Etika Bisnis yang Tinggi dan Keberlanjutan Perusahaan: Perspektif Manajemen Risiko

Etika Bisnis yang Tinggi dan Keberlanjutan Perusahaan: Perspektif Manajemen Risiko

Bagian 2 dari 2 tulisan

Oleh: Deddy Jacobus (Senior Partner, Risk Workshop International, Indonesia), Victor Christianto (Risk Workshop International, Indonesia), Randi Bouty (Guest Editor, Risk Workshop International, Indonesia)

Deddy Jacobus, Senior Partner, Risk Workshop International, Indonesia

Pentingnya Etika Bisnis bagi Keberlanjutan Bisnis

Etika bisnis memiliki peran penting dalam manajemen risiko. Dalam dunia bisnis, risiko adalah keniscayaan. Bagaimanapun, dengan etika bisnis yang baik, perusahaan dapat mengurangi tingkat dan dampak dari risiko tersebut.

Perusahaan yang menerapkan standar etika tinggi cenderung memiliki kontrol yang lebih baik atas berbagai risiko, termasuk risiko hukum, finansial, reputasi, dan kepercayaan stakeholder.

Berbagai studi telah menunjukkan korelasi positif antara etika bisnis dan keberlanjutan bisnis. Studi oleh Amran, Lee, & Devi (2014) menunjukkan bahwa perusahaan dengan etika bisnis yang baik memiliki tingkat keberlanjutan yang lebih tinggi. Studi serupa oleh Orlitzky, Schmidt, & Rynes (2003) juga menunjukkan hasil yang sama. Menurut mereka, etika bisnis mempengaruhi keputusan manajemen, yang berdampak pada keberlanjutan bisnis.

Namun, tantangannya adalah bagaimana menerapkan etika bisnis yang baik dalam praktik. Sebagai contoh, perusahaan harus menerapkan tata kelola perusahaan yang baik (corporate governance) dan memastikan bahwa seluruh proses bisnis menghormati hak-hak pihak yang berkepentingan (stakeholders).

Penerapan ini juga mencakup menjaga kualitas produk, menjaga hubungan baik dengan karyawan, dan mempertimbangkan dampak lingkungan dalam proses bisnis (Jamali, Lund-Thomsen & Jeppesen, 2017).

Etika bisnis dapat didefinisikan sebagai prinsip dan standar yang memandu perilaku di dunia bisnis (Crane & Matten, 2007). Kepatuhan terhadap etika bisnis tidak hanya membantu perusahaan menghindari masalah hukum, tetapi juga dapat membantu manajemen risiko. Etika berfungsi sebagai perisai terhadap risiko kerugian finansial, reputasi, dan kepercayaan stakeholder.

Salah satu cara perusahaan dapat memanfaatkan etika bisnis untuk manajemen risiko adalah melalui “Etika Pohon Hayat”.

Etika Pohon Hayat (2019) menciptakan analogi antara etika dan pohon, di mana pohon tersebut merupakan simbol kehidupan yang mengandung berbagai aspek etika, termasuk etika bisnis. Layaknya pohon, etika bisnis harus tumbuh dan berkembang, dan tidak bisa stagnan. Etika bisnis menjadi bagian integral dalam menjamin keberlanjutan bisnis.

Akar pohon mewakili prinsip dasar etika, batang pohon adalah etika organisasi, dan cabang-cabangnya adalah standar dan prosedur. Dengan menerapkan kerangka ini, perusahaan dapat membangun struktur etika yang kuat yang membantu mengidentifikasi dan mengurangi risiko.

Kim dan Mauborgne (2017) berpendapat bahwa perusahaan yang berhasil membedakan diri mereka di pasar sering kali melakukannya melalui inovasi yang berkelanjutan. Etika bisnis dapat menjadi alat penting dalam mendorong inovasi tersebut.

