Pahit Manis Bisnis Kopi Coffeenatics

Owner Coffeenatics Harris Sutanto Tan saat menunjukkan mesin rouster kopi miliknya. (Foto Ubaidillah/SWA)
Owner Coffeenatics Harris Sutanto Tan saat menunjukkan mesin rouster kopi miliknya. (Foto Ubaidillah/SWA)

Produksi kopi di Indonesia saat ini menempati peringkat ke-4 di dunia dengan angka produksi senilai 12,1 juta ton. Produksi kopi di Indonesia masih kalah dibandingkan Brazil, Filipina dan Vietnam. Tahun 2022 menjadi angka tertinggi dalam produksi kopi di Indonesia yaitu mencapai 726 ribu ton, yang menjadikan Indonesia memiliki potensi besar untuk menguasai pasar global untuk industri kopi.

Meski Indonesia menempati peringkat empat dunia, namun julukan Coffee Capital of The World justru disematkan kepada Melbourne, Australia. Orang-orang di sana bisa mengonsumsi kopi sehari tiga kali, padahal harga kopi di Australia tidaklah murah.

Harris Hartanto Tan, pemilik brand Coffeenatics mengungkapkan saat tinggal di Australia, dirinya menjadi penikmat kopi. Namun, ia sulit menemukan kopi dari Indonesia. Mayoritas kopi yang beredar di Negeri Kanguru berasal dari Kolombia.

Pengalamannya itu melatarbelakangi pendirian kafe dan brand Coffeenatics di Medan pada tahun 2015. Sebenarnya, Coffeenatics dibuat di Surabaya, namun Harris memindahkannya ke Medan karena dekat dengan sumber kopi.

Harris mengungkapkan bahwa Indonesia memiliki potensi bisnis kopi yang menjanjikan. Ia bertekad untuk bisa mengekspor kopi Indonesia yang memiliki kualitas tinggi dan tidak kalah dengan kopi dari negara lain.

“Kopi di Coffeenatics berasal dari Aceh, bahkan 90% kopi berasal dari Sumatera, 10% impor dari luar negeri. Untuk kopinya kami kerja sama dengan para petani kopi, meski awal mulanya sulit karena modal dan pengetahuan terbatas,” ujar Harris di Cafe Coffeenatics beberapa waktunya lalu.

Coffeenatics memiliki visi menghasilkan produk kopi yang Indonesia yang berkualitas tinggi namun affordable (terjangkau) dan available (tersedia). Terjangkau artinya bisa didapatkan siapa saja dengan harga yang cocok dan selalu tersedia setiap harinya.

Coffeenatics tidak besar secara instan. Harris menceritakan bahwa dirinya memulai usaha bermodal Rp1,2 miliar dan menjalaninya dengan sangat berat. Modal yang ia gelontorkan habis dalam waktu tiga tahun, bahkan sampai dirinya tidak sanggup membayar sewa ruko lagi.

“Modal Rp1,2 miliar terpakai buat renovasi, training, operasional sehari-hari, dan beli bahan. Dulu kami mulai cafe dengan sederhana banget, beli bahan, produksi, jual, bayar payroll, gitu aja,” kata pria lulusan Monash University ini.

Saat sudah tak sanggup lagi membayar sewa, Harris akhirnya berbicara dengan pemilik ruko. Di luar dugaan, pemilik ruko berbaik hati dengan memberi keringanan pembayaran ruko dengan cara dicicil. “Dia melihat kami serius membesarkan bisnis ini,” ujarnya.

Produk kopi susu Coffenatics. (Foto Ubaidillah/SWA)

Setelahnya, Coffeenatics terus berkembang dan menjadi lebih besar seperti sekarang. Saat ini, Coffeenatics memiliki 50 orang karyawan dan bisa meraup omzet Rp300 sampai Rp400 juta per bulan. Tidak hanya kafe, produk yang dijual pun beragam mulai dari kopi kapsul, kopi siap konsumsi, kopi pocket, serta menjual alat-alat membuat kopi.

“Saya tidak menyerah (dalam berbisnis) karena melihat orang-orang yang rela menghabiskan waktu dan membersamai kami sejak dari nol, kayak bartender kami. Saya tidak ingin mengecewakan mereka,” kata Harris mengungkapkan motivasinya mempertahankan bisnis Coffeenatics.

