Technology

Ketika Dedengkot Real Estate Terpincut Teknologi Terkini

Ketika Dedengkot Real Estate Terpincut Teknologi Terkini

Dipicu disrupsi digital dan pandemi Covid-19, Jones Lang LaSalle, perusahaan jasa real estate berusia lebih dari 200 tahun, berupaya memodernisasi bisnisnya dengan mengadopsi advanced technology. Bukan hanya untuk kebutuhan sendiri, tapi juga buat kliennya.

Christian Ulbrich, Presiden & CEO Jones Lang LaSalle Inc. (Foto: Wikipedia/Matt Kosterman).

Dunia bisnis real estate (lahan yasan) secara tradisional dikaitkan dengan soal “where”, atau “di mana”, kehidupan personal, profesional (pekerjaan), dan sosial berlangsung. Namun, bagi perusahaan penyedia layanan real estate komersial ternama Jones Lang LaSalle Inc. ―lazim disebut JLL― dunia real estate masa depan bukan hanya soal “where”, tapi juga ada irisannya dengan soal “how”. Maksudnya, di sini juga ada unsur pengalaman manusia (people’s experience) yang berinteraksi pada ruang-ruang fisik, serta memperhatikan adanya efek ruang-ruang fisik tersebut terhadap lingkungan sekitarnya dan dunia pada umumnya.

Pandangan filosofis itu telah diungkapkan oleh Christian Ulbrich, CEO JLL, enam tahun lalu, ketika mulai memegang tongkat kepemimpinan perusahaan jasa lahan yasan ini. Ia memang meyakini bahwa sebuah bangunan itu lebih dari sekadar dinding dan kabel. Menurutnya, bangunan juga harus memfasilitasi keamanan, efisiensi, keberlanjutan, inovasi, dan membantu menghubungkan orang-orang di dalamnya.

JLL, menurut Wikipedia, kini dikenal sebagai satu dari tiga besar perusahaan penyedia layanan real estate dunia, bersama Cushman & Wakefield dan CBRE. Perusahaan lahan yasan multinasional ini berbisnis utama pada layanan real estate dan manajemen investasi, dengan kegiatan utama mengelola, membeli, membangun, dan berinvestasi pada properti real estate komersial, ritel, residensial, dan hotel.

JLL kini diperkuat oleh sekitar 100 ribu karyawan, yang tersebar di 80 negara. Total revenue-nya pada 2022 sebesar US$ 20,86 miliar dan total fee revenue 2022 sebesar US$ 8,30 miliar.

Sejarah JLL bermula dari sebuah balai lelang yang didirikan di London pada tahun 1783 bernama Jones Lang Wootton. Pada 1976, Jones Lang Wootton mulai berekspansi ke bisnis lahan yasan di Amerika Serikat, dengan memulainya di New York City. Nah, di tahun 1999, Jones Lang Wootton ―ketika itu sudah mempekerjakan sekitar 4.000 orang di 33 negara― bergabung dengan LaSalle Partners, untuk menjadi Jones Lang LaSalle seperti kita kenal saat ini.

Di bawah kepemimpinan Ulbrich, tampilan perusahaan dan gaya bisnis JLL memang berbeda. Filosofi itu juga membantu JLL untuk menata ulang kantor (reimagining the office) dan siap menyongsong era masa depan dunia kerja (the future of work). Terobosan kepemimpinan Ulbrich boleh jadi juga dipengaruhi perubahan cepat yang terjadi di dunia bisnis pada beberapa tahun belakangan ini; terutama karena faktor disrupsi teknologi, pandemi Covid-19, serta perubahan mode dan pola kerja di perusahaan.

Ulbrich, kini 56 tahun, punya kompetensi mumpuni dan pengalaman panjang untuk memimpin salah satu punggawa bisnis jasa real estate dunia ini. Ia membentuk perspektif kepemimpinan bisnisnya melalui karier panjangnya di bidang investment banking dan real estate.

Selepas memperoleh gelar masternya di University of Hamburg, Jerman, Ulbrich memasuki industri perbankan di Jerman dan di bank-bank internasional, yang ditekuninya selama 10 tahun. Setelah itu, ia direkrut untuk menduduki posisi CEO HIH Group, perusahaan real estate yang bermarkas di Hamburg.

Ulbrich bergabung dengan JLL sejak 2005, setelah direkrut perusahaan ini untuk memegang jabatan Managing Director JLL Jerman. Selanjutnya, pada 2009 ia ditunjuk untuk memegang tanggung jawab sebagai CEO JLL untuk Kawasan Eropa, Timur Tengah, dan Afrika (EMEA Region). Dan, puncaknya pada 2016 Ulbrich dipercaya sebagai CEO JLL Global.

