Bagaimana AI Bisa Mengubah Tren E-Commerce dan Industri?

Kondisi satu dekade terakhir menimbulkan tantangan bagi ekonomi dunia dan mempengaruhi industri di berbagai wilayah. Beberapa sektor mengalami pemulihan dan pertumbuhan, tapi banyak juga yang masih berjuang untuk bangkit. Dampak pandemi COVID-19, yang digabungkan dengan perubahan demografi konsumen dan ketegangan geopolitik, menghasilkan pemulihan ekonomi yang tidak merata.
Dalam lanskap yang terus berubah ini, Artificial Intelligence (AI) dan teknologi telah menjadi perubahan besar baru dalam industri e-commerce. Prokofyev Artem, Regional Director APAC 24TTL mengatakan kemajuan ini telah merevolusi cara bisnis dalam berinteraksi dengan pelanggan dan menyederhanakan operasi. Salah satu area di mana AI telah memiliki dampak signifikan adalah di personalisasi dan sistem rekomendasi.
“Chatbot dan asisten virtual yang didukung oleh AI, didorong oleh algoritma pembelajaran mesin dan pemrosesan bahasa alami (NLP), telah mengubah cara bisnis berinteraksi dengan pelanggan. Sistem pintar ini dapat memahami pertanyaan pelanggan, memberikan bantuan secara real-time, dan menawarkan rekomendasi produk yang disesuaikan berdasarkan preferensi individual dan riwayat penelusuran,” kata Prokofyev dalam IDRF Meetup, Jumat (26/5/2023) lalu.
Selain itu, tambah Prokofyev, AI dapat memberdayakan pengecer untuk menganalisis jumlah data yang besar guna memperoleh wawasan berharga. Melalui analitik lanjutan dan pemodelan prediktif, bisnis dapat memahami perilaku konsumen, memprediksi permintaan, dan mengoptimalkan strategi penetapan harga.
“Algoritma AI mendeteksi pola, mengidentifikasi korelasi, dan mengungkapkan hubungan tersembunyi dalam kumpulan data yang kompleks. Pengambilan keputusan berbasis data ini memungkinkan pengecer untuk tetap unggul dalam persaingan dan menyampaikan produk dan layanan yang sesuai dengan preferensi pelanggan,” tuturnya menjelaskan.
Terbaru Chat GPT yang didukung oleh AI, telah memainkan peran penting dalam meningkatkan pengalaman e-commerce. Dengan memanfaatkan teknik deep learning, Chat GPT menghasilkan respon teks yang mirip dengan manusia berdasarkan rangsangan atau pertanyaan. Ia memahami konteks, menghasilkan respons yang koheren dan relevan, dan beradaptasi dengan berbagai gaya percakapan.
“Dalam konteks e-commerce, Chat GPT bertindak sebagai asisten belanja virtual, memberikan rekomendasi produk yang dipersonalisasi, menjawab pertanyaan pelanggan, dan memfasilitasi proses pembelian. Teknologi AI percakapan ini menambahkan tingkat interaktivitas, keterlibatan, dan efisiensi baru dalam pengalaman berbelanja,” ujarnya.
AI dan Chat GPT memungkinkan bisnis untuk mengotomatisasi tugas-tugas rutin seperti manajemen inventaris, pemrosesan pesanan, dan dukungan pelanggan. Dengan memanfaatkan otomatisasi, perusahaan dapat menghemat waktu, mengurangi kesalahan manusia, dan mengalokasikan sumber daya untuk kegiatan yang memberikan nilai tambah.
“Namun, penting untuk mempertimbangkan implikasi etis dari implementasi AI. Keadilan, transparansi, dan privasi harus menjadi prioritas untuk memastikan pengalaman pelanggan yang positif dan inklusif,” ujarnya.
Edwin Octavana Mahaditya Retailer Erajaya menambahkan bahwa AI tidak akan menggantikan posisi pekerja, tetapi bagaimana pebisnis dapat memanfaatkan AI untuk mengefisienkan pekerjaan. “Saya mendukung team yang menggunakan bantuan AI untuk menyelesaikan target dan pekerjaan mereka. Artinya AI bisa menjadi teman kerja dan tidak harus ditakuti bahwa akan mengambil posisi pekerjaan manusia,” ujarnya.
Product Owner 24TTL Vicky Wijaya mengatakan dengan merangkul kekuatan AI dan teknologi, bisnis dapat menawarkan pengalaman personalisasi, pengambilan keputusan berbasis data, dan operasi yang lebih efisien. Seiring industri terus berkembang, pengguna dapat mengharapkan inovasi lebih lanjut dalam aplikasi AI, yang mengarah pada integrasi yang lebih canggih dan pengalaman e-commerce yang mulus.
IDRF Meetup merupakan platform di mana merek, pengecer, dan ahli e-commerce berkumpul untuk memvisualisasikan masa depan ritel digital di era AI dan teknologi. Melalui pengetahuan, praktik, dan pengalaman nyata, peserta akan memperoleh wawasan tentang transformasi industri dan menghindari potensi kesalahan.
24TTL adalah platform analitik e-commerce berbasis AI untuk perusahaan dapat memantau kinerja etalase digital, menciptakan proses pembelian yang mulus dan omnichannel bagi pembeli online. “Kami memungkinkan pengalaman belanja online bagi merek barang konsumen melalui analitik rak digital yang otomatis, sinergi konten yang ditingkatkan, dan pengembangan solusi pengalaman belanja,” katanya.
Editor : Eva Martha Rahayu
Swa.co.id