Strategy

Empat Strategi Waskita Beton Kurangi Risiko Gagal Bayar

Jajaran Direksi WSBP pada RUPST 2023. (dok WSBP)

PT Waskita Beton Precast (WSBP) mengaku berupaya meningkatkan nilai pemegang saham sesuai dengan cita-cita dari program transformasi bisnis yang berlandaskan penerapan tata kelola (Governance), manajemen risiko (Risk), dan kepatuhan (Compliance) perusahaan yang baik. Dalam penerapan manajemen risiko, manajemen WSBP fokus memperkuat mitigasi timbulnya risiko keuangan yang dapat mengancam kegiatan usaha WSBP, khususnya risiko gagal bayar kewajiban kepada para kreditur dan vendor.

Vice President of Corporate Secretary WSBP Fandy Dewanto menegaskan, manajemen WSBP telah mengimplementasikan strategi untuk memitigasi timbulnya risiko gagal bayar. “Manajemen berkomitmen untuk memastikan pemenuhan hak-hak para kreditur dan vendor melalui penyempurnaan proses bisnis dan penguatan tata kelola serta manajemen risiko,” kata Fandy, Senin (17/07/2023).

Adapun strategi yang diimplementasikan mencakup: pertama, meningkatkan pangsa pasar projek non Waskita Group. Kedua, selektif dalam mengambil kontrak kerja atau pesanan baru. Ketiga, membentuk komite manajemen risiko, dan keempat meningkatkan efisiensi pada proses produksi.

Fandy mengaku, WSBP terus memperkuat jaringan pemasaran untuk meningkatkan pangsa pasar proyek non Waskita Group seperti proyek yang berasal dari pemerintah, BUMN, dan swasta. Hal tersebut dilakukan guna mengurangi ketergantungan WSBP pada satu sumber pendapatan saja.

“Implementasi dari strategi tersebut dapat terlihat pada capaian kontrak baru WSBP per bulan Mei 2023. Di mana sekitar 66% kontrak baru yang diperoleh WSBP telah berasal dari proyek Non Waskita Group,” ujarnya.

Selain diversifikasi portofolio pelanggan, WSBP juga sangat selektif dalam mengambil pesanan atau mengikuti proyek baru. Manajemen WSBP melakukan due diligence yang komprehensif mengenai kemampuan finansial calon pelanggan. Langkah ini diambil dalam rangka memitigasi timbulnya risiko gagal bayar dari pelanggan kepada WSBP sehingga berdampak pada kondisi keuangan perusahaan.

“WSBP berupaya meminimalisir piutang tak tertagih dari pelanggan. Oleh sebab itu, kini kami meningkatkan kehati-hatian dalam melaksanakan proyek baru, kami analisa kelayakan proyek dan kemampuan bayar dari calon pelanggan,” ucap Fandy mengungkapkan.

Dalam rangka melakukan analisa, WSBP telah membentuk Komite Tata Kelola dan Manajemen Risiko atau Komite TKMR. Komite tersebut beranggotakan personil dari berbagai bidang seperti teknis operasional, keuangan, K3LMP, hingga bidang hukum.

Komite TKMR bertugas untuk melakukan analisa atas kelayakan proyek atau pesanan baru serta memformulasikan langkah-langkah mitigasi atas risiko yang mungkin timbul dalam pengerjaan pesanan. “Proyek atau pesanan baru WSBP terlebih dahulu ditelaah secara mendalam oleh anggota Komite, dengan tanpa mengurangi agilitas WSBP dalam menangkap peluang pasar,” kata Fandy.

Lebih lanjut, WSBP juga senantiasa meningkatkan efisiensi dalam proses produksi sehingga dapat meningkatkan margin keuntungan yang diperoleh dari setiap pesanan dan proyek yang dikerjakan. Upaya efisiensi yang dilakukan mencakup digitalisasi proses produksi, pengaplikasian metode kerja yang lebih efisien, hingga inovasi teknis produk.

“WSBP memastikan bahwa efisiensi tidak akan mempengaruhi kualitas maupun waktu pengerjaan produk. Kepuasan pelanggan menjadi prioritas utama kami,” ucap Fandy menutup keterangannya.

Editor : Eva Martha Rahayu

Swa.co.id


Copyright @2023. SWA Online Magazine

All Right Reserved