Di antara wujud nyata terobosan Ulbrich adalah kehadiran tempat untuk berkolaborasi ―semacam conference room― yang disebut “The Point”, yang ada di kantor pusat JLL. Tempat berkumpul dua lantai ini sekilas mirip sebuah night club.

Meskipun karyawan kantor pusat JLL tersebar di tujuh lantai gedung tersebut, banyak dari mereka yang tertarik untuk mendatangi The Point karena ingin bertemu rekan-rekan kerja yang jarang mereka jumpai. Ini dianggap bisa memperkuat kolaborasi di antara mereka. Bahkan, tak sedikit juga klien perusahaan dari JLL yang lebih suka berjumpa di sini ketimbang di luar.

Edward Wagoner, CIO JLL Technologies.

Menurut Edward Wagoner, CIO JLL Technologies, The Point mengombinasikan ruang fisik dengan teknologi ―yang pada ujungnya memberikan pengalaman (experience) mengesankan kepada karyawan dan klien. “Ini bukan conference room seperti pada umumnya,” ujar Wagoner. Ia memastikan ruangan ini bisa melancarkan percakapan di antara peserta pertemuan, baik yang hadir langsung maupun yang secara remote (dari luar).

Dengan pemanfaatan teknologi seperti Internet of Things (IoT), ada perangkat yang dapat memonitor fungsi-fungsi fasilitas dalam ruangan, misalnya mengatur temperatur dan perputaran udara. Dengan aplikasi reservasi, seorang karyawan dapat memesan (booking) tempat duduk di sebelah rekan kerja yang akan hadir di ruangan itu.

Teknologi juga memungkinkan para remote participant bukan hanya bisa ikut bersuara, tapi juga merasakan semacam “kehadiran” (presence). Lalu, ketika satu tim sudah menggunakan conference room, platform teknologi akan segera mengirimkan cleaning team agar ruangan siap dipakai oleh tim selanjutnya.

Terobosan bisnis yang diintroduksi oleh Ulbrich tentu saja bukan sekadar menghadirkan The Point. Dalam setahun sejak ditunjuk sebagai CEO JLL (2017), Ulbrick meluncurkan JLL Spark, entitas venture capital dengan modal dana US$ 100 juta yang akan berinvestasi pada startup di bidang teknologi properti (proptech). Dua tahun kemudian, 2019, ia membentuk divisi bisnis baru, bernama JLL Technology, yang didedikasikan untuk membantu kalangan perusahaan klien mengakselerasi pemanfaatan proptech mereka.

Ulbrich meyakini bahwa proptech akan membantu kalangan perusahaan melalui masa transisi dalam hal di mana dan bagaimana orang bekerja di tahun-tahun belakangan ini. “Pandemi Covid-19 telah mengakselerasi kebutuhan terhadap teknologi di ruang-ruang kerja,” ujarnya.

Foto jll.co.id

Ia mencontohkan adanya peningkatan kebutuhan terhadap teknologi sensor. Dengan teknologi seperti ini, kita tahu di mana posisi orang yang bekerja di kantor dan bagaimana mereka menggunakan fasilitas ruang kantor. “Dengan demikian, kita bisa menerapkan ukuran keselamatan yang penting,” ujar Ulbrich.

Contoh lainnya, seiring dengan berkembangnya pola kerja hybrid, karyawan juga membutuhkan sebuah meeting room yang bisa menjadi media room. Di sana tersedia perangkat (tools) yang dibutuhkan tim untuk dapat bekerja secara kolaboratif, walaupun ada anggota tim yang bekerja di kantor dan ada yang bekerja di rumah atau tempat lain.

Di masa prapandemi, kita bisa dengan mudah memperkirakan bahwa kantor dan meeting room mungkin akan penuh dari Senin sampai Jumat siang. Karenanya, mudah untuk menjalankan aneka pertemuan atau rapat bisnis, membuat pengumuman, dan menawarkan peluang untuk berkolaborasi.

Namun, setelah pandemi, situasinya berbeda ―di antaranya karena pola kerja hybrid― lantaran kita belum bisa memastikan ke depan siapa yang akan mengadakan rapat dan kapan waktunya. Karena itu, saat ini juga dibutuhkan teknologi untuk booking ruang rapat dan memesan seat untuk tiap anggota tim bisnis yang mengikutinya.

