Kemasan Cup, Diferensiasi yang Makin Ngetren

Kemasan Cup, Diferensiasi yang Makin Ngetren

Betul, Hore sebagai merek kedua Nutrisari memang tergolong agresif menggempur pasar minuman buah dalam bentuk serbuk kelas menengah. Dijual dengan harga lebih murah, Hore setidaknya dapat mengamankan posisi Nutrisari sebagai pemimpin pasar di kategori produk vitamin C bentuk serbuk. Dan terbukti, Nutrisari konsisten menjaga mereknya dengan slogan citranya yang terkenal, “Jeruk Makan Jeruk”, dan terus berinovasi secara cukup intens.

Bagaimana dengan Hore? Lumayan, paling tidak berhasil menghadang serbuan produk Marimas bentuk sachet dan JasJus dari Wingsfood. Malah, kini ia berinovasi mengubah kategori produk dan bentuk kemasan. Kini Hore tidak dalam bentuk serbuk minuman buah lagi, melainkan sebagai minuman berenergi dalam kemasan cup yang dinamai Hore Melek. Konon, produk ini mencapai sukses di pasar minuman berenergi.

Apa kiatnya? Nyaris tanpa teori, menurut saya, strategi Hore Melek sangat membumi. Dengan target menengah-bawah dan dengan positioning sangat sederhana, yaitu “bikin melek”, Nutrifood memanfaatkan nama “melek” yang tidak bisa dijadikan trade mark, karena kata itu adalah milik umum (public domain) sebagai diferensiasi.

Hore Melek masuk ke pasar dengan harga yang sangat favourable, Rp 800-1.000, tinggal minum saja. Bandingkan dengan Energy Drink lain, seperti Extra Joss, Hemaviton Jreng dan Kuku Bima Ener-G kemasan sachet yang masuk pasar dengan harga Rp 800-1.000, tetapi belum memakai air. Inilah keunggulan Hore Melek, sehingga konsumen belakangan ini lari kepadanya. Menurut sumber informasi, baru-baru ini Hore Melek pernah kehabisan barang karena permintaan yang melonjak tinggi.

Yang menarik dari Hore Melek adalah kemasannya. Meskipun pionir kemasan berbentuk cup pada kategori minuman energi siap minum (ready to drink) sebenarnya bukan Hore Melek, melainkan Prokasa — hanya dijual di Jabotabek tanpa iklan — karena Hore Melek diiklankan dan dipasarkan secara nasional, brand awareness-nya lebih tinggi ketimbang yang lain.

Saat ini kelihatannya produk-produk dengan kemasan botol dan sachet menyurut karena tren kemasan hampir semuanya ke arah cup siap minum. Sejarah kemasan sudah bergeser, dari tetrapack, ke sachet, lalu botol PET, dan sekarang beralih ke cup. Tren ini dimulai dari Frutang, yang merajai minuman rasa jeruk seharga Rp 700-1.000 yang mungkin memukul pasar Nutrisari (mother brand Hore), sehingga tim mereka mulai memikirkan kemasan berbentuk cup, sampai akhirnya keluarlah Hore Melek.

Bagaimana dengan tren kemasan cup pada produk kategori lain? Garudafood juga sudah menabuh genderang perang pada Teh Botol Sosro dengan produk siap minum Mountea bentuk cup seharga Rp 800-1.000. Menanggapi kenaikan harga bahan bakar minyak tahun lalu, Teh Botol Sosro menaikkan harga jual ritelnya dari Rp 19.200 menjadi Rp 24.000 per 24 botol (1 krat). Akibatnya, harga konsumen Teh Botol Sosro dari Rp 1.500/botol dalam kondisi dingin dengan margin gerai 87,5% berubah menjadi Rp 2.000/botol dan margin 100%. Terasa mahal di kantong konsumen kalangan bawah. Keadaan inilah yang menjadikan Mountea kemasan cup sukses di pasar.

Dengan daya beli masyarakat yang terpukul karena kenaikan harga BBM, tahun ini tampaknya akan menjadi tahun yang berat bagi produk yang telanjur “mahal”. Kita lihat saja, beberapa bulan berikut, apakah peta minuman berenergi dan teh botol berubah ke arah cup, seperti yang sudah dimulai Hore Melek ataupun Mountea? Kita tunggu, siapa yang akan banyak dicari!

Dilarang keras mengambil konten (tulisan, foto, infografis, video, dan sebagainya) yang dimuat di situs web ini, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk platform AI (artificial intelligence) dan platform digital lainnya, tanpa izin tertulis dari direksi yang berwenang di situs web ini.

# Tag