Economic Issues

Pemerintah Beri Kelonggaran Waktu Produsen Mobil Listrik Penuhi Syarat untuk Dapat Insentif

Barisan mobil listrik yang terparkir di garasi Universitas California, Irvine, menerima pengisian daya pada 26 Januari 2015. (Foto: Edison Labs/Reuters/Lucy Nicholson)
Barisan mobil listrik yang terparkir di garasi Universitas California, Irvine, menerima pengisian daya pada 26 Januari 2015. (Foto: Edison Labs/Reuters/Lucy Nicholson)

Pemerintah akan memberi waktu dua tahun lagi bagi para produsen mobil untuk memenuhi persyaratan agar mereka dapat menikmati insentif kendaraan listrik (electric vehicle/EV) di pasar mobil terbesar di Asia Tenggara. Gebrakan pemerintah tersebut berhasil memantik komitmen investasi dari sejumlah perusahaan, seperti Mitsubishi Motors dan produsen mobil listrik China Neta.

Langkah yang diumumkan dalam pameran mobil di Jakarta baru-baru ini mengemuka saat Indonesia bersaing dengan Thailand dan India dalam membangun industri kendaraan listrik sebagai alternatif China, produsen terbesar dunia.

Berdasarkan aturan investasi yang diumumkan pada Kamis (10/8), produsen mobil harus berkomitmen untuk memproduksi setidaknya 40 persen dari konten EV di Indonesia pada 2026 agar memenuhi syarat untuk mendapatkan insentif, dua tahun lebih lambat dari target awal. Batas 40 persen telah ditetapkan untuk mendorong produksi baterai lokal.

Menperin Agus mengatakan insentif yang berikan mulai dari Rp80 juta untuk pembelian mobil listrik, mobil listrik hybrid diberikan insentif Rp40 juta, dan motor listrik sebesar Rp8 juta.
Menperin Agus mengatakan insentif yang berikan mulai dari Rp80 juta untuk pembelian mobil listrik, mobil listrik hybrid diberikan insentif Rp40 juta, dan motor listrik sebesar Rp8 juta.

“Relaksasi persyaratan TKDN (Tingkat Komponen Dalam Negeri -red) untuk menarik investor,” kata Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita kepada wartawan di sela-sela pameran mobil baru-baru ini.

Indonesia adalah pasar otomotif terbesar di Asia Tenggara dan pusat produksi terbesar kedua setelah Thailand. Toyota, afiliasinya Daihatsu dan Honda menyumbang dua pertiga dari penjualan, tetapi lambat untuk beralih ke EV.

Pemerintah telah menetapkan target yang ambisius untuk memproduksi sekitar 600.000 EV pada 2030. Angka tersebut akan menjadi lebih dari 100 kali jumlah penjualan di Tanah Air pada paruh pertama 2023.

Indonesia sebelumnya mengatakan akan mengurangi bea masuk dari 50 persen menjadi nol bagi produsen EV yang merencanakan investasi. Insentif tersebut sebagai upaya pemerintah untuk membidik produsen EV China dan Tesla, perusahaan milik miliarder Elon Musk yang telah lama diincar.

“Kami memberikan insentif untuk semua produsen mobil global, bukan untuk nama tertentu saja,” kata Agus.

Kementerian Perindustrian mengatakan Mitsubishi Motors sudah memberikan komitmen investasi sekitar $375 juta atau sekitar Rp5,75 triliun untuk memperluas produksi, termasuk untuk mobil listrik Minicab-MiEV. Mitsubishi mengatakan produksi EV akan dimulai pada Desember.

Neta, merek EV dari Hozon New Energy Automobile China, mengatakan telah mulai menerima pesanan Neta V EV dan akan memulai produksi secara lokal pada 2024.

Hingga saat ini, baru dua pabrikan yang mengalihkan produksinya ke Indonesia dalam jumlah yang cukup untuk memenuhi syarat insentif penuh, yaitu Wuling dan Hyundai. Keduanya memiliki pabrik di luar Jakarta dan memimpin pasar penjualan EV.

Wuling menawarkan EV termurah yang ditawarkan di pasar di mana analis mengatakan keterjangkauan merupakan salah satu tantangan untuk adopsi yang lebih luas. Produsen mobil China berencana untuk mengumumkan versi yang lebih murah dari Air EV, mulai dari sekitar $13.200 atau sekitar Rp202,3 juta, menurut sumber Reuters.

Wuling tidak segera menanggapi permintaan komentar. [ah/ft]

Sumber: VoAIndonesia.com


© 2023-2024 SWA Media Inc.

All Right Reserved