Technology

Ketika Gucci Terjun ke Dunia Metaverse

Ketika Gucci Terjun ke Dunia Metaverse

Entitas bisnis yang terjun secara serius ke dunia metaverse ternyata bukan hanya dari kalangan perusahaan teknologi, gaming, dan private capital. Perusahaan fashion kelas atas pun tertarik menyelaminya dengan sepenuh hati, seperti diteladankan Gucci.

Gucci store di Beijing, China. (VCG/VCG via Getty Images)
Gucci store di Beijing, China. (VCG/VCG via Getty Images)

“Metaverse” kini menjadi salah satu istilah yang makin luas dibicarakan di dunia bisnis internasional. Cobalah ketikkan di fitur search situs pekerjaan LinkedIn kata jabatan “chief metaverse officer”. Niscaya Anda akan mendapatkan sejumlah nama dari kalangan perusahaan internasional, baik dari kalangan startup maupun perusahaan konvensional yang sudah mapan. StockApps.com juga mengungkapkan fakta lain, yakni minat terhadap jenis pekerjaan yang terkait dengan metaverse meningkat lebih dari 100% dalam beberapa bulan terakhir.

Hal tersebut menunjukkan makin kuatnya perkembangan teknologi Web3 dan dampaknya pada dunia bisnis. Teknologi metaverse, sebagai bagian dari Web3, menurut sejumlah pakar dan praktisi sebetulnya masih berada dalam tahapan “infancy” (bayi), tapi ada minat cukup besar dari kalangan bisnis untuk memanfaatkannya.

Beragam sinyal menunjukkan minat yang besar terhadap kehadiran metaverse. Menurut sebuah artikel dari McKinsey (24 Mei 2022), pembicaraan tentang metaverse menjadi sangat banyak dalam beberapa bulan terakhir. Pada 2021, pencarian di internet terhadap kata “metaverse” meningkat 7.200 persen.

Bahkan, pada Desember 2021, Facebook mem-branding ulang namanya menjadi “Meta”. Kala itu, CEO-nya, Mark Zuckerberg, pun mendeklarasikan ambisinya dengan melukiskan peran perusahaannya “to help bring the metaverse to life”. Sebulan berselang, giliran Microsoft yang memberikan sinyal memperkuat, yakni dengan mengakuisisi salah satu raksasa bisnis game Activision, untuk menyediakan apa yang disebut “building blocks for the metaverse”.

Dunia private equity juga tak mau ketinggalan. Menurut artikel McKinsey itu, pada 2021 perusahaan terkait dengan metaverse dilaporkan telah menghimpun dana hingga US$ 10 miliar, lebih dari dua kali dari yang mereka capai pada tahun sebelumnya. Dalam 12 bulan sebelumnya, satu perusahaan saja, yakni Epic Games (pembuat Fortnite), tidak hanya menghimpun dana senilai US$ 3 miliar buat mendanai visi jangka panjangnya untuk metaverse, tapi juga berkolaborasi dengan LEGO untuk membangun dunia metaverse buat anak-anak.

Ada beragam pendapat tentang definisi metaverse. Namun, secara umum kita bisa bersepakat bahwa metaverse merupakan sebuah evolusi dari dunia internet yang sudah kita arungi selama ini. Ketika kita menggunakannya, maka metaverse merupakan dunia yang cenderung kita berada di dalamnya (we are immersed in) ketimbang dunia yang hanya kita saksikan (we look at). Metaverse juga merupakan semacam dunia digital besar yang menjadi paralel dunia fisik kita sehari-hari.

Bila perusahaan teknologi, perusahaan games, ataupun private equity tertarik dengan metaverse, rasanya bukan hal mengherankan. Namun, menjadi hal yang menarik bagi publik jika yang menerjuninya itu dari kalangan luxury brand.

Pada Oktober 2022, Gucci, merek produk dan barang-barang berbahan kulit asal Italia, merupakan luxury brand besar pertama yang meluncurkan wahana digital di sebuah platform metaverse. Gucci Vault Land, wahana metaverse yang diluncurkan Gucci, merupakan ruang eksperimental; di sana pengguna dapat mengikuti perjalanan sejarah merek fashion ini dan mengenali produk-produk dari fashion house terkemuka ini.

Marco Bizzarri, CEO Gucci. (Foto gialli.io/Getty Images)

“Gucci tidak takut menjadi penggerak pertama di banyak area dan akan terus mengadopsi pola pikir ini, serta menantang status quo,” kata Marco Bizzarri, CEO Gucci. Ia mengakui banyak pemain lain yang memilih menunggu, mengikuti tahap selanjutnya, dan mengadopsi pendekatan yang lebih konservatif, yang menurutnya juga bisa dimaklumi. “Tapi, itu bukan kami,” ujarnya menegaskan.