Ulbrich mengakui, secara umum industri real estate selama bertahun-tahun tergolong lambat dalam mengadopsi teknologi dan memanfaatkan data bisnis. Hingga beberapa tahun sebelum ini, bangunan-bangunan masih sedikit dilengkapi embedded technology yang dibutuhkan. Namun, menurutnya, sekarang kondisinya sudah berubah: integrasi teknologi di bidang real estate mengalami percepatan dalam 2-3 tahun terakhir, khususnya pascapandemi.

Seperti sudah disinggung, JLL memulai inisiatif teknologinya dengan membentuk venture capital (VC) sendiri, JLL Spark, pada 2017. Hingga kini, VC ini telah berinvestasi di lebih dari 30 bisnis proptech berbeda. “Kami berinvestasi pada teknologi artificial intelligence (AI), robotika, dan software operasional gedung,” ujar Ulbrich.

Dari pengalaman berinvestasi itu, Ulbrich menilai kreativitas kalangan startup di bidang ini luar biasa: banyak proses bisnis yang dapat dioptimalkan. Ia mengaku bisa mengetahuinya dengan membaca proposal investasi. Diakuinya, ada sejumlah masalah yang belum disadarinya ternyata ada.

Ulbrich memberikan sebagian gambaran contoh teknologi yang dapat memberikan dampak. Sebagai contoh, di AS ketika Anda bekerja di sebuah bangunan untuk melakukan pekerjaan pemelihaan (property maintenance), Anda perlu membuktikan Anda punya asuransi (insured).

Bagi para property manager, memantau semua jenis polis asuransi yang berbeda untuk beragam tipe jasa pemeliharaan properti dalam satu waktu sungguh proses yang memusingkan. Karenanya, tak mengherankan, butuh waktu sehari penuh dalam seminggu bagi seorang property manager untuk mengurus hal seperti ini untuk jasa pemeliharaan sebuah gedung besar.

Untuk itulah, pada September 2018, JLL berinvestasi pada perusahaan proptech asal Israel, bernama Jones, yang menciptakan software untuk mengelola urusan asuransi tersebut. Jadi, orang yang akan bekerja di sebuah gedung akan menggunakan software ini untuk menunjukkan bukti adanya asuransi, dan kemudian software ini akan menotifikasi sang property manager bahwa sudah ada coverage asuransi pada orang tersebut. Dengan bantuan software ini, waktu yang dibutuhkan seorang property manager jauh berkurang, dari sebelumnya sehari dalam seminggu menjadi kurang dari 50 menit dalam seminggu.

Contoh lainnya yang ditunjukkan Ulbrich adalah berinvestasi pada teknologi yang memungkinan teknologi bekerja secara kohesif untuk mengelola sebuah properti atau portofolio properti. Untuk itu, beragam teknologi yang berbeda harus bisa bekerja bersama.

Karenanya, pada November 2021 JLL mengakuisisi perusahaan proptech asal AS bernama Building Engines, yang membuat software yang menjalankan core technology dari sebuah bangunan. “Saya lihat ini sesuatu yang akan penting ke depan,” ujar Ulbrich. Kalau tidak, akan ada 20-30 jenis software berbeda yang akan berjalan sendiri-sendiri. “Itu akan menjadi mimpi buruk bagi para manajer properti, pemilik, ataupun operatornya,” ujarnya lagi.

“Kami berinvestasi pada teknologi artificial intelligence, robotika, dan software operasional gedung.”

Christian Ulbrich, Presiden & CEO Jones Lang LaSalle Inc

JLL berinvestasi serius untuk menyediakan layanan teknologi buat klien dengan model SaaS (Software as a Service) dengan pola konsultasi di bawah divisi atau unit bisnis baru yang bernama JLL Technologies. Dibentuk pada 2019, JLL Technologies kini telah memiliki lebih dari 2.000 organisasi yang menjadi pelanggannya, termasuk 86 perusahaan yang masuk dalam Fortune 100.

Berdasarkan rilis berita yang di-posting dalam situs JLL, meski baru seumur jagung, unit bisnis JLL Technologies ini di tahun 2022 sudah mampu menyumbang fee revenue sebesar US$ 200,2 juta, hampir separuh yang diraih unit bisnis LaSalle Investment Management, yang sebesar US$ 446,7 juta.

Sebagai contoh, platform teknologi yang disediakan JLL Technologies dapat membantu klien mengelola ruang properti mereka secara efisien. “Bahkan, ada klien yang cuma menggunakan layanan teknologi SaaS kami ini meskipun mereka tidak menggunakan layanan real estate lainnya dari JLL,” kata Wagoner.