Misalnya, perusahaan yang mematuhi standar etika tinggi cenderung mengejar tujuan yang lebih besar dari sekadar profitabilitas. Tujuan-tujuan tersebut dapat mendorong inovasi yang tidak hanya menciptakan nilai bagi stakeholder, tetapi juga membantu memperkuat posisi perusahaan di pasar.

Mengintegrasikan etika bisnis ke dalam strategi manajemen risiko juga memiliki keuntungan lain. Ini membantu membangun reputasi perusahaan sebagai entitas yang bertanggung jawab dan dapat dipercaya, faktor yang menjadi semakin penting dalam ekonomi global saat ini.

Adapun contoh kasus misalnya seperti yang dilakukan perusahaan otomotif asal Jepang, sebut saja misalnya: Toyota. Saat seluruh dunia sedang berlomba-lomba memproduksi mobil listrik, tampaknya pabrikan mobil Jepang tersebut masih belum terlihat pergerakannya untuk ikut serta memproduksi EV.

Ketika ditanya alasannya, mereka menjawab bahwa sedang menimbang menggunakan energi apa untuk mobil listrik nanti, baterai atau hidrogen. Kemungkinannya, parbikan Jepang tersebut tengah memikirkan dengan matang apa dampak yang akan terjadi jika mereka memilih baterai dibandingkan hidrogen.

Di saat produk lain tengah berlomba menguasai pasar, produsen Jepang ini masih tenang dan berhati-hati memikirkan dampak yang akan terjadi. Mereka lebih memilih untuk menunggu hasil penelitian hidrogen, daripada terburu-buru mengambil keputusan yang akan berakibat fatal bagi nama baik dan reputasi perusahaan.

Kasus di atas mencerminkan bagaimana sebuah perusahaan harus berhati-hati dalam mengambil risiko-risiko yang akan berdampak pada keputusan yang nantinya akan mengancam keberlangsungan perusahaan.

Dari segi etika bisnis, perusahaan mempertimbangkan penggunaan hidrogen yang lebih ramah lingkungan daripada baterai. Serta berhati-hati menunggu hasil research yang diadakan dengan tujuan untuk menjaga reputasi dan nama baik perusahaan (cf. Rustam, 2017, chapter 11).

Penting bagi perusahaan untuk menjaga nama baik dan reputasi perusahaan. Reputasi positif inilah yang dapat membantu perusahaan menarik dan mempertahankan pelanggan, karyawan, dan investor, semuanya penting untuk keberlanjutan bisnis jangka panjang.

Kesimpulannya, etika bisnis adalah kunci untuk keberlanjutan bisnis, terutama dalam perspektif manajemen risiko. Dengan memanfaatkan kerangka etika bisnis seperti “Etika Pohon Hayat” dan prinsip-prinsip yang dijelaskan dalam “Blue Ocean Shift”, perusahaan dapat menciptakan lingkungan bisnis yang inovatif, berkelanjutan, dan memiliki risiko rendah.

Kepustakaan

Amran, A., Lee, S. P., & Devi, S. S. (2014). The influence of governance structure and strategic corporate social responsibility toward sustainability reporting quality. Business Strategy and the Environment, 23(4), 217-235.

Ferrell, O. C., Fraedrich, J., & Ferrell, L. (2018). Business ethics: Ethical decision making & cases. Cengage Learning.

Jamali, D., Lund-Thomsen, P., & Jeppesen, S. (2017). SMEs and CSR in developing countries. Business & Society, 56(1), 11-22.

Kim, W. Chan & Mauborgne, Renee. (2017). Blue Ocean Shift: Beyond Competing – Proven Steps to Inspire Confidence and Seize New Growth. New York: Hachette Books.

Pohan, I. (2008). Etika Pohon Hayat. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.

Orlitzky, M., Schmidt, F. L., & Rynes, S. L. (2003). Corporate social and financial performance: A meta-analysis. Organization Studies, 24(3), 403-441.

Rustam, Bambang R. (2017) Bab 11 dalam Manajemen Risiko. Jogjakarta: Penerbit Salemba Empat.

Disclaimer: isi artikel merupakan pendapat pribadi.

# Tag