Gucci selama ini sudah dikenal sebagai salah satu merek besar di industri barang mewah (a major brand of luxury goods) di dunia. Namun, ada satu fakta yang mungkin belum begitu diketahui banyak orang, yakni entitas bisnis ini punya perjalanan bisnis yang cukup akrab dengan teknologi terkini.

Sebagai contoh, pada Mei 2021, Gucci menjadi luxury brand pertama yang meluncurkan NFT (non-fungible token), aset digital yang dapat dikoleksi dan dapat diperjualbelikan. Pada bulan yang sama, perusahaan ini meluncurkan wahana pengalaman the Gucci Garden. Wahana digital Gucci Garden yang memberikan pengalaman imersif ini dirancang untuk merayakan visi kreatif rumah fashion ini. Hingga akhir November 2022, Gucci Garden sudah dikunjungi lebih dari 20 juta pengguna.

Gucci Vault Land dibangun di atas platform the Sandbox, sebuah dunia virtual di mana para pemain/pengguna dapat memiliki, membangun, dan memonetisasi aset permainan dan pengalaman mereka di dalam sebuah dunia virtual yang sangat besar. Awalnya, ranah metaverse Gucci ini disebut Gucci Vault Sandbox. Sebelum meluncurkan Gucci Vault Land, raksasa fashion ini pada September 2022 telah mengangkat seorang eksekutif senior untuk menjadi CEO Gucci Vault, yang sekaligus mengepalai pengembangan aktivitas merek ini di dunia metaverse.

Sebelum menghadirkan wahana metaverse Gucci Vault Land, Gucci ―yang diakuisisi the Kering, perusahaan asal Prancis, pada Mei 1999― membeli “lahan” di dunia virtual the Sandbox pada Februari 2022. Ketika itu, manajemen Gucci mengatakan akan membangun “sebuah pengalaman fashion interaktif berbasis pada Gucci Vault”.

Manajemen Gucci juga mengatakan, “Aneka jenis barang fashion pilihan yang diciptakan oleh para desainer Gucci akan tersedia untuk para pemain dan kreator di mana mereka dapat membeli memiliki dan menggunakan dengan pengalaman yang mereka rancang sendiri menggunakan tools kreasi dari the Sandbox.”

Gucci Vault (“Kubah Gucci”), yang meluncur pada 2021, merupakan toko online eksperimental Gucci, yang menampilkan barang-barang Gucci’s heritage (archive sales), koleksi kolaboratif, dan hasil proyek NFT. Pada akhir Oktober, platform Gucci Vault meluncurkan tiga toko pop-up fisik (toko ritel kilat) di New York, Los Angeles, dan London, dengan mengambil alih peran tiga toko Palace Gucci, untuk merayakan kerjasama Gucci dengan merek skateboard ini. Para pengelola Gucci Vault menyebut kehadiran Gucci Vault Land di dunia metaverse sebagai perwakilannya di dunia virtual.

Guna memperkenalkan lebih kencang wahana metaversenya, Gucci Vault mengadakan sebuah ajang pop-up 2 mingguan dari 27 Oktober sampai 9 November 2022, dengan tema “Play-to-Know”. Dalam ajang online ini, pengunjung metaverse Gucci Vault akan memasuki gerbang besar dan kemudian akan menemukan sejumlah ruang yang menampilkan aneka pengalaman berbasis gamifikasi, dan menemukan suasana perpaduan masa lalu, saat ini, dan masa depan ―yang memang merupakan preposisi Gucci Vault.

Ditampilkan pula produk-produk Gucci’s heritage, yang menunjukkan bagaimana teknologi Web3 dan metaverse dapat digunakan untuk memelihara sejarah dari sebuah merek dengan membuatnya menjadi relevan bagi generasi baru konsumen. Andaikata belum mengena, wahana metaverse Gucci Vault ini juga menampilkan digital collectibles, yang bisa dibeli oleh pengunjung/pemain.

Yang tak kalah menarik, pemain yang telah menyelesaikan sejumlah tugas permainan di Gucci Vault Land ini bisa memasuki ruang undian yang diorganisasi oleh the Sandbox, untuk memenangi aneka reward, termasuk memperoleh SAND, token yang bisa dimainkan di semua wahana metaverse yang ada di the Sandbox.

Ada sejumlah hal yang bisa dilakukan pengguna pada wahana metaverse Gucci Vault Land. Di antaranya, dapat mempelajari warisan dan nilai inti (heritage and core values) melalui NFT dari produk vintage fashion yang dikeluarkan Gucci.

“Gucci tidak takut menjadi penggerak pertama di banyak area dan akan terus mengadopsi pola pikir ini, serta menantang status quo.”

Marco Bizzarri, CEO Gucci

Selain itu, pengguna dapat berkompetisi dengan pemain lain untuk sebuah kesempatan membeli digital collectibles. Pengguna juga dapat memainkan mini-game dan menyelesaikan tugas untuk memperoleh imbalan berbasis blockchain. Tak kalah menariknya, pengguna dapat memakai perangkat NFT wearable Gucci Vault Aura yang dapat digunakan untuk melengkapi avatar mereka pada wahana metaverse yang ada di platform the Sandbox.