Layanan teknologi ini dimungkinkan berkembang cepat karena JLL Technologies terus menambah kapabilitasnya. Contohnya, dengan mengakuisisi Corrigo, JLL Technologies dapat menyediakan solusi manajemen fasilitas berbasis sistem cloud dan platform untuk work order.

Lebih menarik lagi ketika Ulbrich mengungkapkan bahwa teknologi AI terbukti memainkan peranan penting di industri jasa real estate. “AI dapat memberikan perubahan besar pada industri kami,” ujarnya.

Untuk itulah, JLL baru-baru ini mengakuisisi perusahaan bernama Skyline AI. Juga beroperasi di bawah payung JLL Technologies. Teknologi dari Skyline AI ini, antara lain, dapat membantu klien dalam mengelola investasi dan manajemen portofolio properti mereka. Software ini dijanjikan dapat membantu klien memprediksi nilai properti di masa depan, meningkatkan penghematan biaya, dan mengidentifikasi peluang investasi di bidang properti.

Teknologi dari Skyline AI ini juga terbukti membantu tim penjualan JLL. Pasalnya, teknologi ini punya kemampuan menganalisis data mengenai bangunan yang tersedia secara publik. Misalnya, dipakai untuk memperkirakan (to forecast) properti mana yang sebaiknya segera dijual.

Ulbrich menggambarkan, selama ini penjualan properti berjalan sangat tradisional. Padahal, banyak data point yang harus dianalisis. Orang di bagian analisis penjualan selama ini menganalisisnya, tapi sesungguhnya sering tidak bisa objektif karena biasanya sebelum mereka melihat data tersebut.

Berkat bantuan Skyline AI, JLL bisa memperkirakan sebelum sang pemilik properti mempertimbangkan apakah mereka seharusnya menjual properti mereka itu. “Kami telah menggunakan analisis seperti ini pada bisnis kami di AS sejak September 2021,” ungkap Ulbrich.

Hal tersebut telah mengubah cara pendekatan JLL terhadap klien. Karena, mereka dapat merekomendasikan apakah sebaiknya menjual atau melakukan refinancing, mengidentifikasi pembeli potensial, atau membandingkan dengan properti-properti yang akan dijual lainnya.

Ulbrich juga meyakini bahwa teknologi dapat membantu industri real estate mengurangi jejak karbon di muka bumi. Karenanya, JLL berinvestasi pada Turntide Technologies, perusahaan rintisan (startup) yang menawarkan perangkat motor yang terintegrasi dengan teknologi machine learning, yang berfungsi memberikan daya pada kipas angin, AC, ataupun elevator.

Dengan penggunaan motor-motor seperti itu, penggunaan energi dan emisi karbon sebuah bangunan bisa dikurangi secara signifikan. Laporan JLL menyebutkan, penggunaan Smart Motor System dari Turntide ini dapat mengurangi konsumsi energi hampir mencapai 64%.

Namun, Ulbrich mengakui, bagi JLL sendiri memang bukan soal mudah mencapai tingkat zero emission pada 2040. Namun, ia berjanji akan mengupayakan untuk mengeliminasi 95% emisi gas karbon di bidang yang digarap JLL. (*)

Sekilas Profil Jones Lang LaSalle (JLL)

-Nama perusahaan : Jones Lang LaSalle Inc.

-Kode emiten : JLL (NYSE)

-Situs web : www.us.jll.com

-Bidang bisnis : industri real estate (lahan yasan)

-Tahun berdiri : 1783, di London (sebagai Jones Lang Woottton)

-Pendiri : Richard Winstanley

-Tahun merger : 1999 (antara Jones Lang Woottton dan LaSalle Partners)

-Kantor pusat : Aon Center, Chicago, Illinois, AS

-Wilayah operasional : seluruh dunia

-Tokoh kunci : Siddhart Mehta (Chairman), Christian Ulbrich (President & CEO), Karen Brennan (CFO)

-Jenis layanan terkini : manajemen investasi, manajemen aset, pengembangan lahan yasan, konsultasi aset dan properti, penyewaan properti, manajemen properti, layanan teknologi properti

-Jumlah karyawan : sekitar 100 ribu orang

–Revenue : US$ 20,86 miliar (tahun 2022)

–Fee revenue : US$ 8,30 miliar (tahun 2022)

–Operating income : US$ 868,1 juta (tahun 2022)

Sumber: Wikipedia dan News Release situs JLL

Joko Sugiarsono

Periset bahan: Armiadi Murdiansah (dari berbagai sumber)

www.swa.co.id


© 2023-2024 SWA Media Inc.

All Right Reserved