Trends

Ribuan Pekerja Industri Hasil Tembakau Jatim Terima BLT DBHCHT

Pandemi Covid-19 juga berdampak pada penurunan laju ekonomi dan sosial pada sektor tembakau, termasuk di sekitar daerah sentra tembakau. Padahal, serapan tenaga kerja oleh industri hasil tembakau dari hulu ke hilir, menjadi salah satu tumpuan ekonomi daerah.

Keberadaan industri rokok memang terasa dilematis. Pada satu sisi, rokok berdampak negatif bagi kesehatan perokok maupun orang-orang di sekelilingnya, namun di sisi di sisi lain, peminat rokok tidak pernah berkurang, sehingga industri rokok terus berkembang. Industri rokok juga menjadi penyumbang pendapatan negara, melalui cukainya.

Menyikapi dampak kondisi ekonomi pekerja tembakau, maka diterbitkan kebijakan Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau (DBHCHT). Ini adalah bagian dari dana yang diberikan provinsi kepada daerah penghasil cukai dan/atau tembakau. Ini terkait PMK RI Nomor 215/PMK.07/2021 tanggal 31 Desember 2021, Nomenklatur penganggaran DBHCHT pada bidang Kesejahteraan Masyarakat, Program Pembinaan Lingkungan Sosial, dengan kegiatan pemberian bantuan Langsung Tunai (BLT) pada buruh petani tembakau dan/atau buruh pabrik rokok.

Para pekerja PT HM Sampoerna Tbk juga menjadi penerima Bantuan Langsung Tunai (BLT) Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau. Salah satunya Eni Susila (49), seorang pelinting sigaret kretek tangan (SKT) di Surabaya.“Langsung saya pakai untuk pengembangan bisnis makanan,” katanya.

Selama tiga tahun terakhir ini, Eni mempersiapkan diri untuk menyambut masa pensiun dengan menjadi pelaku wirausaha. Tempatnya bekerja, Sampoerna, juga menyediakan pelatihan kewirausahaan dan literasi keuangan untuk persiapan purna tugas. Tujuannya, agar tetap berdaya dan memiliki sumber penghasilan alternatif saat memasuki masa pensiun. Perempuan berkacamata itu ingin tetap produktif dan bisa terus membantu perekonomian keluarganya.

Eni merasa senang menjadi bagian dari perempuan tangguh yang sudah hampir 30 tahun bekerja di sektor Industri Hasil Tembakau (IHT). Selain memiliki kemampuan untuk melinting, dia dan beberapa temannya juga diajari untuk merintis usaha. Dia pun mengawali dengan membuat keripik. “Semangatnya biar dapur tetap mengepul, jadi kami ingin terus produktif,” sambungnya.

Sutiah, 48, pekerja di Sampoerna lainnya yang juga menerima BLT mengaku senang dengan adanya BLT DBHCHT yang bisa dipakai untuk modal usaha. Berapa pun rezeki yang masuk, ia ingin menjadikannya sebagai tambahan semangat dalam membangun usaha kecilnya, minuman herbal. Perempuan tiga anak ini senang dengan iklim pertemanan serta semangat kerja di IHT. Selama beberapa tahun terakhir ini, ia rutin untuk mendapatkan tambahan skill dalam merintis usahanya. “Kami diajari cara berproduksi, harus stabil. Ada juga tentang pengemasan yang bagus, serta pemasaran yang baik,” katanya.

Dia dan ribuan pekerja di sektor IHT telah menerima BLT. Tambahan bantuan itu ingin dimanfaatkan untuk mengembangkan usaha. Untuk bisa memperkuat produk dan pangsa pasar yang akan terus digarap. Dirinya yakin dengan semangat yang kuat, maka ruang untuk bisa berkembang semakin terbuka lebar. “Ibu-ibu itu ulet. Kami saja kalau punya uang Rp100 ribu di dompet bisa dipakai untuk macam-macam peluang. Ini Alhamdulillah dapat Rp1,5 juta dari Gubernur Jatim lewat BLT. Jadi bisa saya maksimalkan untuk usaha,” ucapnya.

Sebagai informasi, BLT yang akan disalurkan Pemerintah Provinsi Jawa Timur memiliki total sasaran 9.259 orang, tersebar di 54 perusahaan yang berasal dari 38 kabupaten/kota di Jatim. Untuk jumlah anggaran yang dikeluarkan oleh Pemprov Jatim sendiri mencapai Rp13,9 miliar. Rincian penerima BLT DBHCHT di Bakorwil Pamekasan dan Surabaya sebanyak 5.030 orang. Untuk sisanya ada di Madiun sejumlah 1.864 orang, Bojonegoro ada 1.502 orang, Malang ada 859 orang dan Jember ada 3 orang.

Swa.co.id


© 2023-2024 SWA Media Inc.

All Right Reserved