Perlu diketahui, di dunia metaverse, avatar merupakan elemen yang dianggap paling penting. Dalam konteks ini, pengguna biasanya rela mengeluarkan duit banyak untuk mendandani avatar mereka dengan barang-barang mewah, seperti pakaian dan aksesori, ataupun untuk mendekorasi interior rumah. Di lingkungan metaverse yang sudah mapan, pengguna bisa membawa item avatar mereka di antara berbagai platform, misalnya dari universe-nya Meta ke gaming world-nya Fortnite.

Dengan tren seperti itu, merek mewah semacam Gucci bisa memanfaatkannya dengan meluncurkan koleksi pakaian dan aksesori. Langkah seperti ini bisa memberikan pengalaman makin luas bagi para penggemar dunia metaverse.

Gucci bukan hanya sibuk dengan urusan pernak-pernik yang akan ditampilkan di wahana metaversenya. Namun, juga memikirkan sisi orang (person) yang akan memimpin penyiapan strategi dan manajemen bisnisnya.

Memang, ada satu pertanyaan penting: Bagaimana perusahaan memosisikan diri mereka agar bisa menjadi pemimpin di bidang yang masih berkembang itu? Menurut sejumlah pakar, salah satu jawabannya adalah dengan menunjuk seorang ahli untuk menyusun strategi dan digital roadmap, dan menunjukkan kepada konsumen mereka bahwa perusahaan punya perhatian besar.

Untuk itu, pada September 2022, perusahaan fashion kelas atas ini menunjuk Robert Triefus sebagai CEO Gucci Vault and Metaverse Ventures, sebuah divisi baru yang ditugaskan untuk mengembangkan dan mengeksekusi ambisi Gucci terkait pemanfaatan metaverse dan dunia gaming. Peran sang eksekutif baru ini juga mencakup mengeksplorasi peluang baru untuk mengembangkan kehadiran Gucci di arena online, memperbesar skala bisnisnya di bidang metaverse, dan mengawasi kinerja platform online eksperimental Gucci Vault.

Triefus menggantikan peran CEO Gucci Vault sebelumnya, Nicolas Oudinot. Triefus akan melapor langsung ke Presiden dan CEO Gucci, Marco Bizzarri.

Triefus sudah ada di Gucci sejak 2008 ketika ia bergabung sebagai Direktur Marketing & Communication, hingga posisi terakhirnya (sebelum menjadi CEO Gucci Vault and Metaverse Ventures) sebagai EVP Brand & Customer Engagement Gucci sejak 2018.

Dalam pernyataan resmi Gucci tentang penunjukan Triefus, disebutkan, “Pengalaman dan keahlian Triefus akan membantu membentuk strategi Gucci pada area strategis ini, di mana beliau akan membangun dan bekerjasama dengan tim membentuk pendekatan perusahaan pada sektor gaming dan bidang Web3 lainnya.”

Dalam sebuah wawancara dengan Lippincott.com, Triefus berpendapat bahwa metaverse merupakan semacam perpaduan eksistensi kita di antara dunia fisik dan digital. “Akan ada banyak ide, peluang, dan teknologi baru yang akan menjadi fondasi apa yang dapat direpresentasikan metaverse di masa depan,” katanya.

Sebagaimana disebutkan McKinsey dalam artikel bertajuk “Marketing in the Metaverse” (24 Mei 2022), metaverse memang menyediakan peluang untuk mengikat konsumen sepenuhnya dengan cara baru, sembari mendorong kapabilitas internal dan inovasi merek pada arah baru. Adapun Bernard Marr, kontributor di situs Forbes.com (30 November 2022), menyebutkan adanya sejumlah manfaat yang bisa diperoleh merek-merek luks dengan membangun wahana di metaverse (lihat Boks).

Perusahaan luxury goods yang mengambil langkah strategis di bidang metaverse bukan cuma Gucci. Balenciaga dilaporkan menciptakan divisi metaverse juga. Adapun raksasa di bidang luxury goods lainnya, LVMH, telah menunjuk profesional bernama Nelly Mensah, untuk mengisi peran baru sebagai “Head of Metaverse and Crypto”; dengan tugas memimpin semua upaya metaverse grup usaha ini secara global dan menyebarkan pengetahuannya di seantero anak-anak usahanya, seperti Louis Vuitton, Givenchy, dan Christian Dior.

Masuknya merek-merek kelas atas untuk menerjuni dunia Web3 dan metaverse sebetulnya memang langkah logis. Perusahaan konsultan Emergen Research memperkirakan nilai pasar Web3 akan mencapai US$ 81,5 miliar pada 2030. (*)

Joko Sugiarsono; Riset: Armiadi M. (bahan dari berbagai sumber)

www.swa.co.id


© 2023-2024 SWA Media Inc.

All Right Reserved