Marketing Trends

Siasat Menekan Dominasi Produk China di Indonesia

Dalam 5 tahun terakhir, Indonesia menjadi tujuan utama pasar produk China. Harga yang miring membuat konsumen Indonesia yang cenderung tergiur untuk membelinya, alhasil produk-produknya membanjiri pasar kita . Sebagai contoh untuk produk skincare. Berdasarkan data dari marketplace yang telah diolah, produk skincare asal Negeri Tirai Bambu itu berhasil membalikkan keadaan dalam kurun dua tahun saja.

Pada 2020, pangsa pasar produk skincare Cina di Indonesia hanya 5,7% saja. Namun pada 2022, penguasaan pasarnya meroket hingga 57,2%, mengalahkan skincare buatan lokal. Content Creator dan Pendiri Sevenpreneur Raymond Chin menggagas Revolusi Lokal, sebuah gerakan yang mengajak masyarakat untuk membeli dan menjadi konsumen produk lokal, baik di pasar domestik maupun global.

Bertepatan dengan Hari Pelanggan Nasional yang jatuh pada tanggal 4 September, gerakan Revolusi Lokal ini sendiri muncul dari kekhawatiran Raymond terhadap kondisi pasar Indonesia saat ini yang didominasi oleh produk dan perusahaan asal Cina, yang terus tumbuh dalam beberapa tahun terakhir.

“Ini penjajahan era modern dan kita lagi di posisi yang kalah telak,” ujar Raymond. Menurutnya sektor industri lainnya, beberapa merek kenamaan seperti Oppo, Vivo, Xiaomi, Aice, Mobile Legends Bang Bang, Mixue, TikTok, Shopee, dan The Originote, selalu berada di daftar teratas kategori produk mereka masing-masing.

Sebagai generasi muda, Raymond mencoba menunjukkan kontribusinya pada negara. Dari sudut pandangnya sebagai seorang pengusaha, ia mencoba menganalisis bagaimana Tiongkok dapat mengalami kemajuan seperti ini. Secara garis besar, Raymond menyebut bahwa Cina fokus untuk mengembangkan tiga aspek yang sangat penting bagi masa depan, yakni infrastruktur, teknologi, dan edukasi.

Dengan demikian, investasi dari negara asing membanjiri Cina. Itu berarti, masyarakat setempat akan mendapatkan penghasilan dan pengetahuan, yang secara tidak langsung akan meningkatkan taraf hidup masyarakatnya. Negara pun mendapatkan pemasukan dari pajak dan digunakan untuk memperkuat infrastruktur.

Kemudian dari sisi edukasi, pemerintah Cina tidak tanggung untuk memberikan upah yang sangat besar bagi para pengajar hingga puluhan juta rupiah per bulannya. Ironisnya, hal ini sangat terbalik dengan gaji guru di Indonesia yang masih jauh dari ambang sejahtera. Ringkasnya, infrastuktur yang kuat dengan SDM yang tinggi membuat Cina tidak kehabisan inovasi dalam hal teknologi yang diproyeksikan bakal menjadi investasi paling mahal di masa depan.

Oleh karena itu, Raymond mengajak seluruh lapisan masyarakat untuk terlibat dalam Revolusi Lokal yang secara garis besar melibatkan masyarakat Indonesia, dari hulu ke hilir. Dari sisi consumer, Raymond bukan mendorong masyarakat lebih memilih atau meningkatkan porsi konsumsi untuk merek lokal. “Pahami bahwa harga barang brand lokal yang lebih mahal, produknya tiba lebih lama adalah imbas dari kendala yang masih dialami para produsen seperti supply chain dalam negeri yang masih terbatas dan manufacture proses yang belum canggih,” tambahnya.

Menurut Raymond, Pemerintah Indonesia perlu menerapkan regulasi yang lebih ketat terhadap akses masuk merek asing, sembari mendukung brand lokal untuk naik level. Dukungan yang diberikan bisa melalui pendanaan, pembinaan, dukungan pada UMKM, dan membuat program-program lainnya untuk kemajuan bisnis lokal.

Revolusi Lokal juga memerlukan kontribusi dari pihak swasta untuk mendukung para pemain-pemain di skala menengah dan besar agar bisa naik level dan bersaing di skala global. Tak sekadar berbagi pendapat, ke depannya Raymond juga akan secara aktif membuka diskusi dengan pelaku bisnis, jajaran pemerintah, dan pihak-pihak terkait untuk menjalankan gerakan Revolusi Lokal, seperti yang dituangkan dalam channel YouTube miliknya.

Editor : Eva Martha Rahayu

Swa.co.id


© 2023-2024 SWA Media Inc.

All Right Reserved