Kiprah Danang Membesarkan Sae Wooden dari Jepara

Danang Wahyudi, Pendiri Sae Wooden (Foto: Dok. Pribadi)

Banyak jenama yang membuat barang-barang unik dan menarik untuk diberikan sebagai hadiah atau cinderamata. Salah satunya Sae Wooden, brand lokal asal Jepara yang bergerak di bidang kriya dari kayu. Produknya fungsional, aman bagi kesehatan serta ramah lingkungan. Pemilihan nama ‘sae’ dalam Bahasa Jawa yang mempunyai arti bagus. Sae Wooden berdiri sejak empat tahun lalu.

Sae juga ingin memberikan manfaat baik terhadap lingkungan dengan menghasilkan produk-produk yang lebih ramah lingkungan. Setiap produk yang dihasilkan dibuat dengan hati-hati serta memperhatikan pada setiap detailnya.

Kayu yang digunakan sebagai bahan produksi berasal dari hutan yang dikelola secara lestari di Indonesia oleh Perhutani. Selain untuk memastikan kualitasnya, juga untuk memastikan penghijauan di Indonesia. Adapun produk kriya yang dihasilkan dipastikan berasal dari tangan-tangan terampil perajin lokal yang sangat berpengalaman dalam hal ukiran kayu. Bukan hanya itu, kayu yang digunakan juga memiliki kualitas tinggi berasal dari kayu jati dan mahoni.

Danang Wahyudi adalah sosok di balik jenama Sae Wooden. Sebelum memulai bisnis sendiri, dia mempunyai pengalaman selama tujuh tahun di bidang hostipitality. “Saya dulu kerja di Jakarta dengan posisi di Departemen Procurement atau pengadaan barang. Sekitar 4 tahun di posisi manajerial. Jadi saya banyak bertemu klien, kami belajar untuk negosiasi, hubungan bisnis, kemampuan untuk mengadakan barang dengan seefisien mungkin, biaya pengadaannya, kemudian sebaik mungkin kualitasnya, dan harga kompetitif. Jadi itu ternyata bisa menjadi sebuah fondasi saya dalam membangun Sae Wooden,” ujar Danang pada SWA Online beberapa waktu lalu.

Perjalanan membangun bisnis merchandise penuh dengan lika-liku. Dia bercerita bisnisnya dibangun karena memutuskan untuk pulang karena ingin merawat orang tua yang sedang sakit di Jepara dan mencoba menggali potensi pasar di Jepara seperti apa dengan modal sendiri dan 2 orang temannya sebesar Rp 10 juta.

“Pertama kali jualan kayu batangan, tetapi itu tidak berjalan dengan lancar, saya bisa dibilang bangkrut. Lantas, saya memutuskan beralih profesi. Pada saat itu saya sempat juga jualan angkringan pinggir jalan itu, sembari cari ide apa sih yang bisa dikembangkan di Jepara ini. Akhirnya sampai ketemu dengan Sae Wooden ini. Jadi saya berpikir, Jepara terlalu kuat image sebagai penghasil industri furniture. Akhirnya saya mencoba, dan di sini jarang sekali menemukan perajin maupun pelaku bisnis yang melirik bisnis kriya kayu. Jadi rata-rata itu orientasinya adalah ekspor, mebel, dan jualan kayu,” ujar pria kelahiran 19 Mei 1989.

Kriya kayu yang pertama dibuat berupa alat-alat makan. Awalnya dipasarkan dengan kolega yang dikenalnya pada saat bekerja di hotel. Namun, tidak ada yang memberikan kesempatan untuk supply kebutuhan food and drink. Tak berhenti sampai situ, Danang pun merambah pasar online. “Saya coba belajar secara otodidak, selama 3 bulan itu ketemulah masa pandemi. Dan ternyata di saat pandemi ini, animo orang untuk belanja online kan sangat besar. Di situ ternyata yang akhirnya membuat jaringan pemasaran saya semakin luas dan pelanggan saya juga semakin luas,” ungkapnya.

Bulan Agustus 2020, Danang dihubungi oleh Sekretaris Duta Besar Uni Eropa untuk Indonesia dan Brunei Darussalam yang memiliki kebutuhan merchandise ramah lingkungan. Saat itu saya diberikan kesempatan untuk mengikuti kurasi produk hingga kurasi legalitas, dan akhirnya dinyatakan lolos,” terang Danang.

