin tertulis dari direksi yang berwenang di situs web ini.