Strategi Bisnis

Harris mengaku bisnis kopi bukanlah hal yang baru di Indonesia. Untuk bisa bersaing, Coffeenatics menawarkan cerita, asal-usul, dan fakta tentang kopi-kopi yang dibeli konsumen. Untuk itu, mereka menjalin hubungan baik dengan para petani, prosesor, dan pengepul, bahkan beberapa kopi diberi nama dengan nama petaninya seperti Ladang Munthe (kopi yang berasal dari ladang Pak Munthe) dan Ladang Pele (kopi berasal dari ladang Bapak Pele).

“Banyak kopi itu ganti KTP (identitas), saya tidak mau begitu. Ganti KTP artinya apa? Misal kopi dari Jawa, dibawa ke gudang di Sumatera, lalu saat dipasarkan tiba-tiba identitasnya berubah menjadi kopi Sumatera. Orang jadi tidak tahu identitas kopi yang sebenarnya,” katanya.

Awal mula bisnis, Harris kesulitan menjalin hubungan yang saling percaya dengan petani kopi. Dirinya ingin membina petani dan mengenalkannya ke pasar, namun di sisi lain khawatir tidak menjual kopinya ke Coffeenatics dan petani juga tidak yakin Coffeenatics akan membeli kopi hasil panennya.

“Butuh waktu, mungkin sampai sekarang, untuk bisa membuat nyaman kedua belah pihak. Akhirnya, selain dari petani, saya juga beli lewat koperasi yang membawahi petani. Koperasi juga dijadikan sebagai Quality Control, ini kopi grade 1, grade 2. Jadi kami tidak lagi melakukan pemilihan grade 1 dan mana yang B2,” ujarnya.

Satu program unggulan yang dijalankan Coffeenatics untuk petani yakni program Adopsi Ladang di Aceh, Simalungun, Karo, hingga Bali. Program ini dilakukan untuk membantu petani mengontrol kualitas biji kopi sekaligus membantu meningkatkan perekonomian petani kopi lokal. “Jadi di program ini, Coffeenatics bayar dulu ke petani dengan harga kopi grade 1 meskipun nanti hasil panennya mungkin juga ada yang grade 2,” katanya.

Coffeenatics juga menerapkan harga kopi yang tinggi untuk lahan yang dekat dengan habitat siamang (kera hitam berlengan panjang endemik Sumatera). Penetapan harga lebih tinggi ini bertujuan agar petani tidak melakukan ekspansi lahan, sehingga siamang bisa hidup dengan tenang di habitatnya. “Kalau harga kopinya tinggi, petani juga bisa mencukupi kebutuhan hidupnya tanpa harus ekspansi lahan. Memang siamang ini hidup di lahan milik petani,” ucap Harris.

Coffeenatics saat ini mengolah satu ton biji kopi per bulan. Tidak hanya untuk kebutuhan sendiri, Coffeenatics juga memasok kebutuhan kopi untuk kafe-kafe yang ada di Medan dan sekitarnya. Penjualan mesin atau alat-alat pengolah kopi juga karena ada permintaan dari kafe kopi.

Selain memasok kebutuhan kopi untuk kafe, Coffeenatics juga menjual produk kopi langsung ke pembeli lewat toko luring dan daring. Mereka juga tengah menjajaki ekspor roasted coffee ke beberapa negara. Tahun ini Coffeenatics bakal membuka cabang ketiganya di Medan dan berencana ekspansi ke Jakarta.

Selanjutnya, Coffeenatics memfokuskan penjualan online melalui Tokopedia dengan menggunakan Dilayani Tokopedia untuk memperluas jangkauan pasar. “Sejak bergabung dengan Tokopedia, transaksi Coffeenatics mengalami peningkatan hingga 3,5 kali lipat per tahun,” kata Harris menutup keterangannya.

Editor: Eva Martha Rahayu

Swa.co.id

Dilarang keras mengambil konten (tulisan, foto, infografis, video, dan sebagainya) yang dimuat di situs web ini, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk platform AI (artificial intelligence) dan platform digital lainnya, tanpa izin tertulis dari direksi yang berwenang di situs web ini.

# Tag