Danang mengaku belum punya pengalaman untuk bermain di corporate campus, belum mempunyai gambaran tentang packaging atau kebutuhan dari klien-klien corporat. Tantanganya jika ada pemesan untuk event besar, dia harus bisa memproduksi sebelum hari H event. Selain itu, untuk proses kurasinya juga memakan waktu yang cukup lama. Waktu produksi memakan waktu dua minggu. “Kami bisa memproduksi rata-rata 1.500-2.000 produk per bulan, tergantung produknya,” terang pria lulusan S1-Teknik Informatika, ini.

Dari tantangan itu, Danang membuka peluang untuk besinergi dengan para perajin lokal lain di luar in-house production. Pihaknya juga melakukan kurasi kualitas ke beberapa perajin yang dinilai mampu membuat produk berkualitas. Sejauh ini, jumlah karyawan inti yang dimiliki 11 orang, pengrajin in-house 11 orang dan sejumlah perajin luar.

Produk Sae Wooden tidak 100% kayu, tapi dikombinasikan dengan material lain, ada yang stainless, alumunium dan fabric. Dia juga menerima permintaan di luar kayu, mulai dari fabrik, kulit, tenun dan masih banyak lagi. Kriya yang dihasilkan dari jenama tersebut seperti tumbler, cangkir, alat makan dan minum serta office supplies. Produk office supplies yang dihasilkan seperti jam dinding, jam meja, notebook dan jam kalender yang diberi nama Amrata Paripurna. “Jam Amrata Paripurna merupakan salah satu permintaan khusus dari klien Uni Eropa. Kami kalibrasi penanggalannya agar dapat dipakai seumur hidup,” terangnya.

Keunggulan dari produk ini tidak memakai bahan kimia, jadi konsumen bisa merasakan serat-serat kayunya. Warnanya alami, tidak berkillau dan aromanya juga kayu asli. Alhasil, produknya bisa dicintai konsumen. Cara perawatannya tidak disarankan untuk disimpan di tempat yang lembab. Jika ingin memesan, calon pelanggan bisa memesannya dua hingga tiga bulan sebelum hari H acara. Pelanggan bisa mendesain sendiri maupun memilih desain yang sudah tersedia. “Range harga ritel produk mulai dari Rp55.000 sampai dengan Rp750.000. Tapi kalau untuk corporate hampers, bervariasi dan range jauh sekali. Sementara untuk corporate hampers Rp100.000- 2.000.000 tergantung permintaan korporasi,” Danang menjelaskan.

Perjalanannya membangun Sae Wooden membuahkan hasil, tercatat sudah ada 162 korporasi tersebar di seluruh Indonesia yang percaya dengan produk yang dibuatnya. Konsumennya di dominasi berada di Jabodetabek, Surabaya, dan Bali. Selain itu, ada juga permintaan khusus dari Kementerian Lingkungan Hidup asal Jerman dan Belgia yang memesan. Sae Wooden juga telah menggarap merchandise untuk acara internasional seperti G20 dan KTT ASEAN 2023.

Harapan ke depannya, dia ingin mengombinasikan produknya dengan fabric dan daun pandan.”Saya ingin menciptakan produk-produk yang bisa dikombinasikan di luar non kayu seperti anyaman daun pandan dengan konsep yang sama tanpa bahan pewarna kimia dan targetnya saya itu ini bisa menjadi jembatan saya untuk masuk ke pasar ekspor. Tahun ini kami harapkan bisa achieve 200 corporate client,” ungkapnya.

Kepada generasi muda yang ingin terjun ke bisnis, Danang berpesan,” Jika memulai bisnis sendiri, bermainlah pada tujuan awal membuat bisnis. Jangan pernah dengan cara membanting harga secara besar. Semua itu ada pasarnya. Fokuslah pada apa yang diberi, bukan apa yang bisa diambil.”

Editor : Eva Martha Rahayu

Swa.co.id

Dilarang keras mengambil konten (tulisan, foto, infografis, video, dan sebagainya) yang dimuat di situs web ini, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk platform AI (artificial intelligence) dan platform digital lainnya, tanpa izin tertulis dari direksi yang berwenang di situs web ini.

# Tag