Universitas Indonesia Kian Mantap Menjadi Entrepreneurial University
Tahun ini, lembaga pemeringkatan global Scimago Institutions Ranking kembali menempatkan Universitas Indonesia (UI) di posisi nomor 1 di Indonesia. Predikat tersebut disandang UI selama tiga tahun berturut-turut. Posisi yang sama juga diberikan oleh Edurank, yakni UI di ranking 1 dari 562 kampus di Indonesia (ranking 92 di Asia dari 5830 kampus). Begitu pula versi Times Higher Education (THE) World University Ranking, THE Impact Ranking, QS World University Ranking, semua menempatkan UI sebagai perguruan tinggi nomor 1 di tanah air pada tahun 2023 ini.
Untuk mempertahankan sesuatu yang sudah dimiliki, jauh lebih sulit daripada meraihnya. UI menyadari hal itu, sehingga perlu melakukan inovasi terus-menerus agar tetap berada di posisi teratas. Selain itu, berbagai aspek yang dijadikan penilaian oleh lembaga pemeringkatan harus selalu dicermati, antara lain seberapa baik reputasi perguruan tinggi di kalangan pengusaha. Kedua, apakah ia membina sivitas akademikanya yang berprestasi. Ketiga, seberapa terhubung dengan perusahaan. Terakhir, seberapa menarik lulusannya bagi pemberi kerja.

Semua pengakuan global itu tak membuat UI berpuas diri. Maklum, tantangan yang dihadapinya kian dinamis. “Ada tiga hal yang jadi tantangan utama,” ungkap Prof. Dr. Abdul Haris, Wakil Rektor Bidang Akademik dan Kemahasiswaan UI.
Tantangan pertama, menyiapkan SDM unggul, kompetitif, dan kompeten untuk mewujudkan Indonesia Maju 2045. Kedua, sebagai PT Negeri (PTN), UI wajib membuka akses pendidikan berkualitas serta merata. Ketiga, menjadi PT yang fleksibel dan adaptif di tengah era VUCA (volatility, uncertainty, complexity, ambiguity).
Untuk menjawab seluruh tantangan itu, UI pun menggelar sederet langkah strategis. Di antaranya, melakukan transformasi digital untuk meningkatkan konektivitas, fleksibilitas, dan kualitas pembelajaran berbasis daring (online). Tujuannya, sumber daya pembelajaran dapat diakses luas, sekaligus memungkinkan proses saling transfer pengetahuan dengan lembaga-lembaga akademik di dunia. Konkretnya, UI membuat Massive Open Online Course (MOOCS), Pre-University Program, dan Build Your Own Career.
Seluruh proses pembelajaran di UI, kata Haris, merupakan pembelajaran berbasis outcome (outcome-based education). Artinya, mengutamakan capaian pembelajaran dalam bentuk kompetensi, bukan hanya materi perkuliahan.
Universitas ini menyediakan wadah bagi mahasiswa untuk mengantongi pengalaman learning by doing melalui praktik lapangan dan pembelajaran di luar kampus. Untuk memfasilitasinya, UI aktif membangun jaringan kolaborasi dengan mitra dalam dan luar negeri ternama, seperti Bank Indonesia, Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Google, Microsoft, serta Huawei.
Selain akses untuk learning by doing, UI juga membuka akses gratis bagi mahasiswa untuk mengikuti kelas-kelas online yang disediakan mitra global, seperti Coursera dan LinkedIn. Lewat cara ini, mahasiswa bisa menikmati beragam mata kuliah yang ditawarkan universitas dan industri papan atas dunia sebagai bagian dari kegiatan Kurikulum Merdeka.
Di level internasional, UI juga meningkatkan visibility-nya di percaturan pendidikan global melalui global engagement, internasionalisasi, dan partisipasi civitas academica dalam berbagai konsorsium, kerjasama, serta kemitraan global. “Kami aktif mengirimkan mahasiswa, dosen, dan peneliti ke luar negeri, kemudian merekrut dan menyediakan beasiswa untuk mahasiswa internasional, serta memperbanyak partner university dari negara-negara maju untuk bersama-sama mengembangkan program joint degree dan double degree,” Haris menjelaskan.
Langkah yang paling penting dalam menjawab tiga tantangan di atas adalah upaya UI menjadi entrepreneurial university. EU adalah universitas yang memiliki jiwa, karakter, orientasi, serta pola pikir kewirausahaan di mana aktivitas yang dilakukan dalam melaksanakan fungsi Tridharma Perguruan Tinggi berorientasi pada inovasi, penciptaan nilai (value creation), dan dampak (impact) yang bermanfaat bagi seluruh masyarakat.
“UI telah bertransformasi dari semula traditional university, menjadi teaching university, kemudian research university, dan saat ini sedang menuju entrepreneurial university (EU),” ungkap Haris.
Bukan tanpa alasan UI mengarah menjadi EU. Menurut Haris, universitas yang memiliki daya saing di masa depan adalah entrepreneurial university yang mampu mengembangkan penemuan-penemuan (hasil riset) dari dalam kampus menjadi solusi riil untuk masalah yang dihadapi masyarakat.
Sebagai upaya dari transformasi tersebut, UI pun terus berbenah. Salah satunya, aktif menjalin kolaborasi triple-helix dengan melibatkan dunia usaha, pemerintah, dan akademisi agar seluruh pihak memperoleh manfaat optimal (simbiosis mutualisme) sekaligus meningkatkan dampak dari setiap pihak. Di sini, pemerintah menyediakan kerangka regulasi, akademisi menjadi wadah inkubasi ide dan perumusan masalah, sementara dunia usaha melakukan pembiayaan untuk mengembangkan invensi dan inovasi.

Keberadaan sebuah EU memang berkolerasi dengan Triple Helix Model yang menekankan pentingnya kolaborasi antara universitas, pemerintah, dan industri, untuk menumbuhkan competitiveness, economic growth, dan wealth creation. Dengan mengarah menjadi entrepreneurial university, UI diharapkan mampu mengambil peran strategis dalam berbagai aspek, termasuk kontribusi mentransfer hasil riset dan inovasinya ke dalam sistem ekonomi.
Contoh kecil yang dilakoni UI ialah saat menghadapi pandemi Covid-19. Selain menjadi mitra pemerintah dalam penyusunan kebijakan berbasis publik, UI juga berupaya memberikan keahliannya. Tim Ventilator UI mengembangkan Ventilator Transport Lokal Rendah Biaya Berbasis Sistem Pneumatik yang aman dan fungsional bernama COVENT.
Yang menarik, di luar langkah menuju entrepreneurial university, UI tak mengabaikan kewajibannya membuka akses pendidikan yang berkualitas dan merata. “Untuk bisa memenuhi amanat ini, kami akan menaikkan kapasitas, dari saat ini ada di angka 9.000 mahasiswa, nantinya secara bertahap mencapai 15.000 mahasiwa. Dengan demikian, kesempatan menjadi mahasiswa UI bertambah besar,” kata Haris.§